15/06/2007 10:45 WIB
Ba'asyir: Jangan Percaya Tuduhan Polisi pada Abu Dujana Muchus Budi R. - detikcom Solo - Abu Bakar Ba'asyir mengimbau publik untuk tidak segera percaya kepada tuduhan yang dilayangkan kepada polisi bahwa Abu Dujana adalah pelaku kekerasan bersenjata atau teror bom. Dia berharap publik menunggu vonis pengadilan terhadap lelaki yang disebut sebagai pimpinan pasukan JI tersebut. "Jangan percaya tuduhan-tuduhan polisi itu. Tunggu keputusan pengadilan nanti seperti apa. Ingat saja apa yang dituduhkan polisi kepada saya dulu, tapi toh tidak terbukti apa pun." Hal tersebut disampaikan Ba'asyir kepada wartawan di rumahnya di Kompleks Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Jumat (15/6/2007) pagi. Meskipun demikian Ba'asyir juga meminta agar seluruh pihak tetap mengkritisi keputusan pengadilan Indonesia karena seringkali juga tidak sesuai dengan kebenaran. "Seringkali pengadilan kita ini juga masih bisa diintervensi. Alhamdulillah pada kasus yang menimpa dulu ada lima hakim yang mau berpegang pada kebenaran sehingga berani menyatakan saya tidak bersalah," lanjutnya. Ba'asyir mengaku tidak mengenal Abu Dujana secara akrab. Namun diakui dirinya pernah bertemu Abu Dujana di Ma'had Lukmanul Hakim di Ulu Tiram, Johor, Malaysia. Abu Dujana saat itu menjadi salah satu ustadz di pesantren itu. Di pesantren itu pula Ba'asyir mengenal Noordin M Top. "Saya bukan pengelola (Ma'had) Luqmanul Hakim tapi saya beberapa kali diminta menjadi penceramah di sana. Saya berceramah pada para guru di Luqmanul Hakim itu. Yang kami bicarakan hanya sekitar perjuangan dan pendidikan. Yang saya tahu saat itu namanya bukan Abu Dujana tapi saya sudah lupa siapa dulu panggilannya," paparnya. Ba'asyir juga mengaku beberapa kali bertemu dengan Abu Dujana di Jawa, namun dia tidak menyebutkan kapan pertemuan itu terjadi. Dia hanya mengatakan pertemuan itu terjadi di forum-forum pengajian. Materi yang dibicarakan, menurut Ba'asyir, juga seputar perjuangan dan pendidikan. Dugaan Pengalihan Isu Lebih lanjut Ba'asyir menduga bahwa tidak tertutup kemungkinan penangkapan para pelaku teror itu sengaja dimunculkan ke publik untuk menutupi mencuatnya kasus pelanggaran hukum para capres yang menerima dana ilegal yang dapat berpengaruh buruk pada nasib pemerintahan sekarang. Karenanya bukan tidak mungkin pula penangkapan mungkin pula penangkapan terhadap orang-orang yang dusebut sebagai pimpinan jaringan teror, termasuk Abu Dujana, sudah dilakukan dalam waktu cukup lama namun baru dimunculkan sekarang untuk menutupi kasus dana ilegal para capres tersebut. Selain itu juga ada pihak yang ingin meraup keuntungan besar dari memunculkan isu-isu terorisme. Bahkan ia juga masih kurang mempercayai bahwa Abu Dujana adalah orang yang harus bertanggung jawab terhadap terjadinya serangkaian peledakan bom di Tanah Air. Menurutnya, bukan tidak mungkin semua pengakuan maupun bukti yang ada selama ini hanyalah rekayasa saja. "Kalaupun dia sendiri (Abu Dujana) mengaku sebagai pelaku (peledakan bom), saya masih juga belum percaya. Bisa jadi pengakuan itu karena ditekan. Amrozi pernah mengaku bahwa saya terlibat dalam peledakan bom di Bali, tapi kemudian terbukti dia terpaksa berbohong karena tidak kuat disiksa," lanjutnya. (mbr/nrl) Source : http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/06/tgl/15/tim