Tambahan :

Sudah pemimpin-nya gak tau diri dan gak peduli sama
rakyatnya, eh..masyarakatnya juga gak pakai logika,
udah tau miskin, susah cari makan, masih aja bikin
anak sebanyak-banyaknya...udah kumpul-kebo aja deh
biar hemat...

Kacian deh.. luh rakyar republik bleduk.


--- Christovita Wiloto <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Bisnis Indonesia
> Bodoh dan Tamak 
> 
> oleh : Christovita Wiloto
> CEO Wiloto Corp. Asia Pacific
> www.wiloto.com
> http://christovita-wiloto.blogspot.com/ 
> 
> Alkisah di sebuah negara bernama Republik Bledug,
> jutaan bayi-bayi  dilahirkan dengan cacat bawaan.
> Hal ini disebabkan oleh gizi buruk yang endemik. 
> 
> Sangat mengenaskan sekali, bahwa jumlah balita
> penderita gizi buruk melonjak dari 1,8 juta jiwa
> pada 2005 menjadi 2,3 juta jiwa satu tahun kemudian.
> Itu belum terhitung, 5 juta jiwa lebih yang
> mengalami kurang gizi. 
> 
> Secara total, jumlah bayi berstatus gizi buruk dan
> kurang gizi di negeri ini mencapai sekitar 28 persen
> dari balita yang ada di seluruh Republik Bledug. 
> 
> Seiring dengan fenomena itu, dari sekitar 4 juta ibu
> hamil, separuhnya mengalami anemia gizi dan satu
> juta lainnya kekurangan energi kronis. Dari ibu
> hamil dalam kondisi seperti itu, rata-rata setiap
> tahun lahir 350.000 bayi yang lahir dalam kondisi
> berat badan rendah. 
> 
> Bisa dibayangkan 20 tahun kemudian Republik Bledug
> akan makin terpuruk, karena generasi mudanya yang
> seharusnya menjadi generasi paling produktif,
> ternyata sangat buruk kondisinya.
> 
> Ironisnya, pemerintah Republik Bledug selalu
> berkeras mengatakan, angka kemiskinan di Republik
> Bledug telah berkurang. Itu, seperti dikemukakan
> Wapres Republik Bledug. Ia membantah komentar yang
> mengatakan masyarakat saat ini makin miskin, karena
> pada kenyataannya kini telah terjadi pertumbuhan
> ekonomi sebesar enam persen.
> 
> ''Kalau ada pertumbuhan sebesar enam persen itu
> artinya orang makin sejahtera sebesar enam persen
> secara rata-rata. Jadi tidak benar kalau ada yang
> bilang rakyat makin miskin,'' kata Wapres. 
> 
> Entah bagaimana kebenaran data yang diterjemahkan
> Sang Wapres, faktanya memang para pemimpin negara di
> Republik Bledug memang makin makmur dan kaya raya.
> Mungkin memang betul ada pertumbuhan sebesar 6
> persen, namun mungkin juga itu hanya di wakili oleh
> segelintir pemimpin yang tamak. Sehingga makin
> lebarlah jurang antara si kaya yang sedikit dengan
> si miskin yang makin banyak.
> 
> Namun Wapres mengakui masih ada sebagian masyarakat
> yang belum sejahtera. Tapi, itu bukan berarti
> seluruh rakyat Republik Bledug makin miskin. Menurut
> Wapres, rakyat Republik Bledug bisa dibilang makin
> miskin, jika terjadi pertumbuhan negatif. Padahal,
> saat ini ada pertumbuhan walau hanya enam persen. 
> 
> Wah..wah..wah...Sang Wapres  atau penasehatnya nich
> yang salah baca data. ''Yang paling menderita jika
> ada pertumbuhan negatif seperti pada tahun 1999.
> Saya kira kalau ada pertumbuhan ekonomi sebesar enam
> persen, pasti kita tidak semakin menderita,'' kata
> Wapres benar-benar percaya diri.
> 
> Hampir senada, Presiden Republik Bledug juga
> berpendapat. Penduduk Republik Bledug tidak makin
> miskin. Salah satu indikatornya, angka pengangguran
> kini telah berkurang dari semula sekitar 10 juta
> orang pada awal 2006 menjadi 9,7 juta orang pada
> awal tahun ini. 
> 
> Sementara, seperti ingin memberi pembenaran, Biro
> Pusat Statistik Republik Bledug juga melansir
> angka-angka yang hampir mirip. Jumlah pengangguran
> di Republik Bledug pada Februari 2006 mencapai 11,10
> juta orang, turun menjadi 10,93 juta orang pada
> Agustus 2006. Kemudian turun lagi, walau cuma
> sedikit, menjadi 10,55 juta orang pada Februari
> 2007. 
> 
> Fakta Berbeda
> 
> Hanya saja, sejumlah fakta di lapangan berbicara
> lain. Kenaikan harga sejumlah barang pokok membuat
> masyarakat semakin sulit memenuhi kebutuhan
> hidupnya. Belum lagi kemiskinan akibat lumpur panas
> yang bodoh. Artinya, masyarakat secara absolut
> sebenarnya kian miskin. 
> 
> Harga beras -- salah satu kebutuhan masyarakat
