baca dulu mas komentar terakhir anda:
Saat ini Eropa sudah mengalami kemajuan. Hari raya Islam sudah mau diakomodasi 
menjadi hari libur nasional, atau setidaknya bagi umat
Islam. Berbeda dengan di Indonesia, yang mayoritas Islam, tapi umat lain diberi 
hari libur tanpa kesulitan.

Jawaban anda juga cocok untuk diri sendiri:
Kalau semua permintaan hari libur agama untuk dijadikan hari libur
nasional dikabulkan, bisa-bisa negara ini nggak kerja, liburan doang.
Nanti yang Islam minta tambah lagi, misal 6 hari

Anda:
Imlek itu juga karena ras bukan?

Jawabnya bukan, makanya saya bilang:
Wah, mungkin anda ini benar2 tidak tinggal didunia nyata,

Anda:
Kalau di Eropa yang mayoritas Kristen, meski ada minoritas Islam,
Budha, Hindu, susah mereka ngasih hari libur nasional, meski cuma 1
hari. Tapi saya bilang, sudah ada move dari tokoh politik untuk
memberikan spot hari libur untuk agama lain.


saya:
begitu pula diindonesia yang mayoritas islam, ada move dari tokoh politik untuk 
memberikan spot hari libur untuk agama lain.

Jadi agama minoritas mendapatkan hari libur tanpa bukan kesulitan.
Artinya yang namanya minoritas dimana2 memang mendapatkan kesulitan untuk minta 
hari libur..itupun sukur2 dikasih..


----- Original Message ----
From: bch_bagus <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, June 20, 2007 10:25:03 PM
Subject: [mediacare] Libur agama

Nah, barangkali Anda ini yang lebih tepat disebut oleh Bu Roslina,
dikasih hati, mau jantung.

Di Indonesia itu jumlah hari libur agama berapa hari sih?

Kristen (2 hari), Budha ( 1 hari), Hindu (1 hari), Islam ( 6 hari).
CMIIMW.

Kalau semua permintaan hari libur agama untuk dijadikan hari libur
nasional dikabulkan, bisa-bisa negara ini nggak kerja, liburan doang.
Nanti yang Kristen minta tambah lagi, misal hari kelahiran Paulus atau
hari peringatan Konsili Nicaea. Yang Budha minta tambah lagi. Yang
Konghucu minta tambah lagi.

Imlek itu juga karena ras bukan? Kalau iya, bisa-bisa orang Jawa minta
hari libur sendiri, orang Maluku minta hari libur sendiri. Berabe dong
kalau semuanya dituruti, bisa-bisa semua hari di kalender merah.

Buat saya orang Islam, saya sebenarnya merasa jatah libur hari
nasional buat Islam udah kebanyakan, sebaiknya malah justru dikurangi.
Yang pasti harus libur, yaitu hari raya Idul Fithri 2 hari, dan Idul
Adha 1 hari. Sisanya, mislanya Muharam, Maulid bisa didelete saja.

Kalau di Eropa yang mayoritas Kristen, meski ada minoritas Islam,
Budha, Hindu, susah mereka ngasih hari libur nasional, meski cuma 1
hari. Tapi saya bilang, sudah ada move dari tokoh politik untuk
memberikan spot hari libur untuk agama lain.

