http://www.sinarharapan.co.id/berita/0706/16/opi01.html


Mengungkap Kebohongan Lewat "Xiang Mian"
Oleh
Djulianto Susantio


Kebudayaan Tiongkok penuh dengan ungkapan yang mencerminkan sebuah keyakinan 
bahwa kepribadian seseorang dapat dibaca dari wajahnya. Dia bermata licik, dia 
bermulut culas, atau dia berhidung jahat, hanyalah beberapa dari sekian banyak 
contoh yang ada. 

Selama ribuan tahun, masyarakat China mengembangkan sebuah sistem paling 
komprehensif dalam membaca peruntungan lewat wajah. Para kaisar dan penguasa 
telah menggunakan metode xiang mian ini untuk memahami sifat, karakter, dan 
masa depan seseorang, terlebih yang duduk di jajaran pemerintahan.
Di dunia Barat, xiang mian dikenal sebagai fisiognomi, yaitu gabungan kata 
fisiologi dan anatomi. Fisiognomi atau seni membaca tubuh (termasuk wajah) juga 
banyak digandrungi penguasa-penguasa Yunani dan Romawi. 

Dalam memilih pembantu-pembantunya, mereka berkonsultasi dengan ahli-ahli 
fisiognomi termasuk palmistri (ilmu rajah tangan). Orang boleh saja berkata 
bohong, tapi wajah tidak dapat dibohongi. 
Konsep inti dalam pemikiran demikian adalah bahwa tubuh merupakan mikrokosmos 
alam semesta. Dengan demikian, semua yang ada (karakter, sifat, peruntungan, 
dsb) dapat diketahui melalui cerminan tubuh manusia (Seni Membaca Wajah dan 
Garis Tangan, 2002).

Lima ciri roman muka fisiognomi Tiongkok dan Barat yang dinilai mampu 
menceritakan kebohongan adalah mata, alis, mulut, hidung, dan telinga. Meskipun 
demikian, rambut, dahi, pipi, dan dagu juga ikut diperhatikan. Namun di antara 
organ-organ itu, mata merupakan roman muka yang dipandang paling penting karena 
diyakini mengendalikan ciri-ciri roman muka lainnya. 

Dipercaya, keakuratan pengetahuan ini untuk menilai kepribadian seseorang 
berada di kisaran 90 persen. Selama berabad-abad penguasa Tiongkok, Yunani, dan 
Romawi sangat tergantung pada fisiognomi untuk memilih para menteri atau 
pejabat negara.
Pada zaman modern sejumlah kepala negara juga memercayai pengetahuan kuno itu 
untuk menyusun kabinet. Fisiognomi modern juga digunakan pengadilan dan 
sejenisnya untuk mendeteksi kebohongan pejabat. Melalui analisis fisiognomi 
"topeng-topeng" mereka sebenarnya dapat terbuka. Fisiognomi bukanlah mistik 
tapi telah teruji keakuratannya berdasarkan data empiris di banyak negara.


Bahasa Tubuh dan Tulisan Tangan

Kebohongan, kelicikan, keculasan, dsb dapat pula diketahui melalui bahasa tubuh 
(body language) atau komunikasi nonverbal. Sekitar tahun 1960 beberapa pakar 
mulai mengembangkan kinesiologi. Kehadiran kinesiologi mendapat perhatian 
serius sejak Julius Fast menerbitkan buku tentang bahasa tubuh pada 1970. 

Fast sendiri mendapat ilham dari tokoh teori evolusi, Charles Darwin, yang 
menerbitkan The Expression of Emotions in Man and Animals pada 1872. Menurut 
penelitian modern, sebagian terbesar yakni 55 persen, pesan manusia terdiri 
atas komunikasi nonverbal. Ternyata, hampir semua gerakan isyarat komunikasi 
dasar memiliki kesamaan antarbangsa-bangsa di dunia. Bila senang, orang 
tersenyum. Sebaliknya bila sedih atau marah, orang mengerutkan dahi. 
Menganggukkan kepala hampir secara universal mengatakan "ya" (Bahasa Tubuh, 
1996). 

Bahasa tubuh (termasuk bahasa wajah) sukar dipalsukan untuk jangka panjang. 
Menurut penelitian para pakar, berbohong itu sulit dilakukan karena pikiran 
bawah sadar bertindak secara otomatis. Kebohongan-kebohongan bisa diketahui 
lewat isyarat mikro, seperti kedutan otot, wajah, pembesaran dan pengecilan 
pupil, keringat pada kening, memerahnya pipi, kedipan mata, dan banyak lagi. 

