Darah Orang Utan Tertumpah Di Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia
June 8th, 2007 by Rebecca Henschke
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan, dalam sepuluh tahun
mendatang, bisa jadi, orang utan di alam liar akan punah.
Pengembangan perkebunan kelapa sawit yang pesat di Kalimantan dan
Sumatra merupakan ancaman terbesar hewan tersebut. Orang utan, kerap
dicap sebagai pengganggu, dan dibunuh karena nyasar dari habitatnya
ke perkebunan tersebut.
Pusat Nyaru Menteng Borneo Orangutan Survival atau BOS di Kalimantan
Tengah, berjuang untuk menyelamatkan hewan itu dan berupaya
mengembalikan orang utan ke alam liar.
Rebecca Henschke melaporkan sola tugas yang tambah sulit bagi yang
dihadapi pusat tersebut.
Sekarang pukul 4.30 sore, sekolah sudah usai. Sepuluh orangutan muda
kembali ke rumah setelah seharian di hutan. Beberapa bergulingan
gembira di atas rumput, yang lainnya berjalan patuh, menggandeng
tangan pengasuh mereka.
Seharian ini mereka di Sekolah Hutan, di mana orangutan belajar untuk
hidup di alam liar.
”Kalau kita di sini tugasnya sebagai baby sitter, sebagai ibu
pengganti, sebagai ibu pengasuh untuk orangutan. Karena mereka
kebanyakan di sini banyak bayi orangutan yang sudah tidak punya ibu
lagi, seperti diambil dari lahan sawit, ibunya dibunuh, atau ada yang
dimakan orang. Jadi kita di sini perannya sebagai ibu pengganti.
Makanya kita namakan di sini sebagai Sekolah Hutan.”
Dengan bangga Hani menunjuk ke salah satu muridnya, Rebecca, yang
tengah memanjat pohon terdekat. Rebecca segera lulus dan pindah ke
Sekolah Hutan tingkat lanjutan, setelah itu baru kembali ke alam bebas.
Menyakiti orangutan adalah ilegal di Indonesia, tapi di kantor Pusat
Nyaru Menteng Borneo Orangutan Survival atau BOS terpampang sejumlah
foto mengerikan dari kebun-kebun kelapa sawit. Orangutan dengan
tangan yang terpotong atau dibunuh secara mengerikan dengan kampak,
ada juga yang mati dengan peluru menembus kepala.
Hardi Baktiantoro, Direktur Pusat Perlindungan Orangutan COP.
“Satu orangutan yang berhasil kita selamatkan mungkin mewakili 5
lainnya yang sudah terbunuh di lapangan. Mereka untuk tangkap satu
orangutan, harus pukul kepalanya lebih dahulu, karena orangutan
sangat kuat dan berbahaya. Sehingga rata-rata hampir 100 persen
orangutan yang berhasil kami selamatkan punya luka sangat serius di
tangan atau kepala. Bahkan banyak diantara mereka yang mati karena
tulang kepalanya remuk. Para pekerja perkebunan juga mengaku ’saya
sudah bunuh 12’ ’saya sudah bunuh 10’ ’oh yang kemarin baru dibunuh’.”
Ketika kami berbincang, tim penyelamat BOS tengah pergi ke kebun
kelapa sawit.
Pemilik kebun sawit mengaku berusaha lebih bertanggungjawab atas
penangkapan orangutan, juga melaporkan ke BOS kalau ada orangutan di
kebun kelapa sawit mereka. Begitu kata Tim Mann dokter hewan asal
Australia yang sudah 9 bulan bekerja di sana.
“Hampir setiap pekan salah satu anggota tim medis kami pergi ke
perkebunan sawit untuk misi penyelamatan. Biasanya begitu tim
penyelamatan tiba, besoknya tim lain akan berangkat lagi. Masalahnya,
kebun sawit terus dibuka, di situlah konflik terjadi. Tapi kami cuma
punya kontak dengan 10 perkebunan di sini. Bagaimana dengan yang
lain? Banyak orangutan yang dibunuh, tapi kita tak tahu soal itu.”
Orangutan sehat yang ditemukan tim penyelamat BOS lantas dilepas
kembali ke hutan terdekat. Sementara yang terluka atau terlalu muda
untuk dilepaskan sendirian bergabung dngan 600 lainnya di pusat
rehabilitasi itu.
