Owe setuju sama ini penulis. Belalti yg salah itu olang-olangnya. 
Bukan agamanya. Kalena agamanya sudah ngajalkan yang baik-baik, tapi 
olang-olangnya kagak mau baik. Haiya ... ntal tak panggilkan malinil 
dali sulabaya bial ditembak dol-dol-dol

--- In [email protected], "Sunny" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya kira orang  boleh saja berdoa pakai kata-kata, berteriak, 
menyanyi atau berdiam diri membisu sejenak atau berjam-jam. Malah 
kalau mau sehari, seminggu suntuk pun boleh. Silahkan berdoa sesuai 
keyakinan masing-masing. Silahkan berdoa kepada  Allah, silahkan 
berdoa kepada pohon beringin, arwah nenek moyang, gunung merapi,  
langit biru, langit penuh debu gurun pasir atau langit penuh asap 
pabrik etc.  Silahkan berdoa  seperti kambing mengembik untuk 
mendapat ilham dan kekuatan untuk  berbuat baik kepada sesama mahluk 
adalah sangat baik dan berguna, tetapi kalau setelah berdoa lantas 
kebiasaan buruk diulangi lagi, itu bukan berdoa tetapi bandit 
bermohon kepada bossnya untuk mendapat instruksi baru.
> 
> Yang hebat ialah para petinggi Indonesia baik sipil maupun militer 
mereka bukan saja banyak berdoa, tetapi rajin berdoa dan rajin pula  
melakukan segala ritual agama, rajin tiap hari ibadah muncul ditengah-
tengah umat. Bukan itu saja, tetapi  juga pergi melakukan ibadah 
suci, setelah kembali bukan menjadi orang suci bebas dari 
perikelakuan buruk, tetapi kebiasaan lama tetap dilakukan seperti 
biasa. Jadi unsur agama untuk berbuat baik dan jujur itu tidak ada, 
agama dipakai sebagai alat mempopulerkan dirinya sendiri guna 
memiskinkan negara dan rakyat.


Kirim email ke