Itu pendapat Anda, saya hargai. Jadi kalau mereka jadi imigran "baru" puluhan tahun, dan sudah punya citizenship negara itu, maka mereka juga harus dipersulit untuk mendapat sekadar penghormatan diberi jatah hari libur gitu?
Kalau ke Prancis, Anda akan menemukan banyak sekali orang keturunan Maroko dengan paspor Prancis. Kalau ke Jerman, Anda akan ketemu dengan banyak sekali gadis Turki yang aduhai, dan memegang paspor Jerman. Dan mereka semua membayar pajak dengan baik. Di Jerman Anda tahu berapa jumlah muslim disana? 3.4 juta dari 80 juta penduduk, itu artinya lebih dari 4%, dan sebagian besar sudah berpaspor Jerman. Demikian juga di Prancis. 4% muslim disana. Orang Hindu di Indonesia? Hanya 2%. Budha? 1%. Tapi orang Indonesia yang mayoritas muslim tetap menghargai, dengan memberikan hari libur kepada 2 agama ini. Dan tidak pernah sekalipun ada usulan, bahkan dari fundamentalis macam PKS apalagi yang moderat seperti PAN, PKB, PBB, untuk menghapus hari tersebut, meskipun prosentase mereka (barangkali) semakin menyusut. Dan yang mengusulkan itu bukan hanya dari orang Islam thok, tapi juga dari orang-orang yang punya pemikiran bersih, jauh dari fundamentalis dan opresi mayoritas, misalnya tokoh partai hijau Hans-Christian Ströbele dan Jürgen Trittin. Dan itu jelas usulan cerdas sebagai salah satu usulan integrasi. Tapi tentu, para fundamentalis elit CDU/CSU macam Stoiber dan Merkel tentu kebakaran jenggot, buat mereka tidak perlu memberi toleransi kepada orang Islam. Dan mindset itu juga yang ada di kebanyakan miliser disini yang sealiran dengan para fundamentalis tersebut. Dan perlu diingat, meski muslim di Prancis dan Jerman minoritas, tapi media di Eropa sendiri mengakui bahwa secara jumlah pun, muslim lebih banyak yang menjalankan ajaran agamanya, ketimbang mayoritasnya. Jadi kalaupun libur hari raya Kristen, sebenarnya hanya sedikit sekali yang merayakannya sesuai dengan konteks agama dan kitab sucinya. Jadi kalaupun beberapa hari libur agama 'mayoritas' (pakai kutip), digeser, maka mereka akan protes bukan karena agama, tapi karena kultur dan adat kebiasaan saja. > ..Berbeda dengan di Indonesia, yang mayoritas Islam, tapi umat lain diberi > hari libur tanpa kesulitan.. > > pertanyaannya, > apakah umat lain seperti hindu, budha, atau kristen di Indonesia adalah > pasti kaum pendatang atau imigran? > bukankah mereka sama asli Indonesia-nya dengan yang islam? > (sama pula suku bangsanya, jawa, batak, minang, manado, ambon, bali, dan > lain sebagainya..) > jadi sangat wajar jika hari besar agama mereka juga dijadikan hari libur > nasional.. > > sementara yang dibicarakan panjang lebar disini adalah para kaum > pendatang/imigran, > yang kesulitan beradaptasi/menyesuaikan diri dengan tempat tinggal barunya, > dan MALAH meminta negara (dan masyarakat) tempat tinggal barunya tersebut > untuk menyesuaikan diri dengan mereka..
