Di negara Yahudi, mereka bisa menghargai umat Islam dan penjaga gereja juga
ada yang beragama Islam.
lalu bagaimana di Indonesia ?

---------- Forwarded message ----------
From: Q. Ismiyanto <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Jun 14, 2007 10:51 AM
Subject: [keluarga-sejahtera] Paska Bom Bali, Masjid Tidak Dirusak Umat
Hindu Bali
To: [EMAIL PROTECTED]



Paska Bom Bali, Masjid Tidak Dirusak Umat Hindu Bali
13-6-2007
Oleh : NASRUL UMAM SYAFII/SYIRAH

Jimbaran- Acara konferensi Tolerance Between Religions yang
berlangsung di Hotel Ritz Carlton, Jimbaran, Bali pada Selasa (12/06)
juga diisi dengan penuturan korban peledakan bom yang dilakukan atas
nama agama. Salah satunya H. Bambang, warga Bali, yang menyatakan
paska kejadian tidak ada sama sekali muslim Bali atau masjid, yang
diserang umat Hindu sebagai aksi balasan.

H. Bambang adalah seorang pekerja sosial di daerah Bali yang beragam
Islam. Selain dirinya, semua keluarga, bahkan istri Bambang, beragama
Hindu.

"Tapi saya malu yang mengebom ini mengatasnamakan Islam," katanya.

Bambang menceritakan, walaupun pengeboman dilakukan pelaku yang
mengatasnamakan umat Islam dan banyak merugikan warga Bali, yang
mayoritas beragama Hindu, tidak membuat mereka membenci atau bahkan
menyerang mushala atau masjid sebagai aksi balasan.

"Tidak ada balasan misalnya orang Hindu merusak masjid, atau mushala
di Bali. Tidak ada orang muslim di Bali disakiti," ujarnya.

Dari keluarga, Bambang mengaku, dirinya tidak menerima ejekan atau
bahkan hujatan apapun. Misalnya mengatakan Islam itu agama yang
mengajarkan kekerasan.

Namun, Bambang tetap mengakui dirinya sangat malu dengan aksi yang
mengakibatkan puluhan orang meninggal dunia itu.

"Mau ditaruh di mana muka saya ini?" keluh Bambang seraya mengatakan
bahwa dirinya sangat takut agama Islam dianggap sebagai sumber
konflik, kekerasan, dan identik dengan bom.

Bersama-sama Mengkampanyekan Toleransi

Pertemuan antar agama yang berlangsung semenjak pukul 09.00 s/d 17.300
WIT (Waktu Indonesia Timur) yang diikuti sekitar 150 utusan dari
sembilan agama itu menghasilkan rekomendasi untuk bersama selalu
mengkampanyekan toleransi, moderasi, liberasi dalam keyakinan agama
masing-masing tanpa harus menyakiti antarsesama.

Terkait kampanye toleransi antar agama, KH. Yusuf Chudhory, Pengasuh
Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API), Tegalrejo, Magelang,
Jawa Tengah, saat menjadi pembicara dalam forum itu, mengungkapkan
perlu melakukan kampanye toleransi melalui pendekatan budaya. Misalnya
dengan kelompok seni, seperti yang telah dilakoninya selama ini.

"Khazanah lokal perlu digagas kembali, dirangkul. Diajak kerjasama dan
pentas bersama dalam acara kampanye toleransi," ujarnya.[ma]

http://www.syirah.com/syirah_ol/online_detail.php?id_kategori_isi=1786


Kirim email ke