Seperti halnya fisiognomi, analisis bahasa tubuh amat diperlukan untuk 
mengetahui "wajah-wajah palsu" di pemerintahan kita, termasuk politikus dan 
masyarakat. Tidak mustahil banyak dari mereka adalah "serigala berbulu domba". 
Di sejumlah negara, teknik membaca tubuh banyak dimanfaatkan di institusi 
kepolisian dan hukum.

Metode lain untuk menganalisis kebohongan atau kepalsuan seseorang adalah 
melalui tulisan tangan yang bersangkutan. Menurut para peneliti, tulisan muncul 
dari akar bawah sadar manusia sehingga setiap goresan dan tarikan yang 
ditorehkan pada kertas dapat menunjukkan karakter dan menggambarkan kepribadian 
si penulis. Ilmu yang memelajari analisis tulisan tangan disebut grafologi, 
berasal dari bahasa Yunani grapho (saya menulis) dan logos (teori atau ilmu). 
Meskipun sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu, grafologi modern muncul pada 
abad ke-19. 

Para dokter dan psikolog menyadari bahwa dorongan yang membuat sesorang menulis 
datang langsung dari otak. Dalam menulis, dorongan-dorongan ini menimbulkan 
suatu seri gerakan yang halus dan kompleks. Gerakan kecil inilah yang mencatat 
pengaruh-pengaruh dari pikiran di alam bawah sadar (Penggunaan Grafologi untuk 
Keberhasilan Bisnis, 1995; Brain Writing, 2005; Grafologi, 2006). 


Dari Nero sampai Oliver North

Tulisan seseorang begitu unik karena tidak ada satu pun yang sama persis, 
meskipun dia saudara kembar. Sejauh ini, grafologi banyak digunakan untuk 
berbagai keperluan, seperti mengetahui kepribadian, memilih karir, seleksi 
penerimaan karyawan, mendiagnosa penyakit, dan mendeteksi tindakan kriminal. 
Sekitar tiga ribu tahun yang lalu Kaisar Nero menyatakan dia tidak percaya 
kepada seseorang yang tulisan tangannya menunjukkan karakter penipu. Pada awal 
abad ke-2 sejarawan Romawi, Suetonius Tranquillus, mengatakan tulisan tangan 
Kaisar Augustus Caesar tidak terpisah dengan cukup baik. Ciri-ciri ini 
menunjukkan dia adalah orang yang kejam. 

Pada zaman modern, grafologi paling banyak dimanfaatkan negara-negara maju demi 
penegakan hukum dan seleksi karyawan. Skandal Watergate yang melibatkan 
Presiden AS Richard Nixon antara lain terungkap lewat analisis tanda tangannya 
yang berbentuk suatu garis panjang dengan suatu x yang melaluinya. Begitu pun 
kasus Iran-Contra, yakni penjualan senjata secara ilegal kepada Iran, oleh 
Kolonel Oliver North. 

Penggelapan uang sejumlah 62.000 dolar AS dari sebuah klinik di AS pada 1990-an 
juga terlacak berkat sejumlah tulisan tangan. Menurut analisis seorang pakar 
grafologi, dari sejumlah orang itu ada satu orang yang menulis dengan "baris 
terakhir dari kata awalnya mulai lebih jauh ke kiri dibandingkan kata awal pada 
baris di atasnya". 

Ciri ini menandakan orang tersebut kehilangan spontanitas dan memiliki 
kecenderungan berbohong. Setelah dikaji lebih dalam oleh pihak kepolisian, 
orang yang paling dicurigai itu akhirnya mengakui perbuatannya (Biarkan Tulisan 
Tangan Berbicara, 2004). 
Sejumlah pemimpin negara mempunyai penasehat-penasehat nonformal. Beberapa 
presiden AS, misalnya, sangat percaya pada pandangan-pandangan peramal Jeanne 
Dixon. Tiongkok berhasil bangkit dari tidur panjangnya berkat panduan ahli-ahli 
nujum. Singapura mampu berkembang pesat di Asia melalui ahli-ahli feng shui. 

Mudah-mudahan kita mulai berani melakukan uji coba dengan menggunakan 
fisiognomi, kinesiologi, dan grafologi, baik secara terpisah maupun secara 
gabungan. 
Banyak kebohongan dan kepalsuan di negara kita, sampai kini belum terungkap 
tuntas. Siapa tahu pengetahuan-pengetahuan tersebut akan membantu upaya 
pemberantasan korupsi yang sedang gencar-gencarnya dilakukan para penegak hukum.


Penulis adalah pemerhati seni Oriental. Tinggal di Jakarta .
  

Kirim email ke