http://www.metrobalikpapan.co.id/berita/index.asp?IDKategori=82&id=79443
Kamis, 21 Juni 2007
Membebaskan Sebel Sial Para Sukerta
Tradisi Ruwatan di Jawa, Bali dan Sunda
Ruwatan hingga sekarang masih lestari jadi tradisi dalam masyarakat Jawa.
Bahkan juga dilakukan di Jawa Barat dan Bali. Upacara sakral ini dimaksud untuk
menolak bala, bahaya atau malapetaka. Di Jawa, mereka yang digolongkan rentan
kena bahaya disebut sebagai sukerta. Dan harus diruwat kalau tidak ingin
menjadi 'mangsa' Batara Kala, dewa raksasa yang bengis dan menakutkan.
MEREKA yang masih memegang kepercayaan pentingnya tradisi ruwatan
meyakini, orang yang diruwat akan terhindar dari bala sepanjang hidupnya.
Berapa banyak orang yang dimasukkan di dalam kelompok sukerta? Pujangga
Ronggowarsito dalam kitab Pustaka Raja Purwa menyebutkan orang sukerta ada 136
macam. Kitab Centini hanya menyebutkan 19 macam. Kitab Manik Maya dan Pakem
Pengruwatan Murwakala sama-sama menyebutkan orang sukerta ada 60 macam.
Sedang Serat Murwakala menyebutkan sebanyak 147 macam. Mereka yang
disebut sebagai penyandang sukerta sebagaimana yang tertera di dalam kitab
Pustaka Raja Purwa, di antaranya anak ontang-anting yaitu anak tunggal,
kedhana-kedhini yakni dua saudara kakak-beradik laki-laki dan perempuan, kembar
anak lahir bersamaan dalam sehari baik sama-sama lelaki maupun sama-sama
perempuan, dhampit anak kembar lelaki dan perempuan, gondhang kasih anak kembar
yang satu berkulit putih dan satunya berkulit hitam. Tawang gantungan kembar
lahirnya selisih beberapa hari juga tergolong sebagai sukerta.
Sukera lainnya adalah sakrendha anak lahir bersamaan sehari, dua atau
lebih, dalam satu bungkus. Wungkus, anak yang lahir dalam keadaan terbungkus,
wungkul anak yang lahir tanpa ari-ari atau placenta. Anak berkalung usus, yang
dinlai luwes memakai busana apa saja, juga anak sukerta yang disebut tiba
sampir. Tiba ungker anak lahir yang terbelit usus, maupun lahir tidak menangis
dikategorikan sukerta.
Anak lahir prematur adalah sukerta disebut jempina. Lahir di perjalanan,
atau margana juga sukerta. Beberapa sukerta lain adalah wahana anak yang lahir
di tengah keramaian, julungwangi anak yang lahir di saat matahari terbit,
julungsungsang anak yang lahir pas tengah hari, julungsarab anak lahir
menjelang matahari terbenam, julungpujud anak lahir pas saat matahari terbenam.
Penyandang predikat sukerta lainnya: sekar sepasang yakni dua perempuan
bersaudara, uger-uger lawang dua laki-laki bersaudara, pancuran kapit sendhang
tiga bersaudara, pertama lelaki, kedua perempuan, ketiga lelaki, sendhang kapit
pancuran, tiga bersaudara, pertama perempuan, kedua lelaki, ketiga perempuan,
saromba empat lelaki bersaudara. Sarimpi empat perempuan bersaudara juga
sukerta. Kemudian pancaputra lima lelaki bersaudara, pancaputri lima perempuan
bersaudara, pipilan lima bersaudara, empat perempuan dan satu lelaki, padangan
lima bersaudara, empat lelaki dan satu perempuan, siwah anak yang lemah mental.
Anak berkulit hitam legam juga termasuk sukerta disebut kresna. Sukerta lainnya
adalah wungle anak berkulit bule, walika orang kerdil, bungkul - orang yang
berbadan bongkok sejak lahir, dhengkak orang yang berdada serdih, butun orang
berpunggung bersih dan wujil orang yang cebol. Di dalam kitab lainnya
disebutkan pula sejumlah penyandang sukerta lainnya. Di antaranya orang yang
merobohkan dandang (tempat menanak nasi), orang yang mematahkan tempat menumbuk
jamu (dari batu), orang yang mematahkan gandik (alat penumbuk jamu), sampai
orang yang berdiri di tengah-tengah pintu, maupun yang duduk melamun dan
bertopang dagu.
Penyandang sukerta yang telah diruwat oleh sang dalang dengan mementaskan
wayang kulit dalam lakon yang khusus, diyakini akan terbebas dari malapetaka
karena lepas dari kejaran Batara Kala. Lantas, siapa gerangan Batara Kala yang
sangat ditakuti oleh sebagian masyarakat Jawa? Di dalam kitab-kitab pewayangan
disebutkan Batara Kala merupakan dewa raksasa buah perkawinan Batara Manikmaya
yang dikenal juga dengan sebutan Batara Guru dengan Dewi Umayi. Karena suatu
hal, Dewi Umayi berubah menjadi dewi raksasa bernama Batari Durga. Setelah
dilahirkan Batara Kala langsung membuat keributan dan memporakporandakan
Jonggring Saloka tempat bersemayamnya para dewa. Tidak hanya itu saja. Selain
mengamuk karena menuntut tahta di kayangan, Batara Kala juga bermaksud untuk
memperkosa Dewi Sri, isteri Batara Wisnu. Guna menghindar dari buruan Batara
Kala, Dewi Sri sampai menyelamatkan diri ke mayapada.
Nafsu birahi Batara Kala begitu membara dan tak bisa dipadamkan lagi. Ia
terus memburu Dewi Sri. Tapi Dewi Sri tetap berhasil menyelamatkan diri. Dalam
kondisi mabuk kepayang seperti itulah tiba-tiba Batari Durga, ibu kandungnya
sendiri, muncul. Batara Kala sudah gelap mata. Ia sudah tidak dapat lagi
membedakan antara ibunya dengan Dewi Sri. Karena perempuan yang muncul itu
dikiranya Dewi Sri, Batara Kala langsung saja menyergapnya. Batari Durga sudah
berusaha menjelaskan bahwa ia adalah ibunya, namun penjelasan itu sia-sia.
Batara Kala sudah dikuasai nafsu birahi. Batari Durga pun akhirnya pasrah
diperkosa Batara Kala, anaknya sendiri. Berdasarkan cerita atau riwayat
kehidupan Batara Kala yang pembuat onar dan malapetaka itulah, maka kemudian ia
diyakini sebagai mahluk pembuat malapetaka dan kehancuran kehidupan manusia di
dunia. Sehingga sejak dulu sampai kini, sebagian masyarakat Jawa meyakini bahwa
mereka yang terkena malapetaka dan bencana-bencana dalam kehidupannya itu telah
menjadi mangsa Batara Kala, sang pembuat malapetaka. Mereka yang termasuk dalam
kelompok penyandang sukerta, sebagai calon-calon mangsa Batara Kala, diyakini
akan dapat terbebas atau terlepas dari ancaman Batara Kala berkat bantuan sang
dalang yang mementaskan wayang kulit dalam acara ruwatan. Sang dalang yang
mementaskan wayang kulit itu diyakini sebagai titisan dari Batara Guru atau
Batara Wisnu, yang mampu menundukkan dan mengalahkan Batara Kala.(mol