Totot sedang membersihkan cangkulnya ketika 
mendengar suara motor lewat di depan gubuknya. Motor
itu berhenti dua rumah dari tempat dia jongkok. Si
pengendara turun dengan sangat terburu-buru. Hampir
terpeleset. Motor bebek tua itu pun terparkir seadanya
di tengah jalan. 


      “Pak… Pak… ladang kita didatangi tentara,”
teriak si pengendara. Kalimat itu diikuti jawaban dari
dalam rumah. Totot tidak mendengar obrolan di dalam. 

      Jantung Totot berdegup kencang. Ini ketiga
kalinya dia mendengar kabar tentara mendatangi ladang
mereka. Kabar pertama cuma isapan jempol, kabar kedua
dia meliat truk tentara lewat di jalanan kampung, tapi
dia enggak yakin ada tentara di dalamnya. Ini yang
ketiga. 


      Totot tidak ingat kapan ladang dan kampung mulai
akrab dengan isu tentara. Mungkin mulai enam bulan
lalu, saat pergantian lurah. Mungkin jauh sebelum itu.
Yang jelas, penduduk kampung mulai resah beberapa hari
terkahir. Mereka sering ngobrol sampai larut malam.
Anak-anak muda bikin tema obrolan sendiri tentang isu
tentara. 


      Tentara ingin mengambil tanah mereka. Begitu isu
yang beredar.  Apa iya kampung dan ladang ini milik
tentara? Tak habis-habisnya Totot bertanya pada
dirinnya sendiri ketika pertama kali mendengar kabar
itu. Dia lahir dan besar di sini, tapi tak pernah tau
cerita itu. Dia yakin almarhum bapaknya juga tidak
tau. Tapi beberapa warga sempat bilang tanah ini
memang sudah dibeli tentara sejak 50 tahun lalu. Entah
mana yang benar. 


      “Pak… mau ke ladang jam berapa, mbo jangan
siang-siang, lho,” tanya Ijah, istrinya, dengan logat
lokal yang kental. Totot malas menjawab, tapi
perlahan-lahan bangkit dari jongkoknya. Dia menenteng
cakulnya. Ijah yang hamil empat bulan tersenyum kecil.



      Belum genap dua langkah dilewati Totot, istrinya
juga belum penuh menutup pintu, suara gaduh terdengar
dari ujung jalan. Makin kencang. “Ayo kita hadang
mereka, pertahankan kampung kita,” teriak seseorang.
“Ayo, ini saatnya kita beraksi! Kita tak boleh diam.”
Teriakan semakin dekat, semakin gaduh. 


      Puluhan orang udah menyesaki jalan kampung yang
kecil. Orang tua, pria dan wanita, beberapa anak
berlarian dan ikut-ikutan berteriak. Kebanyakan
mengacungkan kayu atau bambu. Beberapa laki-laki
menyelipkan celurit atau pisau di  bagian belakang
pingggang mereka. Persis di depan rumah yang tadi ada
motor tua terparkir, yang pengendaranya terburu-buru,
orang-orang itu berhenti. 


      “Pak RT, Pak, kali ini kami tidak tinggal diam.
Kita harus menghadang mereka,” ujar seseorang. Tidak
jelas siapa yang berteriak. Tapi suaranya berhasil
membuat tergopoh-gopoh orang tua muncul dari balik
pintu. Pak RT Tugiman. Di belakangnya mengekor
beberapa orang, salah satunya si pengendara motor. 


       Belum sempat Pak RT berucap sepatah kata pun,
seseorang memberi komando untuk bergerak. Seperti
tidak ada hari esok, puluhan orang merangsek ke arah
jalan besar, penghubung kampung dengan ladang. 


      Totot melangkah ketika yang tersisa anak-anak
kecil berlarian mengejar rombongan. “Ndak usah ke
ladang hari ini Pak, saya kuatir. Sepertinya tentara
memang datang,” ujar istrinya. 


      Totot tidak menoleh. “Kemarin-kemarin juga
bilang begitu, buktinya ndak ada apa-apa. Ibu tenang
aja, tentara ndak mungkin datang. Orang-orang cuma
cari alasan aja biar ndak pergi ke ladang. Udah, bapak
pergi.”  


