Dan... jika Indonesia membantah sendiri kesepakatannya
mengenai keragaman, itu sama artinya membubarkan diri
secara perlahan-lahan. Dan, jika bubar, maka keindahan
 sebuah kebersamaan hanya akan menjadi kenangan.

Dengan situasi kita sekarang ini, di mana ada satu
bahasa yang mengikat dua ratus juta orang, terjadi
pertemuan kultur yang maha hebat, dinamika suatu
nasion, dan lebih dari itu terjadi suatu perapatan dan
pengukuhan sistem ekonomi yang hebat. Di Malaysia
sendiri, seorang artis top tidak akan mungkin meraup
kemewahan seketika seperti pemain-pemain sinetron
Intan. Kenapa? Di sana pemirsanya cuma segelintir, dan
 pemasang iklannya juga segelintir. Nah, jika
Indonesia pecah berkeping-keping karena petinggi mulai
menafikan keberagaman yang justru membuat mereka hebat
di atas sama, maka di sejumlah negara kecil itu akan
digunakan  bahasa sendiri. Karena sinetronnya tidak
meraup iklan, maka artis-artisnyapun dibayar murah
sehingga miskin-miskin. Karena miskin seperti artis
Khazastan, maka untuk melihat dunia akhirnya cuma bisa
jual diri. Yang lainnya artis yang ketinggalan zaman,
karena tidak punya modal untuk mengembangkan diri.
Bahkan mungkin tidak semudah sekarang ini bilamana
berniat naik haji.

Jadi, jika ada yang masih tidak paham kekuatan
pluralitas kita, yang justru membuat kita dapat
menjadi seperti sekarang ini, mestinya belajar ilmu
sosial dengan cermat, dan jangan cuma menengok jauh ke
suatu pola kendali sosial yang sudah kedaluarsa, dan
ditinggalkan. 

Globalisasi tidak hanya memberikan kemudahan untuk
bepergian ke berbagai pelosok dunia, atau menonton
siaran apa saja, tetapi juga memungkinkan si bodoh
dikerjai/dibom/diobok-obok/dijadikan kepingan-kepingan
oleh si pintar-pintar. si pintar akan berjaya dengan
kepintarannya. Lebih-lebih jika yang dikerjai itu
gagap teknologi.

Saya pernah diceritai seseorang yang mengatakan bahwa
negara-negara majulah yang membuat Tsunami, dan
karenanya mereka bersedia membayar banyak di Aceh.
Saya terpaksa menghardik si orang itu dengan
mengatakan: " Bangun! Bangun! Bangun!, jangan
ngigau...





     
--- Batul <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Ravi Zacharias: Pluralitas di Indonesia Merupakan
> Kekuatan Kehidupan Berbangsa
> 
> [TANGERANG] Bangsa Indonesia harus menghargai dan
> menghormati
> pluralitas. Hal ini penting, karena pluralitas
> merupakan anugerah dan
> menjadi modal kekuatan dalam kehidupan berbangsa.
> 
> "Pluralitas adalah sebuah realitas. Indonesia harus
> menghormati
> keragaman etnis, pandangan, agama, dan keyakinan.
> Ini adalah anugerah
> Tuhan sekaligus sebagai kekuatan bangsa," kata
> pendeta Ravi Zacharias,
> saat berbincang dengan SP, seusai seminar "What
> Gives Life Meaning",
> di Universitas Pelita Harapan (UPH), Tangerang,
> Banten, Senin (4/6).
> Pendeta Ravi merupakan Presiden dari Ravi Zacharias
> International
> Ministries.
> 
> Dia juga terkenal sebagai dosen terbang dan
> berbicara mengenai
> filosofi keagamaan di berbagai negara. Ravi
> menerangkan, dalam
> pluralitas ada kebebasan hakiki.
> 
> Karena itu, sikap saling menghargai dan menghormati
> kebebasan
> antarpemeluk agama yang beragam merupakan suatu
> keharusan. "Karena
> pluralitas merupakan anugerah, kita tidak boleh
> memaksakan atau
> intervensi keyakinan kita kepada orang lain yang
> berbeda keyakinan,"
> katanya.
> 
> Ravi menuturkan, untuk memperkuat bangsa dalam
> keberagaman, maka perlu
> dibuka ruang- ruang dialog antaragama dan keyakinan.
> "Saya pernah
> berdialog dengan Gus Dur. Beliau adalah tokoh Islam
> yang sangat
> menghormati keberagaman. Sikap dan pandangan Beliau
> dalam menerima
> perbedaan tanpa menghakimi patut ditiru. Itulah
> kekuatan bangsa
> Indonesia," katanya.
> 
> Dijelaskan, toleransi di Indonesia sebenarnya sudah
> sangat baik karena
> kesadaran bangsa ini akan pluralitas. Unity in
> diversity harus terus
> dipupuk. Dengan demikian, bangsa Indonesia tidak
> terpuruk.
> 
> Disinggung bagaimana melakukan dialog antarpemeluk
> agama dan
> keyakinan, Ravi mengatakan, dalam berdialog tidak
> perlu memperdebatkan
> sesuatu yang berbeda.
> 
> "Justru dalam dialog itu kita menggunakan komunikasi
> jujur. Artinya,
> jangan mempersoalkan keyakinan orang lain. Namun,
> justru kita harus
> menghormati keyakinan mereka. Karena, Allah adalah
> milik semua orang,"
> ucapnya.
> 
> Dikemukakan, toleransi dalam keberagaman bisa
> dilihat dalam cara
> memandang sesama umat manusia. Melihat persamaan
> kebenaran di dalam
> ajaran agama, karena memang agama memiliki banyak
> persamaan kebenaran.
> Inilah dasar utama untuk saling hormat-menghormati.
> Kemudian, melihat
> perbedaan sebagai suatu kekayaan dalam kehidupan
> spiritual beragama.
> 
> Kesejahteraan
> 
> Dia mengatakan, salah satu faktor yang harus
> dibenahi oleh bangsa
> Indonesia adalah kesejahteraan. "Ini penting, karena
> kesejahteraan
> terkait erat dengan keadilan," katanya.
> 
> Dia menambahkan, pesatnya perkembangan informasi dan
> teknologi juga
> mempengaruhi perkembangan iman kaum muda. "Tidak
> salah memang
> perkembangan teknologi dan informasi namun ada
> dampak negatif bagi
> kaum muda. Iman mereka bisa meluntur," katanya.
> 
> Ravi mencontohkan, banyaknya kasus bunuh diri atau
> pembunuhan yang
> marak di kalangan anak muda. Misalnya, yang baru
> saja terjadi di AS.
> "Pada akhirnya, mahasiswa yang melakukan pembunuhan
> ternyata mengalami
> kekosongan iman," katanya.
> 
> Karena itu, lanjut Ravi, kaum muda perlu
> diberdayakan dalam berbagai
> kegiatan yang positif, termasuk keagamaan, agar
> tidak mudah gamang.
> "Pesatnya perkembangan teknologi dan informasi tanpa
> ada filter yang
> kuat mempengaruhi berbagai perkembangan anak-anak
> muda," katanya
> mengingatkan. [W-12]
> 



 
____________________________________________________________________________________
We won't tell. Get more on shows you hate to love 
(and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list.
http://tv.yahoo.com/collections/265 

Kirim email ke