Memangnya Presiden tidak baca koran, email, nonton TV, denger RADIO, berkumpul 
dengan kawan saudara dan juga tidak membaca laporan2?

Sungguh hebat kalo respon setelah satu tahunnnnnnnnnnnnnn hanya menangis dan 
"turun gunung"

Bos, Mereka butuh kepastian kapan dibayar, jumlahnya berapa..
Masa ngasih kepastian harus tunggu turun gunung dan memerlukan waktu "cuma" 
satu tahunnnnnnnnnnnn

Kesempatan ke dua sudah diberikan sewaktu mereka datang jauh-jauh dari Sidoarjo 
keJakarta hanya UNTUK MEMBERITAHU PRESIDEN:

"Wahai Bapak Presiden, kami ini datang dari jauhhhhhh...hanya memberitahu pada 
bapak bahwa kami sedang mengalami kesusahan yang luar biasa...seluruh indonesia 
tahu...seluruh dunia tahu..koq bapak ngga tahu 
ya????.....haloo...haloooo..halooo, oiiiiyyy Pak presiden...bapak dengar 
tidak???????...halooo..haloooo kami ini udah datang Pakkkkkk..."
---------------
"Pak presidennnnn.....kami ini rakyatttt bapak juga..kan????......kami ini 
masih  manusia juga kan pakkkk....beragama sama lho pak...malah banyak juga 
yang bersuku sama...!!!!!!!.....halooooo"
.............
"Wahai bapak Presiden...kami tahu pasti kalau bapak bukan presiden 
jadi-jadian....wong kami juga sudah turutt andilll koq...waktu pemilihan 
kemarin....banyak dari kami menyisihkan waktu, tenaga dan uang hanya untuk 
memilih wakil kami dari koalisi Bapak...untuk nyoblosss bapak waktu 
pemilu...pak kami juga turut andil bapak jadi 
presidennnnn.....halooooo...halooooo"
--------------
"Pak presiden....kami sudah datang lagi jauh-jauh....kerumah bapak...untuk 
menyampaikan...bagaimana dengan nasib kami..."

Akhirnya, keputusan yang diambil oleh presiden PENSIUNAN TENTARA BINTANG EMPAT, 
punya GELAR DOKTOR dari IPB ini pergilah ke Sidoarjo....

Rupanya keputusan untuk turun gunung ini sekaligus memberi pesan kepada para 
lawan politik nya:

"Wahai lawan-lawanku..ini bukti nyata bahwa AKU bukan TUKANG TEBAR PESONA!!"

Tapi koq keputusan itu tidak bisa diambil di Jakarta pak?

Lantas apa gunanya itu para pembantu dan juru bicara bapak, yang sudah lolos 
resuffle kemaren-kemaren itu??????

Bagaimana kalo diceburkannnn saja "para gentong-gentong nasi" itu ke lubang 
lapindo untuk menutup luapan...????

Setuju pakkkk????
--------------------------------------------------<<<<
From: Satrio Arismunandar [EMAIL PROTECTED]


KETIKA SEORANG PRESIDEN MENANGIS...

Tidak ada yang luar biasa. Itu kesan yang saya rasakan, ketika muncul berita di 
media bahwa Presiden SBY menangis, mendengar kisah derita sejumlah warga yang 
jadi korban lumpur Lapindo. Para warga itu datang ke kediaman resmi Presiden di 
Cikeas dan mengadu di sana. Diberitakan, Presiden SBY juga berang karena banyak 
laporan atau problem warga yang ternyata selama ini “tidak sampai” ke Presiden.

Soal seorang Presiden menangis mendengar penderitaan rakyat, bukan barang baru. 
Megawati ketika menjadi Presiden RI dulu juga menangis, mendengar kisah 
penderitaan rakyat Aceh yang jadi korban perang dan pelanggaran HAM.

Tidak ada yang salah dengan “menangis.” Menangis adalah ungkapan emosi atau 
perasaan. Sebagai manusia biasa, Presiden boleh saja menangis. Bahkan aksi 
menangis ini bisa menjadi “credit point” secara politik, karena seolah-olah 
menunjukkan sang Presiden memiliki kepekaan terhadap penderitaan rakyat.

Namun, masalahnya, aksi menangis itu justru bisa berbalik menjadi beban 
politik, jika Presiden kemudian gagal memberikan solusi yang adil, damai, dan 
menenteramkan rakyatnya. Aksi menangis ini justru akan dianggap “teatrikal” 
atau “sandiwara”, atau lebih konyol lagi: “lelucon politik.”

Yang dibutuhkan rakyat adalah tindakan nyata dari Presiden untuk menyelesaikan 
masalah, yang berlarut-larut telah makin menyengsarakan rakyat, dan belum 
kelihatan titik terangnya. Bahkan masalah Lumpur Lapindo ini tampaknya justru 
makin melebar.

Saya setuju bahwa masalah yang begitu berat (kasus Aceh, Lapindo, dan 
sebagainya) tidak bisa diselesaikan secara sederhana, seperti membalik telapak 
tangan. Namun, rakyat membutuhkan suatu guidance, suatu proses yang terlihat 
jelas mengarah ke penyelesaian masalah, sebelum mereka merasa tenang dan bisa 
diminta bersabar. 

Seperti orang berpuasa. Mereka harus menahan lapar dan haus sejak subuh, tetapi 
tahu pasti bahwa akhirnya, pada saat beduk maghrib bertalu, mereka boleh 
berbuka, meski cuma dengan seteguk air atau sebutir kurma. Nah, harapan semacam 
itulah yang harus terlihat di mata rakyat, meski mungkin belum ada solusi 
segera bagi problem-problem mereka.  

Jika Presiden SBY tidak menyadari hal ini, dan tidak bisa bersikap tegas atau 
mengambil langkah-langkah konkret yang perlu terhadap kasus Lapindo pasca 
“kisah menangis” tadi, ia justru akan semakin terjerat dalam lingkaran setan 
yang tak berujung. Akan muncul tuduhan macam-macam, entah benar entah tidak, 
bahwa ini sekali lagi cuma aksi “tebar pesona” atau “persiapan menjelang 
pemilihan umum 2009.”

Presiden SBY, janganlah ragu-ragu melakukan apapun, untuk kebaikan rakyat! 
Kesempatan mungkin tidak akan datang dua kali. ***    


Satrio Arismunandar 
Producer - News Division, Trans TV, Floor 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4026,  Fax: 79184558, 79184627

http://satrioarismunandar6.blogspot.com
http://satrioarismunandar.multiply.com  

"If you know how to die, you know how to live..."


      
___________________________________________________________________________________
You snooze, you lose. Get messages ASAP with AutoCheck
in the all-new Yahoo! Mail Beta.
http://advision.webevents.yahoo.com/mailbeta/newmail_html.html

[Non-text portions of this message have been removed]



=====================================================
Pojok Milis Komunitas FPK:

1.Milis komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM)
3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota
4.Kontak moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED]
5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED]

KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================

Yahoo! Groups Links




       
____________________________________________________________________________________
Moody friends. Drama queens. Your life? Nope! - their life, your story. Play 
Sims Stories at Yahoo! Games.
http://sims.yahoo.com/  

Kirim email ke