--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, "Wira Ooy" <[EMAIL PROTECTED] ..> wrote:
>
> 
> Bch bagus,
> 
> ada satu komentar saja pada tulisan anda:
> 
> Saat ini Eropa sudah mengalami kemajuan. Hari raya Islam sudah mau
> diakomodasi menjadi hari libur nasional, atau setidaknya bagi umat
> Islam. Berbeda dengan di Indonesia, yang mayoritas Islam, tapi umat lain
> diberi hari libur tanpa kesulitan
> 
> Wah, mungkin anda ini benar2 tidak tinggal didunia nyata:
> 
> Imlek kapan dijadikan hari libur? baru jamannya Gusdur
> 
> Perayaan hindu Bali Galungan dan kuningan kapan jadi hari libur
> nasional? Sampai sekarang belum..dan mungkin tidak akan pernah.
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, "bch_bagus" <bch_bagus@> wrote:
> >
> > --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Roslina Podico roslina@ wrote:
> > >
> > > Roslina:
> > > Tidak benar kalau Agama tdk diatur dalam sistem pemerintahan.
> > > Negara-negara Eropa adalah berlatarbelakang Katholik dan Protestan.
> > Pada
> > > umumnya setiap penduduk asli telah terdaftar langsung di kantor
> lurah
> > > apakah orang itu Katholik atau protestan. Akte kelahiran itu akan
> > > tersimpan rapi shg pada saat seorang mulai berpenghasilan. Gaji
> > > bruttonya akan langsung dipotong untuk membayar pajak Gereja. Uang
> itu
> > > tersalur sesuai dengan tujuannya masing-masing.
> >
> > Ada yang saya sepakati Bu Roslina.
> >
> > Memang pajak gereja masih ada di beberapa negara Eropa, jumlahnya pun
> > cukup lumayan. Tapi itu juga barangkali yang menyebabkan sekarang
> > semakin banyak orang yang tidak hanya meninggalkan Kristen/Katolik
> > secara ritual (gereja pada kosong di Eropa, we know it already), tapi
> > juga mereka keluar secara legal formal, sehingga mereka tidak perlu
> > lagi bayar pajak gereja. Pikiran mereka, ngapain juga bayar pajak
> > gereja, wong gerejanya aja nggak pernah dipakai, bahkan sampai defisit
> > imam/pendeta segala. Saat ini bahkan di Eropa sana, banyak mengimpor
> > tenaga pendeta/penyuluh dari negara lain.
> >
> > Yang terjadi akhirnya pajak gereja tersebut disalurkan ke
> > negara-negara di luar Eropa, yang kata Times Europe, daerah
> > kebangkitan Kristus, karena memang tidak banyak yang bisa diharapkan
> > dari Eropa oleh Kristen sekarang ini.
> >
> > Barangkali sebagian ada yang masuk ke program Kristenisasi, termasuk
> > yang marak di berbagai tempat di Indonesia.
> >
> > > Roslina:
> > > Di sini banyak yg tersirat yg tdk anda terangkan. Sistem pemotongan
> > > pajak juga berbeda-beda. Mulai dari kelas menegah keatas, harus
> bayar
> > > pajak jauh lebih tinggi. Tentu mayoritas High level itu adalah
> penduduk
> > > asli. Anda sendiri berkata bahwa imigran cari kerjaan di sana karena
> > > penduduk asli sdh enggan kerja di low level.
> >
> > Itu tentu umum terjadi. Meskipun tidak sedikit pula imigran yang
> > sukses di negeri orang. Bahkan ada yang memiliki perusahaan yang
> > justru memberi lapangan kerja bagi tenaga lokal.
> >
> > > Back to the begining:
> > > Inilah sistem masyarakat sekuler yg dilatarbelakangi kekristenan.
> Lalu
> > > para migran yg sdh enak dibantu dan diselaraskan dgn penduduk asli,
> > > diberi hak menjalankan ibadahnya bahkan fasilitas disediakan untuk
> itu,
> > > tapi malah menuntut hukum agamanya yg diberlakukan menyamai hukum
> > > pemerintah setempat. Ini namanya dikasih hati mau jantung.
> >
> > Nah ini pernyataan perlu dikaji lagi. Karena bisa jadi yang dimaksud
> > Bu Roslina ini adalah orang Islam. Sebenarnya tidak pernah ada usaha
> > untuk meng-Islami- sasi hukum yang ada di Eropa sana. Yang ada adalah
> > permintaan untuk menghormati hak asasi manusia untuk bisa menjalankan
> > ibadah dengan tenang. Untuk sholat dan puasa, orang Eropa sudah pada
> > ngerti semua. Mereka, terutama yang agnostik, akan dengan senang hati
> > mempersilakan kita untuk beribadah, mau sholat, mau bermeditasi, dll.
> >
> > Kalaupun ada yang ekstrem, itu umumnya bukan mainstream orang Islam
> > disana, seperti halnya JI juga bukan mainstream orang Islam di
> Indonesia.
> >
> > Tapi kadang, ada permainan para politikus, misalnya masalah jilbab.
> > Persepsi orang Eropa, jilbab yang dikenakan perempuan itu karena
> > perempuan dipaksa menggunakannya oleh suami/bapak. Memang ada yang
> > demikian, tapi sebagian besar tentu karena keinginan sendiri. Justru
> > perempuan itu yang akan menolak, bahkan marah, kalau jilbabnya dilepas
> > dengan paksa.
> >
> > Pernah ada teman saya yang perempuan ditanya oleh orang Eropa, "Di
> > negara ini kamu sudah bebas khan? Kenapa tidak kau lepas saja
> > jilbabmu?". Tentu teman saya akan menjelaskan dengan baik, bahwa
> > jilbab itu adalah kewajiban. Memang ada yang ngikut, dan akhirnya
> > lepas jilbab. But that's their choice.
> >
> > Saat ini Eropa sudah mengalami kemajuan. Hari raya Islam sudah mau
> > diakomodasi menjadi hari libur nasional, atau setidaknya bagi umat
> > Islam. Berbeda dengan di Indonesia, yang mayoritas Islam, tapi umat
> > lain diberi hari libur tanpa kesulitan.
> >
>





       
____________________________________________________________________________________
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news, 
photos & more. 
http://mobile.yahoo.com/go?refer=1GNXIC

Kirim email ke