Apa yang sesungguhnya terjadi dalam demo dan kontra demo yang marak pada
Mei lalu di Turki ?. 

Yakni, demo besar-besaran kaum hard-die sekularis menentang kemungkinan
pencalonan PM Turki, Teyyep Recep Erdogan, yang kemudian menarik diri.
Pencalonan Menlu Turki, Abdullah Gul, sebagai kandidat Presiden Turki
juga ditentang golongan sekuler. 

Kaum sekularis Turki yang didukung militer itu, khawatir kedua tokoh
yang mereka anggap sebagai Islamis itu, jika terpilih sebagai presiden
akan segera mengubah Turki menjadi negara Islam. Partai Pembangunan dan
Keadilan (AK) yang berkuasa sekarang di bawah kepemimpinan Erdogan,
mereka pandang memiliki agenda tersembunyi ; yakni, mengubah Turki dari
sekuler Kemalis menjadi negara Islam.

Meski kedua pejabat dan tokoh Turki itu membantah tuduhan kaum
sekularis, namun pihak terakhir ini punya 'bukti' bahwa mereka mempunyai
agenda untuk menjadikan Turki sebagai negara Islam. 

Pertama, dua putri Erdogan yang diterima di salah satu universitas Turki
menolak mencopot jilbab, sebagai syarat untuk bisa diterima di
universitas Turki tersebut, karena jilbab tidak boleh dikenakan di
lembaga-lembaga pendidikan dan di institusi resmi lainnya. Sebaliknya,
kedua putri Erdogan tersebut masuk ke Universitas Indiana, Amerika
Serikat, yang mengizinkan dan tidak mempersoalkan apakah mahasiswinya
mau memakai atau tidak memakai jilbab.

Bukti kedua masih soal jilbab. Istri Menlu Abdullah Gul, Hayrunnisa Gul,
juga mengenakan jilbab. Hairunnisa menolak anggapan pemakaian jilbab
sebagai tanda ingin mendirikan negara Islam ; bagi dia, mengenakan
jilbab lebih nyaman daripada tidak memakainya. 

Sang suami, Menlu Abdullah Gul sepakat. Kepada Fareed Zakaria (Newsweek,
21 Mei, 2007), Abdullah Gul menyatakan, "Saya tidak berniat mengajak,
apalagi memaksa perempuan memakai jilbab. Itu adalah masalah pilihan
pribadi. Bahkan, tidak seluruh perempuan dalam keluarga saya mengenakan
jilbab. Jika saya tidak meminta seluruh anggota perempuan dalam keluarga
saya memakai jilbab, kenapa saya harus mengajak perempuan-perempuan
lain".

Kaum sekularis, bahkan mempersoalkan juga seorang kepala sekolah yang
mengizinkan muridnya membaca Alquran dengan nada lagu yang indah. Dan
juga ketika sebagian masyarakat Turki merayakan maulid Nabi Muhammad. 

Melihat kasus Turki dengan jilbab yang menghebohkan itu, tidak bisa
lain, kaum sekularis terhinggapi paranoia anti-Islam dengan segala
simbolismenya. 

Bagi kolumnis Fareed Zakaria, sikap kaum sekularis itu sangat
berlebihan, dan bahkan dapat mengancam demokrasi di Turki ; yakni jika
militer turun tangan melakukan kudeta yang telah lima kali dalam lima
dasawarsa menjatuhkan pemerintahan yang dipilih melalui sistem
demokrasi. Bagi Partai AK sendiri, Islam kompatibel dengan demokrasi;
dan sepanjang pemerintahan PM Teyyep Recep Erdogan lima tahun terakhir,
menurut Zakaria, telah terjadi quiet revolution, revolusi damai Turki
menuju demokrasi yang genuine.

Kenapa golongan sekularis begitu alergi terhadap jilbab dan
simbol-simbol keislaman lainnya ?.

Kenyataan ini berkaitan banyak dengan watak sekularisme Turki yang sejak
masa Turki Muda dan Kemal Ataturk hampir sepenuhnya berdasarkan model
sekularisme Prancis, laicite, yang tidak bersahabat dengan agama, jika
tidak anti agama. Bagi saya, sekularisme Turki sepanjang sejarahnya
adalah perwujudan sempurna daripada apa yang saya sebut tidak hanya
sebagai 'sekularisme yang tidak bersahabat dengan agama' (anti-religion
fundamentalism), tapi bahkan fundamentalisme sekular (secular
fundamentalism), yang dengan cara apa pun berusaha menghalangi ekspresi
agama.
 
Hasilnya, sejak masa awal Republik Turki, di bawah pemerintahan Presiden
Kemal Ataturk, sekularisme Turki menerapkan kebijakan yang tidak
bersahabat dengan agama. 

Rezim-rezim sekuler tidak hanya melarang pemakaian jilbab dan pakaian
Muslim lainnya, tapi juga penggunaan gelar-gelar keagamaan seperti haji,
khoja, mullah, effendi, dan seterusnya. 