Kata Hani, tujuannya adalah untuk merehabilitasi orangutan, mengajari
mereka bagaimana cara hidup di alam, kemudian melepas mereka.
“Kalau sudah di sekolah hutan, tahapnya baru ke pra-release, baru
tahap release, tahap akhir ke hutan alami. Itu yang kita harapkan
sebagai ibu di sini, semoga anak asuh kami punya tempat yang layak
seperti hutan lindung yang banyak sumber makanan untuk mereka
sehingga mereka benar-benar punya rumah yang bagus, hutan yang bagus.”
Tapi sejauh ini belum pernah ada orangutan yang dilepas.
Dengan deforestasi yang berjalan pesat, sulit menemukan tempat yang
tepat untuk orangutan.
”Kalau terus begini, tempat ini harus menutup pintu dari kedatangan
orangutan yang baru. Sebab ada masalah dengan pertukaran penyakit.
Kita tentu tidak mau sampai ke fase yang kontra-produktif, di mana
orangutan yang ada jadi sakit, tertular dari pendatang baru.”
Sementara kami berbincang, Samson, orang utan yang sudah agak tua,
dan memakai memakai popok, mendatangi Tim dan mencoba mencuri
perhatiannya. Samson, sakit parah dan harus transfusi darah.
Orang utan yang hidup di alam liar adalah mahkluk yang suka
meneyendiri. Jadi kalau hidup berberdekatan seperti di tempat ini,
jauh dari keadaan yang ideal.
Kami mengelilingi pulau Kaja, yang merupakan tempat tahap akhir
proses rehabilitasi. Tiga pulau sungai indah kini merupakan tempat
latihan bagi orang utan yang lebih tua dan trampil. Bahkan hewan-
hewan in telah Sekolah Hutan tingkat paling tinggi.
Empat orang utan bergantung dari pohon ke pohon, mendekati makanan.
Di sisi lainnya salah satu orang utan betina bersama bayi kecilnya,
dengan hati-hati, mendekati air.
Empat puluh orang tuan yang hidup di pulau ini dan dikasih makan
hanya sekali sehari.
“Tapi harapan kami adalah dari tempat ini mereka bisa dilepaskan ke
alam bebas, jadi mereka dengan bebas bisa mengekspresikan diri dan
tinggal di rumah hutan mereka dengan sungguh-sungguh dan tidak lagi
bergantung pada kami.”
Tapi misi ini semakin menantang, mengingat pembabatan lahan yang
semakin pesat, untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit.
Berhadapan dengan kritikan pedas terhadap industri minyak kelapa
sawit, mendorong terbentuknya Forum Rembug Kelapa Sawit
Internasional, RSPO. Aturan main yang disepakati bersama mencantumkan
diadakannya koridor orangutan di semua perkebunan.
Tetapi menurut Hardi ini jauh dari cukup.
“Tujuan-tujuan dari SPO sangat ideal, sangat bagus sekali. Disitu ada
kriteria-kriteria dan segala macam. Tapi fakta di lapangan bahwa,
saya melihat RSPO hanya semacam alat. Bahwa mereka adalah
sustainable. Tapi kenyatannya di lapangan tidak. Mereka bikin meeting
tetapi kenyataannya di lapangan mereka tetap menebang hutan. Bahkan
perusahaan-perusahaan yang sudah jelas menurut penilaian kami menurut
adalah penjahat linkungan, membunuh orang utan, membabat hutan,
mereka bisa menjadi anggota RSPO dengan mudah sekali. Tidak merubah
apapun. Kalau mau sustainable, stop membuka.”
Waktu kami keluar, kami melewati sebuah kuburan yang ditandai dengan
patung kayu orang utan. Bila industri kelapa sawit tidak diawasi
dengan ketat, maka… masa depan orang utan akan suram.
DENGARKAN VERSI AUDIO-NYA DI:
http://asiacalling.kbr68h.com/index.php/archives/571
HARDI BAKTIANTORO
CENTRE FOR ORANGUTAN PROTECTION
PO.BOX 2406 JKP 10024
JAKARTA - INDONESIA
[EMAIL PROTECTED]
www.orangutanprotection.com