> paling pokok -- sempat melonjak hingga mencapai Rp
> 5.900 per kg. Padahal, harga beras kelas medium
> idealnya berada pada kisaran Rp 4.300-Rp 4.500 per
> kg di tingkat eceran. Itu pun, sebenarnya sudah naik
> sekitar Rp 200-an per kg. 
> 
> Sementara, harga minyak goreng, seperti tak ingin
> kalah. Ia ikut-ikutan naik hingga di beberapa daerah
> bisa mencapai Rp 9.000-an per kg. Ironisnya, itu
> terjadi setelah kalangan produsen minyak sawit
> mentah (CPO) dan minyak goreng menjamin harga minyak
> goreng akan segera turun menjadi Rp 6.500 per kg,
> pada akhir Mei. 
> 
> Akibatnya, tak sedikit pedagang nasi goreng, krupuk
> dan kripik terpaksa menghentikan usahanya, walau
> untuk sementara. Sedangkan pengusaha berskala UKM
> yang harus sering bersentuhan dengan minyak goreng,
> terpaksa mengistirahatkan karyawannya, karena
> kesulitan membayar biaya produksi. 
> 
> Yang lebih ironis, ada beberapa kasus yang sampai
> menyebabkan tragedi rumah tangga. Misalnya, di suatu
> desa Republik Bledug, ada suami istri yang
> menghadapi kesulitan ekonomi memilih menempuh jalan
> pintas. Mereka melakukan bunuh diri bersama dengan
> cara gantung diri, pertengahan Mei lalu. 
> 
> Sepasang suami istri yang nekat bunuh diri itu
> adalah Samad bin Yad (45) dan istrinya, Titik (45).
> ''Peristiwa (bunuh diri) ini membuat saya prihatin,
> apalagi karena alasan ekonomi. Perlu ada solusi dan
> upaya bersama untuk meningkatkan taraf ekonomi
> masyarakat,'' kata Kepala Polsek Republik Bledug. 
> 
> Memang, perlu ada solusi konkret untuk mengatasi
> semua persoalan itu. Tapi solusinya, bukan cuma di
> atas kertas. Bukan cuma dengan menyajikan data-data
> teoritis, yang menunjukkan betapa sejumlah indikator
> ekonomi terus membaik.  
> 
> Pemerintah sepertinya amat gemar mengatakan bahwa
> pertumbuhan ekonomi Republik Bledug kian mengkilap.
> Seperti dikemukakan Wapresnya di atas, yang diamini
> oleh BPSnya, dengan mengatakan pertumbuhan ekonomi
> triwulan I/2007 sebesar 6 persen. Sementara, target
> pertumbuhan ekonomi pemerintah pada 2007 adalah 6,3
> persen.
> 
> Tapi indikator dan asumsi tadi dianggap masih bisa
> dipertanyakan. Para ekonom Republik Bledug,
> misalnya, menilai justru ada perlambatan ekspor dari
> bulan ke bulan sejak triwulan IV 2006. Apalagi
> dengan pernyataan bahwa belanja pemerintah justru
> menurun. 
> 
> Beda dengan pemerintah dan pengamat Republik Bledug
> yang punya data, lengkap dengan analisis
> masing-masing. Semuanya silakan mengklaim dirinya
> lah yang paling benar. Tapi masyarakat Republik
> Bledug -- terutama yang masih hidup subsisten
> (pas-pasan) -- tentu tak peduli dengan data-data
> itu.
> 
> Rakyat Republik Bledug ingin tindakan nyata dari
> pemerintahnya, untuk segera mengentaskan mereka dari
> kesulitan hidup yang membelitnya. Rakyat ingin bisa
> hidup nyaman dan murah di negeri yang gemah ripah
> loh jinawi itu. 
> 
> Jumlah balita penderita gizi buruk dan kurang gizi
> 7,3 juta jiwa ,  atau sekitar 28 persen dari balita
> yang ada di seluruh Republik Bledug. Lebih
> mengerikan lagi 2 juta ibu hamil mengalami anemia
> gizi dan satu juta lainnya kekurangan energi kronis.
> Dari ibu hamil dalam kondisi seperti itu, rata-rata
> setiap tahun lahir 350.000 bayi yang lahir dalam
> kondisi berat badan rendah.  Kondisi ini harus
> segera di atasi. Republik Bledug benar-benar dalam
> kondisi kristis.
> 
> Kalau melihat kondisi ini para pemimpin Republik
> Bledug  masih terus ketawa-ketiwi dan sibuk membela
> diri, maka para pemimpin Republik Bledug benar-benar
> sudah masa bodoh, atau pura-pura bodoh, atau memang
> bodoh beneran dan berperilaku tamak.  
> 
> 
>  > BEGIN:VCARD
> VERSION:2.1
> N:Wiloto;Christovita
> FN:Christovita Wiloto
> ORG:Wiloto Corp.
> TITLE:CEO
> BDAY:20060524
> EMAIL;PREF;INTERNET:[EMAIL PROTECTED]
> REV:20070608T010131Z
> END:VCARD
> 



      
____________________________________________________________________________________
Park yourself in front of a world of choices in alternative vehicles. Visit the 
Yahoo! Auto Green Center.
http://autos.yahoo.com/green_center/ 

Kirim email ke