e/104536/idnews/794110/idkanal/10 15/06/2007 10:16 WIB Ba'asyir Berpesan Agar Zulkarnaen Pertahankan Keyakinan Muchus Budi R. - detikcom Solo - Setelah penangkapan Abu Dujana, orang yang paling dicari polisi dalam kasus teror di Indonesia adalah Zulkarnaen alias Arif Sunarso. Abu Bakar Ba'asyir berpesan kepadanya agar selalu mempertahankan keyakinan yaitu terus berjuang jika jika memang Zulkarnaen meyakini jalan yang ditempuh itu benar. "Pertahankan keyakinan. Jika memang dia meyakini jalan yang ditempuhnya benar sesuai syariah Islam maka jangan demi keselamatan lalu belak-belok. Tapi jika kemudian menyadari jalannya itu keliru sebaiknya dia bertobat lalu melakukan klarifikasi kepada pemerintah apakah dia benar-benar bertindak seperti yang dituduhkan selama ini." Imbauan tersebut disampaikan oleh Ba'asyir kepada wartawan ketika ditemui wartawan di rumahnya di Kompleks Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Jumat (15/6/2007) pagi. Ba'asyir mengaku mengenal Zulkarnaen semenjak menjadi santrinya di Ngruki dan juga ketika berada di Malaysia. Menurut informasi, Zulkarnaen alias Arif Sunarso alias Daud alias Murshid saat ini diyakini sebagai pimpinan tertinggi jaringan bawah tanah yang diduga sering melakukan kekerasan di Indonesia. Posisi posisi veteran perang Afghanistan dan Moro ini lebih tinggi dibanding Abu Dujana maupun Noordin M Top. Sarwo Edi Nugroho, anggota jaringan yang tertangkap, mengatakan Zulkarnaen biasa dipanggil Mbah (Kakek) karena posisinya sebagai sesepuh kelompok. Saat peledakan Bom Bali I, polisi menyebutnya sebagai Panglima Askar (tentara) JI, namun belakangan posisi itu telah diserahkan kepada Abu Dujana. Sedangkan Zulkarnaen menjadi pimpinan tertinggi. Ba'asyir mengaku pertama kali mengenal Zulkarnaen ketika menjadi santri Al-Mukmin sebagai Arif Sunarso. Lelaki asal Gebang, Masaran, Sragen, itu lalu meneruskan kuliah di UGM Yogyakarta namun ditinggalkannya untuk kemudian bergabung dalam pasukan perang melawan Rusia di Afghanistan. "Saya bertemu lagi dengannya di Malaysia dan beberapa kali bertemu dengannya di forum-forum pengajian. Tapi sekarang saya tidak mengetahui apa kegiatannya," ujar Ba'asyir sembari menambahkan tidak mengetahui apakah tuduhan polisi bahwa Zulkarnaen memimpin kelompok teror itu benar atau salah. Namun ketika ditanya jika memang tuduhan polisi itu benar, Ba'asyir kembali menegaskan semua keputusan berpulang kepada kayakinan Zulkarnaen sendiri. Jika memang dia meyakini langkah yang ditempuh itu benar sesuai syariah Islam maka dia harus mempertahankan keyakinan itu. "Kalau saya pribadi mengatakan langkah itu (kekerasan dengan melakukan peledakan) keliru. Indonesia ini bukan wilayah perang sehingga tidak boleh ada perlawanan dengan senjata. Yang paling tepat dilakukan di sini adalah dakwah. Tapi ini pendapat saya pribadi yang belum tentu benar juga," tegasnya. "Yang perlu juga saya tegaskan, mereka (para pelaku kekerasan) bukan melakukan teror karena sebenarnya mereka melakukan kontra-teror. Niatan mereka bagus hanya saja salah mengambil keputusan. Mereka bermaksud melawan teroris yang sebenarnya yaitu Amerika dan sekutunya. Jadi sebenarnya mereka itu hanya pelaku kriminal biasa," lanjutnya. (mbr/nrl) Source : http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/06/tgl/15/tim e/101638/idnews/794094/idkanal/10
