http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/062007/27/0902.htm


Mengapa Anda tak Membaca Buku?
Oleh BAMBANG TRIMANSYAH 

MASIH adakah orang Indonesia yang tidak antusias membicarakan buku daripada 
film? Bagaimana kalau buku yang difilmkan semacam "Harry Potter" atau yang 
terbaru semacam "The Pursuit of Happiness"? Bagaimana kalau film yang dibukukan 
semacam "Naga Bonar Jadi 2"? Dengan fenomena tersebut, kini tak pelak lagi 
secara pasti buku masuk ke dalam tren masyarakat. 

Apakah itu tren hiburan (entertainment), tren kontroversi, atau tren kebutuhan, 
semuanya menjadi perbincangan antusias. Oleh karena itu, kalau ada orang 
Indonesia yang tidak antusias membicarakan buku, bisa dipastikan ia adalah 
jenis manusia yang kurang pergaulan atau masih menjadi anggota masyarakat kelas 
pendengar, pemirsa, dan pengobrol yang hanya mengandalkan radio-tape, televisi, 
ataupun warung-kafe untuk menambah input pengetahuan mereka. 

Dari dulu, buku sebenarnya merupakan topik perbincangan menarik. Para penggemar 
karya-karya Karl May, pasti sangat antusias membincangkan Winnetou dan Old 
Shatterhand. Para penggemar Enyd Bliton, pasti antusias mengobrol tentang 
serunya Lima Sekawan. Para penggemar Hamka yang haus spiritual, pasti memuji 
"Di Bawah Lindungan Ka'bah" dan "Tenggelamnya Kapal Van der Wijk." Para 
penggermar R.A. Kosasih, pasti tidak akan lelah larut dalam obrolan tentang 
Mahabharata dan Pendawa Lima. 

Dahulu, buku adalah satu tren pergaulan yang melibatkan dunia fantasi, dunia 
petualangan, serta dunia realitas masyarakat kita. Saat itu, memang gempuran 
televisi belumlah sedahsyat sekarang. Membahas masa kini, daya tarik buku masih 
tetap eksis meskipun harus menggunakan kekuatan ekstra untuk tumbuh di dalam 
masyarakat yang katanya berminat baca rendah serta keranjingan televisi secara 
keterlaluan. 

Oleh karena itu, para penerbit buku di Indonesia adalah para pejuang budaya 
yang tetap berusaha tak kenal lelah, memasukkan unsur buku sebagai gaya hidup 
masyarakat. Jadi, tidak heran jika gempuran budaya buku dilakukan mulai dari 
balita hingga kepada manula. Buku-buku hebat pun diterbitkan yang mengharu-biru 
perasaan, melambungkan imajinasi, menggedor spiritualitas, memompa motivasi, 
menggelitik rasa ingin tahu, dan memberi seribu satu solusi. Lalu, mengapa Anda 
tak membaca buku? Kalau alasannya karena buku mahal, boleh dibandingkan harga 
buku kita dengan Singapura dan Malaysia serta timbanglah nilai benefitnya 
dibandingkan lembar puluhan ribu yang harus keluar. 

Kalau dibilang tidak suka baca, bagaimana mungkin Anda bisa hidup tanpa 
membaca. Kalau cuma alasan waktu, banyak sekali buku-buku praktis yang bisa 
dibaca dan dipahami dalam hitungan menit. Terkadang seseorang yang tidak 
membaca memang akhirnya ingin membaca ketika diberi rekomendasi dari 
suami/istri, sahabat, atasan, ataupun orang lain yang memintanya untuk membaca. 
Suatu kali seorang teman mengirimkan SMS kepada saya dengan ucapan terima 
kasih, karena telah merekomendasikan Financial Revolution karya Tung Desem 
Waringin untuk dibacanya. Beberapa teman yang menghadapi masalah juga begitu 
antusias, ketika saya rekomendasikan membaca "Quantum Ikhlas" karya Erbe 
Sentanu. 

Kali lain, seorang pengusaha muda, Sandiaga Uno, mengkhususkan satu hari untuk 
membaca "The Pursuit of Happiness" karena beliau diminta memberikan testimoni 
untuk edisi bahasa Indonesia dan katanya beliau merasa takjub dengan isi buku 
tersebut. Jadi, Anda tidak membaca buku karena mungkin tidak ada rekomendasi. 
Untuk itu, dalam aktivitas hidup Anda, perlulah ada agenda mengunjungi 
toko-toko buku ataupun pameran buku. Jangan menghabiskan waktu selama sebulan 
terlalu banyak berada di supermarket, minimarket, ataupun mal-mal yang tidak 
menambah sedikit pun input pengetahuan Anda. Lalu, apa yang bisa ditawarkan 
satu buku untuk melengkapi gaya hidup Anda sehari-hari? Dunia buku adalah dunia 
gagasan yang disampaikan lewat tulisan. 

Dunia yang lebih detail daripada dunia pertelevisian maupun radio 
siaran...Berbagai kemasan tersaji melengkapi hiruk pikuk hidup kita. Berikut 
ini adalah kemasan buku yang memiliki kecenderungan pasar sangat baik dalam 
industri perbukuan kita dan menjadi pilihan utama para pembaca. Anda bisa 
memilih salah satunya sebagai rekomendasi untuk melengkapi hidup Anda 
sehari-hari. 