      Totot melewati jalan yang sama dengan
orang-orang tadi. Jejak kaki di tanah becek tumpang
tindih. Alangkah kagetnya dia meliat orang-orang itu
ternyata berhenti persis di pinggir ladangnya. Totot
mengalihkan padangannya ke arah lain, ke sebuah
undukan tempat orang-orang itu bisanya berkumpul.
Tidak jauh dari tempat itu terparkir sepasang traktor.
Dari jauh keliatan seperti monster yang sangat lapar.
Sesekali tampak satu dua tentara yang berjag-jaga di
sekitar traktor itu.  


      Setelah berpikir sebentar, Totot memutuskan
untuk pulang. Tapi dia pengen memastikan kelompok
massa tidak menginjak-injak tanamannya. Dia melangkah
mendekat, tapi orang-orang kelompok itu bergerak
menjauh. Lalu mendekat lagi. Suara teriakan mulai
terdengar. Lebih kencang. Dari kejauhan, traktor yang
dikawal tentara juga bergerak.  


      “Tentara bajinngan. Pergi dari sini, kalau
tidak, kami melawan!” satu teriakan paling nyaring.
Suara gaduh semakin parah. Makian berbuntut makian.
Totot semakin mendekati kelompok massa, bahkan hampir
bergabung. Panggilan yang menyerupai teriakan dari
bagian belakang tidak bisa didengarnya. Panggilan
perempuan yang tergopoh-gopoh sambil berlari kecil
mengangkat sarungnya bercampur makian dan teriakan
orang-orang. 


      Entah siapa yang mulai, batu-batu melayang batu
ke arah traktor. Semakin banyak. Seorang warga yang
dari tadi memang sudah seperti cacing kepanasan muncul
dari kerumuan. Kausnya yang udah sobek dilepas.
Tangannya dengan cepat menarik celurit dari celana
belakang dan mengacungkan-acungkannya.  


      Laki-laki kurus itu berlari ke arah traktor yang
jaraknya kurang dari 50 meter. Setengah lusin tentara
muncul dari balik traktor. Ujung senjata mulai turun.
Diarahkan ke orang yang berlari, sekaligus memberi
peringatan ke kelompok massa untuk mundur.  Tapi
laki-laki itu tidak tau isyarat. Berlari terus,
semakin beringas. 


      Dor… dor… Suara tembakan dimuntahkan. Lebih dari
selusin tembakan. Laki-laki itu terpental, terkapar.
Kelompok massa berlari berhamburan seperti beras
tumpah dari tempayan. Beberapa tentara mengejar
orang-oarng yang diincar. Totot mundur beberapa
langkah, lalu terjatuh. Kakinya tersandung sesuatu.
Tubuh wanita, setengah badannya tertutup tanah. Totot
mengenali sosok itu, baju itu, rambut itu. Dia
membalik tubuh wanita itu dengan gemetar. 


      Gusti Tuhan, dia istriku. 


      “Pakkk, aku…. diinjak-injak,”  gemetar suara
Ijah. “Aku menyusul mengantarkan ini.” Ijah menunjuk
topi petani. Dia sempat ingin membatalkan memberi topi
itu ketika meliat kelompok massa dan tentara. Tapi
ketika meliat suami mendekati kelompok massa, dia
berteriak melarang. 


      Masih gemetar, Totot menenangkan. Ketika dia
meraba bagian perut istrinya, ada yang dingin. Darah.
Sekeras apa injakan mereka? Oh, tidak. Dia kena
tembak, di perut. Anakku. 


      Totot terpatung di dekat tubuh istrinya yang
masih hangat, tapi sudah tak bergerak. Dia menangis
tanpa air mata, berteriak tanpa suara yang keluar dari
mulutnya. Semua berubah sunyi. Pagi mulai gelap di
matanya. 


Jakarta, 6 Juni 2007 

(Terinspirasi dari tragedi bentrokan antara petani dan
tentara (marinir) di  Alas Tlogo, Grati, Lekok,
Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, 30 Mei 2007. Empat
orang tewas, 13 marinir didakwa). 

      




      
____________________________________________________________________________________
Park yourself in front of a world of choices in alternative vehicles. Visit the 
Yahoo! Auto Green Center.
http://autos.yahoo.com/green_center/ 

Kirim email ke