Mereka yang melanggar ketentuan ini memperoleh sanksi hukum, termasuk
hukuman penjara.

Lebih daripada itu, berbeda dengan fundamentalisme yang tidak bermusuhan
agama, seperti sekularisme AS, sekularisme Turki bahkan mencampuri
urusan dasar agama. 

Contoh terjelas dalam hal ini adalah pemaksaan penggantian bahasa azan
dari bahasa Arab ke bahasa Turki. Meski kebijakan ini tidak bertahan
lama karena oposisi sangat hebat dari kaum Muslimin, rezim-rezim sekuler
Turki tetap berusaha memasuki ranah teologis dan normatif agama.

Sekularisme ala Turki bukanlah sebuah contoh yang baik dari ideologi
politik dan negara. Sekularisme seperti ini dan ideologi-ideologi
antiagama lainnya yang mewujud menjadi fundamentalisme (sekuler), bukan
hanya dapat mengancam demokrasi; bahkan lebih jauh lagi bertentangan
dalam kecenderungan alamiah manusia yang memerlukan agama dengan segala
simbolismenya. 

Turki, Jilbab, dan Politik , Azyumardi Azra, Republika, Kamis, 07 Juni
2007 .
***

Perkembangan kemelut politik mutakhir di Republik Turki sebagai akibat
terjadinya pertikaian politik yang sangat dramatis antara kelompok
sekuler (yang ditulangpunggungi militer) dan Adalet ve Kalkinma Partisi
(AKP) pimpinan Perdana Menteri Recep Tayyep Erdogan (yang berbasis
Islam) telah semakin meyakinkan orang betapa kuatnya sekularisme di
negara tersebut. 

Selama lebih dari delapan dasawarsa (1923-2007) Sekulerisme Kemalis
sukses mengeliminasi agama (Islam) dari wilayah publik tanpa jeda
sedikitpun.

Soner Cagaptay dalam bukunya Islam, Secularism, and Nationalism in
Modern Turkey (2006) menyatakan bahwa proses sekularisasi itu dimulai
dengan dihapuskannya kekhalifahan Ottoman pada 2 November 1924. Kemudian
secara sistematis dan berturut-turut diikuti dengan: penghapusan libur
hari Jumat (pada 2 januari 2004), likuidasi kementerian Syariat dan
Wakaf (pada 2 Maret 2004), pemberangusan sekolah dan markas sufisme
(pada 30 Nopember 1925), penggantian kalender Islam dengan kalender
Gregorian, perubahan tulisan dan alfabet Arab ke Latin, dan bahkan
pernah adzan pun diganti bahasa Turki. 
Jilbab semakin meningkat.

Dalam acara khusus perempuan Konferensi Parleamentary Union of Islamic
Countries (PUIC) di Istanbul, Mei 2006, isteri saya yang kebetulan
mengenakan jilbab sempat berbincang-bincang dengan Isteri Ketua
Parlemen, Bulenc Arinc, dan nyonya-nyonya anggota parlemen Turki lainnya
yang juga mengenakan jilbab. 

Mereka menanyakan kepada isteri saya apakah di Indonesia mengenakan
jilbab atau kerudung menjadi persoalan ?.
Isteri saya menjelaskan panjang lebar bahwa dulu pernah ada larangan
secara tersembunyi, tetapi sekarang perempuan Indonesia bebas untuk
mengenakan atau tidak mengenakan kerudung. 
Para nyonya Turki yang berjilbab itu dengan enteng menjelaskan tentang
kesulitan mengenakan kerudung di Turki. 
Saya sebut enteng karena mereka menjelaskannya dengan senyum-senyum
tanpa keluhan yang berarti. Mereka tidak marah secara berlebihan karena
undang-undang melarangnya menghadiri acara-acara resmi dan bekerja di
tempat-tempat resmi pemerintahan. Reaksi mereka biasa saja, dan tanpa
ekspresi kemarahan. Mereka tetap keukeuh mengenakan jilbab meski tidak
bisa bekerja di tempat-tempat resmi dan mengikuti acara-acara resmi
kenegaraan. 

Pantas, orang mengatakan betapa kuatnya sekularisme di Turki. Tetapi
sebaliknya orang juga bisa mengatakan betapa sangat kuatnya Islam di
Turki. 

Meski ditindas selama 80 tahun tanpa jeda Islam mampu bertahan dengan
kuatnya. Masjid-masjid di Turki yang biasanya sangat megah secara
arsitektural itu masih tetap penuh dengan jamaah shalat. Bahkan menurut
pengamatan saya, jamaah shalat di Turki jauh lebih rapi dan tertib
dibanding jamaah masjid-masjid di Indonesia, atau apalagi di
negara-negara Arab. Jumlah perempuan berjilbab di jalan-jalan raya di
kota-kota besar Turki juga tampak sangat banyak. Bahkan menurut survey
jumlah perempuan berjilbab di Turki cenderung terus bertambah.

