Mas Tejo, seperti yg Anda bilang, jika semisal seorang wartawan bisa 
join di tim sukses seorang politikus nasional, itu baru salary 
namanya...Waahh...kira2 berapa persen ya wartawan yg bisa dapat 
kesempatan ini? Dan apakah di level2 reporter punya kans seperti 
ini? 

Latief  


--- In [email protected], Tejo Sulaksono <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Sebelum jadi reporter atau jurnalis jitu emang gaji kecil, dikejar-
kejar deadline malah bisa dihadang stres beneran. malah ada temen 
bilang diluar pernah ada perbandingan umur
>   jurnalis bisa lebih pendek ketimbang penerbang pesawat penumpang 
jet yang profesinya juga stres banget. Maap nimbrung bung, tapi 
semoha sukses dan sehat sehat gitu lah, lalu
>   bisa semisal join tim sukses seorang politikus nasional, nah itu 
baru salary namanya,
>   TSL
> 
> ibnu fajar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>             Menarik email dari pak Rezki, sebuah pertanyaan besar 
mengapa gaji (lebih tepatnya honor) seorang reporter sebegitu 
kecilnya. 
>    
>   Saya sendiri lulus dari fakultas komunikasi ketika saya mulai 
menggeluti karir di dunia media (yang memang sesuai dgn background 
pendidikan saya) ternyata muncul pertanyaan dari orang tua "yakin 
mau kerja di media, gajinya gak terlalu besar lho???". Tetap 
pekerjaan di media saya geluti sampai sekarang hampir 4 tahun dan 
ternyata memang gajinya tidak terlalu besar. 
>    
>   Ada yang bilang kalo kerja di media yang dikejar itu adalah 
kepuasan batin dan idealisme, tapi apakah kepuasan batin tsb bisa 
buat bayar tagihan listrik dan telpon tiap bulan. 
>    
>   Apakah karena industri media di Indonesia tidak terlalu 
menguntungkan yang menyebabkan standar gajinya rendah setahu saya 
belanja iklan di Indonesia masih cukup tinggi, atau sesimple para 
pekerja merasa cukup hanya dengan menikmati kepuasan batin setiap 
bulannya sehingga suka lupa minta naik gaji??? 
>    
>   Saya sendiri harus berpindah-pindah dari satu media ke media 
lain untuk memperbaiki standar gaji saya, karena menurut saya itu 
salah satu cara untuk bertemu langsung dengan manajemen perusahan 
dan berusaha negosiasi. Hasilnya dalam 4 tahun saya pernah bekerja 
di 7 perusahaan media, sebuah kondisi yang dipertanyakan pada CV 
saya tapi itu resiko yang harus saya ambil. 
>    
>   Bagaimana dengan teman2 yang lain, ayo dooong ini khan milis 
orang2 media...mbok ya jangan cuma posting untuk mempromosikan event 
atau berita dari perusahaan masing-masing. Siapa tau ada GM atau CEO 
atau mungkin owner dari salah satu perusahaan media yang ikutan 
milis dan langsung tergugah untuk menaikkan standar gaji 
karyawannya....amieeeeeeen 
>    
>   regards,
>    
>   ibnu
>   *Sambil berkhayal, kapan ya standar gaji pekerja media bisa jauh 
lebih baik dari sekarang.
>   
> 
>  
>   On 6/20/07, Rezki Perdana <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:             Kemarin, saya bertemu teman lama yang kini 
menjadi reporter di sebuah
> radio terkenal di Jakarta.Karena sudah lama tak bertemu banyak 
bahan
> obrolan yang dibicarakan. Kemudian iseng-iseng saya menanyakan soal
> gaji yang ia terima di radio itu. Saya menanyakan itu tanpa 
> sungkan-sungkan karena dulu saya cukup berteman akrab dengan dia.
> Alangkah kagetnya saya ketika dia bilang dia hanya dibayar
> Rp.15.000,-/berita. Hanya segitukah seorang reporter dihargai?.
> Kegelisahan ini kemudian saya bawa sampai ke rumah. Di rumah saya 
> iseng-iseng menghitung penghasilan dia sebulan. teman saya itu 
bilang,
> di radio itu setiap hari ia minimal harus dapat tiga berita. Saya
> kemudian menghitung jika dia setiap hari dirata-ratakan mendapat 
tiga
> berita berarti sehari dia dibayar Rp.45.000,- . Rp.45.000,- X 20 
hari
> kerja, berarti setiap bulan dia hanya mendapat Rp.900.000,-/bulan.
> Uang sebesar itu bagi reporter bujangan saja sangat tidak memadai.
> Saya bisa mengatakan itu, karena saya dulu pernah bekerja sebagai 
> reporter yang hanya digaji Rp 1.200.000,-. Uang sebesar itu bagi 
saya
> sangat tak memadai. bagaimana pula dengan teman saya yang hanya
> dibayar Rp 900.000,- /bulan, sementara dia mempunyai 4 orang anak,
> bahkan istrinya hanya ibu rumah tangga. Entah bagaimana dia harus 
> menutupi kekurangan dari penghasilannya yang minim itu.Dan parahnya
> lagi, bagaimana pula jika suatu saat ia sakit sehingga terpaksa tak
> kerja. Bagaimana keluarganya harus dibiayai, karena teman saya ini
> hanya bisa mendapat uang kalau dia menyetor berita yang hanya 
dihargai 
> Rp.15.000,-/berita.
> 
> Bagi saya, yang lebih sedih lagi adalah, karya intelektual seorang
> wartawan hanya dihargai sebesar Rp.15.000,- . Bayangkan saja, 
seorang
> wartawan floating seperti teman saya itu harus mengejar berita 
dari 
> satu tempat ke tempat lain. Dia harus mengeluarkan ongkos transport
> untuk mencapai tujuan. Belum lagi uang untuk beli makan dan minuman
> ketika bekerja. Media radio itu tampaknya tak menghargai hasil 
karya
> si reporter yang harus bertungkus lumus dan juga harus menguras 
otak 
> untuk membuat karya jurnalistik itu. semua itu hanya dibayar
> Rp.15.000,- hanya lima belas ribu perak coooy bayangkan seorang
> wartawan di Jakarta hanya dibayar lima belas ribu perak per berita.
> ini bagi saya KEJAM SEKALI!!, KEJAM SEKALI!!!. harus ada yang 
> bertindak untuk menaikkan penghasilan para kontributor radio 
seperti
> teman saya itu. Bagi teman-teman yang bekerja di radio itu,harus 
punya
> keberanian mendobrak manajemen untuk mempertimbangkan kenaikan gaji
> para kontributor itu. terus terang saya rasanya mau menangis 
mendengar
> pengakuan teman saya yang hanya dibayar Rp.15.000,-/berita.Uang
> sebesar itu bahkan tak cukup untuk tiga kali naik bis AC.
> 
> -Rezki Hasibuan- 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>   
> 
>          
> 
>        
> ---------------------------------
>  Yahoo! Answers - Get better answers from someone who knows. Tryit 
now.
>


Kirim email ke