Obama tentang Agama dan Keluarga

Oleh : Syafii Maarif di republika


Resonansi ini tidak akan banyak membicarakan reputasi Barack Obama (46
tahun) yang namanya melonjak sontak di dunia internasional karena
senator Illinois dan dosen Universitas Chicago ini tampil sebagai
penantang utama Hillary Clinton dalam konvensi Partai Demokrat tahun
depan, dan jika menang, akan diperlagakan kemudian dengan calon
presiden dari Partai Republik dalam Pemilu 2008.
Ada sisi lain yang patut disimak dari tokoh yang berasal dari darah
campuran seorang ibu kulit putih dari Kansas dan ayah dari Kenya
berkulit hitam. Orang tuanya berpisah saat Obama berusia dua tahun,
kemudian kawin lagi dengan Lolo Soetoro dari Indonesia ketika Obama
berumur enam tahun, selanjutnya pasangan ini juga berpisah. Obama
sempat tinggal di Jakarta selama empat tahun.
Semua info di atas  dapat disimak dalam otobiografi Obama, The
Audacity of Hope: Thoughts on Reclaiming The American Dream
(Keberanian Harapan: Pemikiran untuk Meraih Kembali Impian Amerika),
terbit tahun 2006. Yang saya baca adalah terjemahannya oleh Ruslani
dan Lulu Rahman dengan judul Menerjang Harapan: Dari Jakarta Menuju
Gedung Putih, terbitan Ufuk Press, 2007.
Sesuai dengan fokus tulisan ini, mari kita lihat bagaimana Obama
memandang agama dan keluarganya (hlm 155-163), diceritakan dengan
lugas, datar, tanpa beban, sebuah sikap yang biasa terlihat pada
manusia yang percaya diri. Tetapi, di bagian akhir saya akan kembali
menyinggung selintas tentang Obama sebagai politikus untuk melihat
serbakemungkinan bagi Amerika dan dunia, sekiranya ia terpilih jadi
presiden Amerika.
Sekalipun nenek moyangnya dari garis ibu tampak seperti orang taat ke
gereja ... ''keyakinan agama tidak pernah benar-benar berakar dalam
hati mereka. Nenek saya selalu terlalu  rasional dan terlalu keras
untuk menerima apa pun yang tidak dapat dilihat, dirasakan, disentuh,
atau dihitungnya.'' (Hlm 156). Ayah kakeknya dari pihak ibu menghilang
tidak tentu rimbanya, lalu disusul oleh tragedi bunuh diri sang istri
(hlm 155).

Ini direkamkan Obama tanpa emosi karena itu sudah merupakan fakta
telanjang yang tak perlu disembunyikan. Barangkali karena kelugasan
inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa The Audacity telah
dinobatkan sebagai karya terlaris oleh New York Times belum terlalu
lama berselang. Berita semacam ini tentu telah disimak kubu Hillary
dengan penuh kewaspadaan, sebab dalam konvensi politik sebuah partai,
calon tidak boleh menganut filosofi bus kota, ''sesama bus kota tidak
boleh saling mendahului''.
Obama sangat hormat kepada ibunya yang seorang antropolog, namun
kerinduan kepada ayah yang telah meninggalkannya dalam usia yang
sangat dini juga tidak pernah pupus. Sekalipun ibunya  menghormati
semua kitab suci agama: Bibel, Alquran, dan Bhagawat Gita yang
dijejerkan di atas rak, kritiknya terhadap agama formal cukup
menyengat. Bagi ibunya, Ann Dunham, ''... agama formal terlalu sering
menutupi ketertutupan pemikiran dengan jubah kesalehan, menutupi
kekejaman dan penindasan dalam jubah kebenaran.'' (hlm 157). Ini
adalah bahasa Obama tentang sikap ibunya yang sekaligus tentu telah
turut membentuk watak sang anak.
Bagaimana dengan ayahnya, Barack Hussein Obama Sr? Walaupun ayahnya
terlahir dan dibesarkan sebagai seorang Muslim, Obama tidak ragu
menulis kalimat ini: ''... pada saat beliau bertemu dengan ibu saya
beliau sudah menjadi seorang ateis yang kuat, yang menganggap agama
sebagai terlalu banyak mengandung takhyul, seperti mumbo-jumbo [omong
kosong] para cenayang [pawang/dukun] yang sering kali beliau saksikan
di kampung-kampung Kenya pada masa mudanya.'' (hlm 158). Obama sendiri
adalah penganut Kristen, sekalipun belum dibaptis.
Pertanyaan sentral yang tidak boleh dilewatkan selanjutnya adalah:
Bagaimana jika Obama benar-benar terpilih jadi presiden Amerika
menggantikan Bush bulan November tahun depan? Ada beberapa kemungkinan
jawaban: Pertama, dunia akan kembali mempercayai demokrasi Amerika
yang berani memilih seorang kulit hitam sebagai presiden. Apalagi jika
Obama melakukan banting stir dalam politik luar negeri Amerika yang
imperialistik di bawah Bush.
Kedua, Partai Demokrat akan semakin harum namanya pada tataran global
karena apa yang beraroma rasialis telah dikuburnya. Ketiga, Amerika di
bawah Obama akan dimaafkan dunia atas segala petualangan biadab yang
dilakukan pendahulunya, jika Obama setelah terpilih juga minta maaf
kepada umat manusia yang teraniaya akibat praktik terorisme negara
yang dikomandani negara adikuasa ini selama sekian dasawarsa.
Akhirnya, terbetik juga kekhawatiran saya bahwa kekuasaan Obama, jika
benar-benar terpilih, tidak akan bertahan  lama karena akan berlaku
pembunuhan politik atas dirinya, dilakukan oleh petualang rasialis
yang masih gentayangan di muka bumi, tidak terkecuali di Amerika
Serikat. Semoga tragedi semacam tidak akan terjadi dan Obama akan
membuktikan impiannya untuk menampilkan Amerika sebagai bangsa yang
punya hati nurani. Obama adalah penentang keras terhadap invasi atas
Irak yang disebutnya sebagai ''... sebuah perang yang tolol, perang
yang gegabah ...'' (hlm 65). Mari sama kita nantikan apa yang akan
berlaku tahun depan di Amerika Serikat.

-- 
Ezda
=> S2D4 the World

"With the monetary system we have now, the careful saving of a lifetime can be
wiped out in an eyeblink."
-Larry Parks, Executive Director, FAME

"I believe that exchange rate volatility is a major threat to
prosperity in the world today."
-Dr. Robert A. Mundell, Nobel Laureate 1999

"There's a sensible realization that small open economies, heavily dependent on
trade and foreign capital, simply cannot live with the volatility that
is inherent in
freely floating exchange rates."
-Dr. Paul Volcker, former Chairman of the Board of Governors of the
Federal Reserve

Visit http://www.FAME.org/
Fight for Honest Monetary Weights and Measures!

Kirim email ke