Refleksi: Tentu saja merosot, karena  DPR itu bukan seperti didengungkan atau 
dalam pengertian klasik untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, tetapi 
sebaliknya DPR dijadikan Dewan Penipu Rakyat.


http://www.sinarharapan.co.id/berita/0706/13/nas07.html



Kepercayaan pada Parpol Terus Merosot


Jakarta-Kepercayaan publik terhadap partai politik (parpol) terus menurun. 
Penurunan ini dipengaruhi oleh tingkah laku elit parpol yang tidak lagi peduli 
dengan tugas untuk menyejahterakan rakyat. 

Demikian rangkuman pendapat yang dikemukakan pengamat politik dari Lembaga Ilmu 
Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusabakti, Syamsuddin Haris, pengamat 
politik dari Universitas Indonesia (UI) Arbi Sanit dan anggota Komisi II DPr Ri 
dari Fraksi Partai Golongan Karya (Golkar) Ferry Mursyidan Baldan dalam diskusi 
di Jakarta, Selasa (12/6). 

Ikrar menyatakan, saat ini, gejala deparpolisasi cenderung menguat. Namun, 
pelaku kali ini tidak lagi sama dengan masa Orde Baru (Orba). Saat Orba 
deparpolisasi dilakukan oleh Presiden Soeharto dan Angkatan Bersenjata Republik 
Indonesia (ABRI), sedangkan saat ini deparpolisasi dilakukan oleh civil 
society. 

Kemerosotan kinerja legislatif di pusat itu baru-baru ini ditandai dengna 
ngototnya beberapa anggota dewan yang menginginkan agar Presiden Yudhoyono 
menjawab secara langsung hak interpelasi mengenai resolusi dewan keamanan (DK) 
PBB No 1747 soal nuklir Iran. 

Parpol, kata Ferry, saat ini juga sangat elitis. Di sana ada komersialisasi 
yang semuanya itu sangat meng-khawatirkan untuk perkembangan demokrasi di 
negeri ini. Komersialisasi itu tampak ketika menjelang pelaksanaan pemilihan 
presiden maupun pemilihan kepala daerah (Pilkada). Calon pemimpin jika ingin 
diusung oleh sebuah partai maka dia harus memberikan "upeti". 

"Ada komersialisasi dan kapitalisasi di partai yang mengkhawatirkan. Akibatnya 
ada esenjangan opini yang timbul di masyarakat dan kewenangan partai-partai 
dalam mengusung para calon," kata Ferry.
Sementara itu, Arbi Sanit mengemukakan kebobrokan parpol tersebut saat ini 
perlu segera diperbaiki. Alasannya kinerja parpol yang tidak sehat akan 
cenderung menyengsasrakan rakyat. 
"Memang demokrasi secara prosedural jalan, tapi disisi lain demokrasi itu 
dibarengi oleh kemelaratan, padahal demokrasi yang diciptakan itu adalah untuk 
memperbaiki kesejahteraan rakat. Saat ini, itu tidak terjadi," kata Arbi.
Berbeda dengan Arbi, C Kristiadi menilai penyederhanaan parpol justru tidak 
sesuai dengan cita-cita demokrasi yang tujuan utamanya untuk mensejahterakan 
rakyat. (tutut herlina)

Kirim email ke