Kemasan kebutuhan

Kebutuhan manusia berbeda-beda, tetapi ada tiga kebutuhan yang begitu diidamkan 
oleh masyarakat Indonesia, kini jika dihubungkan dengan pasar buku. Tiga 
kebutuhan itu adalah kesehatan, spiritual, dan pengembangan diri. Dalam dunia 
buku, tiga kebutuhan ini dikemas dalam bentuk self-help dan, how to yang memang 
praktis. 

Kesehatan. Buku-buku seperti terapi jus, diet golongan darah, dan pengobatan 
alternatif begitu laku keras dan menjadi buku wajib baca. Alasannya, sederhana 
karena kini penyakit begitu bersimaharajalela dan orang butuh panduan 
pencegahan sekaligus penyembuhannya.

Spiritual

Kecenderungan orang untuk kembali ke spiritual dan agama seperti yang 
ditengarai oleh Danah Johar memang benar-benar menjadi tren. Orang 
berlomba-lomba ingin saleh atau hidup di dunia berdasarkan tuntunan agama. 

Untuk kasus Indonesia, buku-buku spiritual Islam sangat laris manis. Buku 
semacam kecerdasan spiritual, salat, perilaku Nabi Muhammad saw. dan motivasi 
begitu diminati. Termasuk dalam kategori spiritual ini, juga adalah buku-buku 
motivasi yang ternyata begitu diperlukan masyarakat Indonesia untuk coba 
bertahan selepas krisis moneter dan berbagai bencana yang melanda Indonesia. 
Jadi, bukan satu kebetulan mengapa La Tahzan (Jangan Bersedih) begitu laku dan 
seolah menjadi bacaan wajib Muslimah Indonesia. 

Pengembangan diri

Masyarakat Indonesia sedang gandrung dengan topik motivasi dan bagaimana cara 
mengelola potensi diri. Hal ini diikuti dengan lahirnya banyak motivator serta 
trainer di Indonesia ini dengan berbagai pilihan topik. Ada Tung Desem 
Waringin, Andrie Wongso, Reza M. Sjarief, Jansen Sinamo, Ary Ginanjar, Rhenald 
Kasali, atau Kafi Kurnia. Setiap tokoh ini pasti diikuti dengan buku di balik 
sukses mereka. Satu hal lagi, semangat entrepreneurship pun begitu merebak di 
Indonesia seiring dengan keinginan untuk kaya, sehingga buku-buku entrepreneur 
pun mengalami bulan madu dengan para pembaca buku Indonesia dalam dua tahun 
belakangan ini. 

Kemasan popularitas

Siapa yang popular atau siapa yang sedang naik daun, pantaslah bukunya untuk 
dibaca. Oleh karena itu, para tokoh popular seperti pejabat atau artis, banyak 
yang membukukan perjalanan hidupnya ataupun kisah suksesnya. Lihatlah bagaimana 
buku seorang Tukul terbit dalam beberapa versi, untuk menangkap peluang di 
balik popularitas Tukul. Buku-buku semacam ini bolehlah dibaca sebagai hiburan 
sekaligus pelajaran bagi para pembaca, tentang tokoh popular yang dielu-elukan 
banyak orang.

Namun, awas terjebak karena banyak juga buku-buku dengan tren popularitas ini 
hanya sekadar kosmetika, untuk melambungkan sosok sang popular. 

Kemasan kontroversi 

Apa yang kontroversi selalu menarik untuk diketahui. Topik kontroversi ini juga 
menjadi bahan renyah satu perbincangan dan kalau Anda membaca bukunya, Anda pun 
tampak lebih menguasai persoalan daripada yang lain. Apa contoh buku 
kontroversi? Produk luar kita bisa menyebut semacam "Da Vinci Code" karya Dan 
Brown atau "The True Power of Water" karya Masaru Emoto.

Untuk yang lokal, ada "Detik-detik yang Menentukan" karya B.J. Habibie dan 
"IPDN Undercover" karya Inu Kencana. Buku-buku seperti ini memang bisa langsung 
menyedot perhatian dan luar biasa larisnya. 

Lihat saja bagaimana kontroversi buku Inu Kencana, justru semakin memacu 
penjualan buku tersebut. Bahkan, buku tersebut diikuti dengan beberapa versi 
lain yang juga melibatkan Inu Kencana. Buku "Detik-Detik yang Menentukan" juga 
melibatkan perdebatan para jenderal sehingga membuat buku tersebut laku keras, 
bahkan sempat inden pemesanannya.

Jika ditilik, hiruk pikuk dunia buku juga menarik seperti halnya hiruk pikuk 
hidup kita. Kita membutuhkan sesuatu yang mencerahkan seperti halnya pengalaman 
orang lain (penulis) dalam buku. Untuk itu, hidup kita pun bisa diwarnai 
berdasarkan semangat buku-buku yang kita baca. Jika sudah berada di antara 
buku-buku, Anda pun akan ditanya: Mengapa Anda tak membaca buku? Padahal, 
inilah salah satu modal kita yang paling murah untuk meningkatkan kualitas 
hidup.***



Penulis, dikenal dengan nama pena Bambang Trims, praktisi perbukuan nasional 
dan Ketua Forum Editor Indonesia.

Kirim email ke