Refleksi saya: Jika ada yang bawa2 nama Islam untuk melakukan 
kejahatan, sebelum mengklaim salah dan benarnya bagi mayoritas 
muslim, bikin survey dulu, publish, lalu tunggu respon. Tindakan? 
masih lama kaleeeee



--- In [email protected], "Sunny" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Refleksi: Apakah  Amrosi cs yang telah dihukum  bukan karena 
perbuatan teror? Apakah ucapan-ucapan mereka bertiak di pengadilan 
tidak dikaitkan dengan agama? Sama halnya dengan perbuatan Laskar 
Jihad Sunnah Wal Jamaah, MMI. FPI etc yang main hantam kromo tidak 
ada kaitan dengan agama, tetapi berlambang saytan bin iblis? Kalau 
apa yang diteriakan  mencemarkan agama mengapa tidak ditegur atau 
dilarang?
> 
> http://www.suarapembaruan.com/News/2007/06/25/index.html
> 
> SUARA PEMBARUAN DAILY 
> 
> Terorisme Tak Terkait Ajaran Agama
> 
> Asumsi bahwa terorisme sepenuhnya merupakan fenomena agama, sudah 
tidak bisa dipertahankan. Demikian juga pandangan seolah-olah agama 
adalah pendorong terorisme, harus dikritik. 
> 
> Sebab, tidak semua fenomena kekerasan dan praktik intoleransi 
merupakan persoalan agama, melainkan sebagian besar persoalan 
politik. Demikian Muslim Abdurrahman, cendikiawan Muslim dari 
Muhammadiyah, dalam peluncuran hasil survei nasional 
tentang "Terorisme, Pesantren dan Toleransi Agama: Perspektif Kaum 
Muslim Indonesia." Survei ini merupakan hasil kerja sama The Wahid 
Institute dengan Indo Barometer, yang diluncurkan, Kamis (21/6) 
pekan lalu. 
> 
> Muslim mengatakan, persoalan paling penting dikaji saat ini bukan 
soal peran agama dalam memicu terorisme, tapi sejauh mana aparat 
keamanan dapat memotong aliran logistik kelompok terorisme. 
> 
> "Saya pikir pendekatan keamanan (security approach) oleh aparat 
Densus 88 untuk membasmi jaringan terorisme adalah lebih penting 
ketimbang membicarakan agama di pesantren," kata Muslim yang 
didampingi oleh Direktur The Wahid Institute, Yenny Zannuba Wahid. 
> 
> Sebab, menurut dia, seseorang yang mempelajari ayat-ayat di 
pesantren tidak otomatis akan menjadi teroris. Dalam survei 
nasional "Islam dan Terorisme", yang dilaksanakan bulan Mei 2007 
terhadap 1.047 responden beragama Islam di 33 provinsi, dapat 
disimpulkan bahwa mayoritas umat Islam masih merasa terorisme 
sebagai ancaman nyata bagi Indonesia. "Mayoritas responden, yakni 
sebesar 53,8 persen, setuju bahwa terorisme berupa bom masih 
merupakan ancaman di Indonesia," ungkap Mohamad Qodari, Direktur 
Eksekutif Indo Barometer. 
> 
> Mayoritas komunitas Muslim sendiri menyatakan, ajaran Islam tidak 
membolehkan terorisme, kekerasan, bersikap keras terhadap orang 
beragama lain, atau bahkan memerangi kemaksiatan dengan kekerasan. 
Ini tercermin dari pandangan mayoritas responden, yakni 71,8 persen, 
tidak setuju bahwa terorisme ada hubungannya dengan agama tertentu. 
Namun, ada persentase kecil umat Islam yang menyetujuinya. 
> 
> "Ini menunjukkan ada orang- orang yang berpotensi direkrut sebagai 
pelaku kekerasan atas nama agama, baik milisi agama maupun teroris, 
karena pandangan keagamaan mereka yang membolehkan kekerasan," kata 
Qodari. 
> 
> Survei lebih jauh menunjukkan, mayoritas umat Islam berpendapat 
bahwa sikap keras terhadap agama lain tidak akan menguntungkan 
Islam. Sebanyak 96,2 persen responden tidak setuju bahwa ajaran 
Islam mengajarkan sikap keras pada orang non-Islam. Dari survei itu, 
kata Muslim Abdurrahman, terbukti bahwa secara mainstream, umat 
Islam tetap berwatak baik dan toleran. "Terorisme sebagian adalah 
masalah politik," kata mantan pengurus PP Muhammadiyah tersebut. 
> 
> Diungkapkan, setelah Perang Afghanistan berakhir, terjadi 
domestifikasi jihad. Mantan pejuang jihad yang tidak lagi berperang 
di Afghan, menyebar ke sejumlah wilayah seperti Mindanao, Malaysia, 
hingga Indonesia. Mereka mencari-cari tempat untuk 
mendomestifikasikan pengaruh jihad tersebut. 
> 
> Muslim mengatakan, apabila terorisme adalah benar-benar persoalan 
agama, seharusnya terorisme bisa diluruskan dengan paham agama pula. 
Tetapi ternyata hal itu tidak mudah dilakukan. 
> 
> Ada cluster-cluster jihad yang tidak bisa dijangkau semua orang. 
Persoalan yang lebih penting lagi, Jamaah Islamiyah (JI) bukan 
fenomena di Indonesia, tetapi merupakan bagian dari sisa-sisa perang 
Afghan. JI, misalnya, disebutkan membikin 12 pesantren di Indonesia. 
Tetapi, santri-santrinya sama sekali tidak diketahui oleh organisasi-
organisasi Islam mainstream seperti NU dan Muhammadiyah. "Tahu-tahu 
saja Densus 88 nangkapin orang-orang seperti Abu Dujana," kata 
Muslim. [SP/Elly Burhaini Faizal] 
> 
> 
> Last modified: 25/6/07
>


Kirim email ke