Refleksi: Selain teori Barat,  apakah ada  teori pendidikan Utara, Selatan 
maupun  Timur. Bagaimana konsep masing-masing?  

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/062007/18/0901.htm

Terjebak Teori Barat
Oleh KI SUPRIYOKO

MENTERI Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo dalam berbagai 
kesempatan berpesan agar civitas perguruan tinggi bekerja untuk mewujudkan 
pendidikan tinggi berkelas dunia, world university.

Untuk mendukung pesannya, tidak jarang Pak Bambang mengutip hasil studi Majalah 
Times dalam Times Higher Education Supplement yang menyatakan ada empat 
perguruan tinggi Indonesia masuk di dalam jajaran universitas terbaik dunia 
tahun 2006, yaitu Universitas Diponegoro (Undip) Semarang di ranking ke-459, 
Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ke-270, Institut Teknologi Bandung 
(ITB) ke-259, dan Universitas Indonesia (UI) Jakarta di ranking ke-250.

Meskipun berada pada ranking 200-an, hal itu pantas disyukuri; setidak-tidaknya 
dapat memberi kepercayaan diri bahwa ternyata kita bisa menempatkan perguruan 
tinggi di jajaran elite dunia. Jadi, kalau kita mau bekerja keras bukan tidak 
mungkin rankingnya semakin baik.

Teori Barat

Membandingkan mutu lembaga pendidikan dengan sistem perankingan memang ada 
baiknya, asal kita tidak terhipnotis karenanya. Sistem ranking itu adalah teori 
barat yang belum tentu cocok untuk budaya Indonesia. Teorinya masuk akal; kalau 
posisinya di atas, orang akan puas atas usaha yang dilakukan, dan kalau 
posisinya di bawah akan berusaha lebih keras lagi agar periode berikutnya dapat 
meningkatkan ranking.

Dalam konteks studi Majalah Times, Universitas Kebangsaan Malaysia berada di 
atas kita, yaitu ranking ke-128; di sisi lain National University of Singapore 
berada lebih atas lagi, yaitu ranking ke-19. Menurut teori barat, mestinya 
civitas Undip, UGM, ITB, dan UI yang rankingnya jauh lebih rendah akan bekerja 
keras untuk "memperpendek" jarak dengan kedua universitas di negeri tetangga 
tersebut; syukur mampu "melampaui" ranking perguruan tinggi negeri jiran 
tersebut.

Apakah hal itu terjadi? Tidak! Mengapa? Banyak bukti menunjukkan sistem 
perankingan tak selalu cocok untuk budaya kita. Siswa SD dan SMP yang 
rankingnya berada di bawah, banyak yang tidak termotivasi menaikkan prestasi, 
tetapi justru "nglokro", alias menyerah sebelum bertanding. 

Di Jawa Timur pernah diuji coba memberi hadiah kepada guru terbaik di SD supaya 
guru-guru yang tidak terpilih termotivasi bekerja keras untuk meningkatkan 
prestasi. Nyatanya yang terjadi bukan demikian; yang terjadi kalau ada 
pekerjaan bersama selalu diserahkan kepada guru terbaik karena pernah menerima 
hadiah untuk dirinya sendiri, sementara guru yang lain enggan membantu. Jadi 
yang terjadi tidak menambah motivasi kerja, tetapi justru sebaliknya. Ini 
benar-benar kontraproduktif tentunya.

Saya tidak bermaksud menyalahkan Pak Bambang selaku menteri pendidikan yang 
sering mengutip hasil perankingan Times, tetapi ingin mengingatkan kita 
janganlah serta-merta percaya pada teori barat.

Keunggulan kita

Sebagaimana dengan Times, CINDOC yang bermarkas di Spanyol juga memublikasikan 
hasil studi universitas berkualitas dunia berdasarkan keakraban civitas 
academica pada internet Webometrics Ranking of World Universities. Hasil studi 
lembaga ini lebih "ngeri" lagi karena dari 500 perguruan tinggi berkualitas 
dunia tidak satu pun berasal dari Indonesia. Bahkan dari 50 perguruan tinggi 
terbaik dunia, 45 di antaranya berkiprah di AS.

Melihat hasil studi CINDOC tersebut bisa ciut nyali kita, tetapi kita tidak 
perlu berkecil hati. Biarkanlah AS dan negara-negara Barat memiliki kelebihan 
dalam soal webrometrics, khususnya dalam hal keakrabannya dengan internet, 
tetapi kita memiliki kelebihan dalam soal archametrics, khususnya dalam hal 
kepandaiannya menerapkan berbagai disiplin ilmu dalam kehidupan di luar 
disiplin utama. 

Di Indonesia ada lulusan fakultas kedokteran hewan yang tidak biasa menyuntik 
sapi, tetapi pandai bersyair. Di sisi lain banyak lulusan fakultas pertanian 
yang jago menjadi wartawan di samping ahli pertanian. Mahasiswa saya di 
pascasarjana UGM Yogyakarta, UNY, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dsb, yang 
berlatar belakang birokrat, ilmuwan sosial, ahli hukum, pendidik, ahli 
administrasi, agamawan, dsb, ternyata cukup mudah diarahkan menjadi 
statistikawan dan statistikawati.

Di luar negeri, termasuk di AS, anak-anak Indonesia ternyata banyak yang 
"mengejutkan" dalam hal berprestasi. Semula pelajar dan mahasiswa Indonesia di 
luar negeri banyak disepelekan karena harus mempelajari hal yang baru, tetapi 
akhirnya bisa membuat surprise dengan prestasinya yang gemilang meskipun harus 
membelok ke disiplin lain.

Anak-anak sekolah kita pun demikian halnya dalam hal budi pekerti. Budi pekerti 
sangat mudah ditanamkan kepada siswa dan mahasiswa kita dengan metode 
keteladanan (behavioral model methode), dan inilah salah satu keunggulan 
pendidikan kita.

Jadi, biarkan saja AS dan negara-negara Barat lead dalam soal "webometrics", 
tetapi jangan lupa bahwa kita pun memiliki kelebihan tersendiri di bidang 
archametrics. 

Menggunakan teori barat seperti perankingan perguruan tinggi tentu saja sah-sah 
saja, namun janganlah penggunaan teori barat tersebut dilalui dengan menafikan 
keunggulan yang kita miliki. Dengan kata lain janganlah kita terjebak teori 
barat!!*** 

Penulis, pamong Taman Siswa, mantan Sekretaris Komisi Nasional Pendidikan, 
serta anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN). 

Kirim email ke