Sangat setuju dengan pendapat pak paulus.
Tentara juga manusia, tentara juga rakyat Indonesia yang hanya menjalankan 
pekerjaannnya untuk memberi makan dan menghidupi keluarganya.
Bagai makan buah simalakama, tidak menjalankan tugas di pecat & keluarga mati 
karena kelaparan TAPI jika menjalankan tugas malah di lemparin batu & masuk 
penjara karena dianggap semena-mena terhadap sesama rakyat.

Salam damai

Deasy


----- Original Message ----
From: Paulus Tanuri <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Friday, June 8, 2007 10:56:00 AM
Subject: Re: [mediacare] Ruhut Sitompul: Nyawa Marinir Terancam

Terimakasih untuk tambahannya Sdr. Peppita.
Buat mas Indra, kasus2 seperti yang disebut di bawah inilah yang saya 
maksudkan. Dan celakanya lagi, kasus seperti ini bukan terjadi satu atau dua 
kali saja. Di jakarta dan sekitarnya pun sangat banyak kasus begini, dan 
melibatkan etnis tersebut. Contoh, di tanah abang jakarta. Etnis pendatang ini 
banyak mengontrak rumah penduduk betawi asli di daerah tanah abang. Dan setelah 
waktu kontrak habis, mereka tidak mau pergi meninggalkan rumah tersebut, dan 
mengklaim mereka sudah membayar atau membeli rumah tersebut. 
Awalnya masih belum menjadi kasus, karena baru satu atau dua pemilik rumah yang 
mengalaminya. Tapi akhirnya karena semakin lama semakin menjadi, maka pecahlah 
peperangan di daerah tanah abang, antara masyarakat asli yang memiliki rumah, 
dengan etnis pendatang tersebut yang tidak mau pergi dari rumah yang mereka 
tempati. 
Untuk mengingatkan rekan2 semua, kejadian ini belum lewat 5 tahun yang lalu.

Di daerah bekasi, juga sama. Pendatang dari etnis ini mengontrak rumah, 
kebetulan milik pak Haji yang masyarakat betawi. Tapi setelah masa kontrak 
habis, mereka tidak mau pergi dari rumah, dan juga tidak mau bayar, karena 
merasa rumah itu miliknya. Setiap pak Haji ini datang, selalu disambut dengan 
ancamam celurit dan mengajak duel carok. 
Akhirnya karena tidak tahan, terakhir diancam dengan celurit, si pak Haji ini 
menyambar golok di pinggangnya dan membunuh si penyewa tak tahu diri itu saat 
itu juga. Kasus ini ada masuk di televisi belum ada 2 tahun yang lalu. Pak haji 
ini saat ini mendekam di penjara karena pembunuhan tersebut. 

Saya ambil contoh 2 kasus di atas yang bisa di cek kebenarannya oleh rekan2 
media di jakarta. Di daerah lain masih banyak kasus sejenis yang melibatkan 
masyarakat dari etnis tersebut.

Mohon dimengerti, saya bukan mau membela tentara yang menembak masyarakat 
dengan membabi buta. Tapi hanya mau kita menggali lebih dalam lagi mengenai 
masalah ini. Walaupun tentara membawa bedil, tapi kalau kena dibacok ya mati 
juga pak. Sama-sama manusia kok. Dan sama-sama punya insting untuk 
mempertahankan diri. 


Salam
Paulus T.


On 6/7/07, Peppita Poerwowidagdo <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
Terkait 'pertanahan' , saya menyumbang satu contoh, dikemukakan oleh seorang 
teman ketika kerusuhan di Kalimantan sedang hangat2nya.
Kakaknya, yg ditugaskan ke pulau B (sekitar Sumatra), pindah membawa sekeluarga 
pembantu dari etnis tertentu (yg dimaksud Pak Paulus). Selama di pulau B, kakak 
teman sanggup membeli tanah yang cukup luas untuk diolah. Saat harus kembali ke 
Jawa, tanah tersebut dititipkan pada pembantunya unt diawasi. Tahun pertama 
lancar, tapi berikutnya nyaris tak terdengar beritanya. Ketika akhirnya sang 
kakak mencek ke pulau B, tanah tersebut dipenuhi sanak saudara & tetangga 
pembantu, yg mengklaim tanah tersebut sebagai milik mereka (dan tidak mau pergi 
sekalipun sertifikat asli milik kakak telah ditunjukkan) . 
Untung kakak ini orang yg supel semasa dinas di pulau B sehingga banyak kenalan 
pejabat. Entah bagaimana dan berapa lama, pada intinya setelah berjuang mati2an 
akhirnya tanah tersebut dapat kembali menjadi milik sang kakak sepenuhnya dan 
para 'penunggu' dapat 'diusir'...
 
Perkara nekad, di Jawa Pos beberapa tahun lalu pernah diberitakan tentang nasib 
malang beberapa anggota polisi, yang ketika mengejar buronan ke pulaunya, mati 
tercacah! Ini benar2 terjadi, karena rupanya si buron berteriak dalam bahasanya 
kalo ada yg mengejar dia sehingga tanpa ba-bi-bu masyarakat menclurit para 
polisi. Polisi tersebut mati mengenaskan (saya lupa apa ada yg selamat atau 
tidak), tanpa ada secuil LSM HAM apapun yg mempedulikan kematian mereka, 
apalagi nasib keluarganya. 
Diberitakan pula bahwa kesalahan taktik polisi adalah tidak kulonuwun pada 
pemimpin spiritual masyarakat tsb unt meminta bantuan menangkap buronan yg 
dimaksud, sehingga mengakibatkan kesalahpahaman.
Ketika kepolisian mulai memerikas perkara tsb, banyak pria menghilang melarikan 
diri, namun himbauan selalu diberikan oleh 'pejabat' setempat agar polisi 
senantiasa 'menjaga' sikap mereka. Bayangkan, sudah anggota mati mengenaskan, 
'kesalahan' seolah senantiasa di tangan aparat...
 
Mohon maaf, saya jadi ingin mendengar kisah Panglima Burung.
 
Salam damai.






       
____________________________________________________________________________________
Pinpoint customers who are looking for what you sell. 
http://searchmarketing.yahoo.com/

Kirim email ke