Kalau jumlahnya banyak biasanya suka kumpul-kumpul adalah gejala kaum imgran. . Bukan saja kumpul tetapi juga tempat tinggal, terkonsentrasi contohnya jelas dilihat sejarah perkembangan kota-kota besar di Indonesia maupun di USA. Terdapat bahagian kota yang penduduknya didomisnasikan oleh satu etnik saja, misalnya Queens di New York adalah etnik Yunani. Sekarang bahagian kota New York dijulukan "little Odessa", karena padat penduduk asal Russia. Di Miami ada "Little Havana", karena penduduknya umumnya berasal dari Cuba. Di San Fransico ada bahagian kota selain China Town ada "Little Tokyo", karena penguninya orang Jepang. Kalau mengenai orang dari Indonesia di New York, agaknya terkerumpul di Brooklyn.
Sesuai penyelidikan bahwa terkonsentrasi etnik itu antara laindisebabkan karena berbahasa, adat istiadat , keamanan. Di Norwega ada saja diskriminasi, seperti juga di lain negeri. Kalau saya tidak keliru Norwegia ada partai yang berpolitik demikian, tetapi pada umumnya partai demikian kecil dan beraliran nazisme. Negeri-negeri skandinavia [Norwegia, Sweden, Denmark, Finland] cuti untuk wanita hamil antara 9 - 12 bulan dengan gaji penuh. Selain itu ada juga peraturan cuti untuk menjaga anak berumur 1- 12 tahun yang sakit adalah 14 hari setahun [peraturan di Swedia]. Di Bergen itu ada banyak orang asal Aceh disana. Orang Timteng dan dari Afrika itu bukan tidak mau gaul tetapi karena alasan yang sebutkan diatas, yaitu terutama bahasa dan juga ada tradisi kurang bergaul pada generasi tua, tetapi anak-anak mereka bebas bergaul, terkecuali yang fanatik agama.. ----- Original Message ----- From: Alvin Daniel To: [email protected] Sent: Wednesday, June 20, 2007 11:01 AM Subject: [mediacare] Aturan universal - Re: Muslims out of Australia! jg eropa Teman saya tinggal dan bekerja di Bergen, Norway, menikah dgn pria bule disana. belajar bahasa Nordic 1 tahun. sekarang dia udah punya 1 anak, dapet cuti 12 bulan oleh kantornya. kebetulan temen saya itu orang cina, mungkin dia jg jadi ga dpt diskriminasi. tipikal imigran timteng dan afrika adalah 1, mereka ga mau gaul dgn penduduk lokal. seringnya memaksakan aturan2 dari negara asalnya sendiri, sehingga kalau parah bisa terjadi separatis. seperti di Paris tahun lalu, kerusuhan gila2an krn banyaknya pengangguran asal afrika utara. teman sayapun banyak yg bertebaran di Lausanne, Hamburg, London, Amsterdam, dan mereka sama sekali ga pernah menemui masalah ideologi dgn orang lokal. heran... kenapa ya.. --- In [email protected], kuncaraning sari <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Begitupun terjadi di Jerman, pemerintah bekerja keras agar tidak terjadi kerusuhan rasial spt di Perancis. Mereka berusaha merangkul kelompok islam moderat. Dilakukan screaning ulang dan lebih ketat, salah satunya mereka yang kaum pendatang diberi kesempatan untuk mencari pekerjaan hingga thn 2009. Jika sampai tenggat waktu tidak juga bekerja maka akan dipulangkan ke negaranya masing-masing, dan pemerintah tidak akan memberikan bantuan sosial lagi. > > Pemerintah Jerman berusaha keras agar terjadi pembauran dengan salah satunya memberikan kursus bahasa jerman secara gratis. Anehnya kebanyakan kaum wanita ( ibu Rumah Tangga ) yang berasal dari timur > tengah tidak menanggapi program ini secara positif. Mereka berbicara pake bahasa mereka sendiri dan cenderung berkelompok dan keras kepala. Mereka juga kurang bisa membaur dengan sesama pendatang lain seperti dari Asia. Anak muda yang berasal dari Arab membentuk > gang dan sering kali membuat rusuh di diskotek-diskotek dan club -club malam. > > Siapa bilang mereka tidak suka ke tempat pelacuran dan perjudian, > di jerman banyak tempat perjudian dan pelacuran milik > mereka.. dan mereka jg menjadi centeng di tempat itu. > > Salam, > > Sari > > > --- Alvin Daniel <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > ------------------------------------------------------------------------------ No virus found in this incoming message. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.5.472 / Virus Database: 269.9.1/854 - Release Date: 6/19/2007 1:12 PM
