Mungkin yang dimaksud pesawat yang banyak jatuh di Indonesia Cassa 212 dan CN 235, bukankah N 250 belum dijual ?
Salam, Bagus muskita wati <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Andaikan N250 dulu selesai disertifikasi, bukan > tidak mungkin akan terjual. pendapat diatas ini adalah "omongan kosong melompong". Kalo memang N250 bisa lulus sertifikasi terbang, artinya designnya memenuhi syarat untuk bisa terbang, bukan berarti bisa dijual. Karena, kenyataannya pabrik Fokker bangkrut meskipun semua produknya laku dijual, tetapi bukan cuma Fokker yang bangkrut, juga pabrik pesawat Northrop tutup bangkrut karena pesawatnya tak laku dijual kalah bersaing bukan karena pesawatnya tidak lulus sertifikasi terbang. Demikianlah, N250 tak perlu kita perbincangkan desainnya karena sudah jelas pesawat ini berteknologi kuno yang tidak layak dibuat oleh sebuah pabrik tetapi cukup dibuat oleh para amatiran saja. Pesawat ini desainnya sudah salah sehingga tak lulus untuk test bisa terbang dengan kata lain, kalo dipaksa terbang ibarat layangan singit yang nubruk ke kanan dan ke kiri apabila ada angin kencang yang datang. Jadi untuk sekadar bisa terbang saja sudah tidak lulus, bagaimana masih bisa bermimpi kalo punya sertifikat bisa menjualnya???? Karena kalo cuma sertifikat terbang bisa saja dipalsu, misalnya nyogok kanan kiri atau bikin sertifikat yang ASPAL, aseli tapi palsu. Dan kenyataannya, N250 bukan hanya tidak lulus sertifikasi terbang, terbukti bahwa dipaksa terbang dan dipaksa jual di dalam negeri dengan hasilnya bahwa semua (tak satupun) pesawat N250 akhirnya jatuh dengan alasan cuaca buruk dan pesawat tidak bisa mendeteksi cuaca. Gila enggak tuh??? dengan jelas2 saya baca beritanya di kompas, bahwa pesawat Habibie ini jatuh dengan juga korbannya sekian puluh ikut mati. Dan kejadian yang sama terjadi berulangkali, padahal menurut aturan umum, sekali kecelakaan, maka semua pesawat lainnya dilarang terbang. Sebaliknya dengan di Indonesia, meskipun jatuh semuanya, tetap saja masih diterbangkan sehingga tambah banyak korban yang jatuh dan jenis pesawat ini akhirnya habis karena pabriknya yang tutup sehingga tidak dibuat lagi yang akibatnya tidak ada lagi yang jatuh. Jadi yang salah bukan sertifikasinya, tapi memang designing-nya yang sama sekali tak mengikuti hukum yang berlaku dalam memproduksi sebuah pesawat. Sedangkan kalo saja bisa lulus sertifikasi terbangnya, maka tantangannya adalah persaingan harga, after sales service, dan juga jangan dilupakan promosinya. Bagaimana bisa menghasilkan pesawat yang bisa bersaing harga kalo komponen pesawatnya semuanya dari import tak ada yang mampu dibuat sendiri, bahkan baut baja sekalipun bukan buatan dalam negeri tapi diimport dari Jerman. Untuk hanya bisa membuat baut baja, harus memiliki teknologi metalurgi dan Indonesia tidak punya pusat penelitian maupun pengetahuan teknologi metalurgi. Jadi andaikan bisa mendapat sertifikat layak terbang, tetap pesawatnya tidak laku dijual karena harganya mahal, akibatnya after sales service-nya tak mungkin bisa baik. Ny. Muslim binti Muskitawati. __________________________________________________________ Pinpoint customers who are looking for what you sell. http://searchmarketing.yahoo.com/ --------------------------------- Got a little couch potato? Check out fun summer activities for kids.