ISLAM SEKUAT SEKULERISME ?.

Parlemen yang dikuasai oleh Adalet ve Kalkinma Partisi (AKP) memang
telah mengeluarkan undang-undang yang mengamandemen dan mencabut
larangan berkerudung tersebut beberapa kali. Tetapi setiap kali disahkan
di parlemen, undang-undang tersebut selalu diveto oleh Presiden Ahmed
Necdet Sezer. 

Dalam sistem politik di sana presiden memang memiliki hak veto atas
undang-undang yang dibentuk di parlemen. 
Kerudung dianggap sebagai simbol politik Islam yang sangat ditakuti oleh
pendukung sekularisme yang ditulangpunggungi oleh militer dan presiden.

Kerudung yang di negara Pancasila ini bebas dikenakan, di Turki menjadi
masalah yang sangat serius dan sarat dengan pandangan ideologis-politis.

Cara ideologi sekuler kemalisme di Turki memandang kerudung atau jilbab
adalah sangat fenomenal. Meski menurut kita pandangan semacam ini tidak
substantif, tetapi di Turki kerudung yang dikenakan perempuan Muslim
dianggap sebagai hantu yang luar biasa mengancam eksistensi sekulerisme. 

Dalam konteks dan perpektif itulah Presiden Sezer dan militer menolak
Recep Tayep Erdogan, ketua AKP, menjadi calon presiden dalam Pemilihan
Presiden di Parlemen April 2007 yang lalu. Sebagai komprominya maka AKP
mengajukan calon alternatif yang sejatinya lebih moderat yaitu Menlu
Abdullah Gul. Gul dikenal sangat dekat dengan Barat, pejuang tangguh
untuk menjadikan Turki sebagai anggota Uni Eropa, dan dikenal sebagai
bersih dari agenda politik Islam. 

Toh demikian, presiden, militer, dan partai-partai oposisi yang dipimpin
oleh partai Cumhuriyet Halk Partisi (CHP) tetap menolaknya. Salah satu
isu politik yang tersembul ke permukaan di balik penolakan tersebut
adalah bahwa isteri Abdullah Gul mengenakan jilbab.

Maka laju kepresidenan Gul mutlak harus dihadang untuk menghindari
kerudung atau jilbab masuk istana negara. Kaum oposisi menggunakan
taktik dan strategi yang dalam perspektif demokrasi kurang elegan, yaitu
boikot alias walk out dari sidang untuk memacetkan proses pemilihan
presiden sehingga kuorum 2/3 (367 anggota) dari jumlah anggota (550)
tidak tercapai. 

Sebenarnya peluang Gul untuk menang masih terbuka sebab pemilihan
presiden dilakukan melalui empat putaran. Tetapi oposisi tidak
menghendaki tokoh AKP menjadi presiden Turki yang merupakan mimpi buruk
bagi kaum sekuleris itu.

Sebagaimana lazimnya politisi yang tidak pernah kekurangan strategi maka
partai-partai oposisi menggugat keabsahan pelaksanaan pemilihan presiden
putaran pertama ke Mahkamah Konstitusi (MK). Dan tragisnya MK
mengabulkan gugagatan tersebut. Maka, persis dengan skenario
partai-partai oposisi pendukung sekulerisme, terjadilah deadlock politik
!.

Di samping strategi walk out agar sidang parlemen tidak korum, di luar
parlemen demonstrasi dalam skala massif untuk mendukung sekularisme
terus berlangsung di kota-kota besar Turki. AKP kalah bukan hanya di
jalan-jalan di kota-kota besar Turki, melainkan juga kalah di parlemen,
dan akhirnya kalah juga di Mahkamah Konstitusi.

Perkembangan politik mutakhir di Turki menjadi semakin menarik untuk
diikuti. 
Setelah Mahkamah Konstitusi memenangkan gugatan partai-partai oposisi
pimpinan CHP (yang didukung presiden dan militer) dan menganulir proses
pemilihan presiden di parlemen maka AKP pimpinan Recep Tayyep Erdogan
mengusulkan amandemen konstitusi di mana pemilihan presiden dipilih
langsung oleh rakyat. Meski parlemen telah menyetujui amandemen
tersebut, di awal Mei 2007 diveto Presiden Ahmed Sezer. Kini parlemen
menetapkan dan mengajukan kembali amandemen konstitusi dengan alternatif
jika presiden kembali menjatuhkan veto maka digelar referendum. 

Kemacetan politik menjadi semakin parah. Pertentangan antara kelompok
sekuler dan AKP yang berbasis Islam memasuki babak yang gawat.

Walhasil, siapa bilang kerudung atau jilbab cuma model pakaian ?.
Di Turki kerudung menjadi penyebab terjadinya pertikaian politik yang
seru dan dramatis. 

Kerudung dan Politik , Hajriyanto Y Thohari , Republika, Jumat , 08 Juni
2007.
***




-- 
http://www.fastmail.fm - Or how I learned to stop worrying and
                          love email again

Kirim email ke