Yth Pak Sumar, nampaknya di Bali Post agak tercecer fakta sejarah bahwa pada waktu pembersihan RMS tahun 1950, saya masih di Jogja sebagai bocah umur 10 tahun, angkatan perang RIS didalam tugas ini dipimpin oleh overste (letkol) Slamet Rijadi, seorang putra asal Solo, Jateng.
Beliau tewas dalam menunaikan tugas, menjadi BrigJen Anumerta, dan namanya konon terpancang disebuah jalan utama di kota asalnya. Saya ingat samar-samar ketika itu di Jogja tersebar berita bahwa Letkol Slamet Rijadi setelah mendarat disebuah pantai (Ambon?) dengan pasukannya segera membangun "beachhead". Namun pasukan RMS yang dikatakan terdiri dari banyak mantan anggota KNIL memang berpengalaman perang, termasuk dalam pelemparan pisau (commando knife). Cukup banyak tentara Indonesia yang tewas. Pada saat itulah Letkol Slamet Rijadi gugur sebagai pahlawan bangsa, yang pengorbanannya sangat patut kita kenang sepanjang zaman. Salam ke Long Island, Pak, Bismo DG ----- Original Message ----- From: sumarsastrowardoyo To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] Sent: Saturday, June 30, 2007 5:56 AM Subject: #sastra-pembebasan# RMS dari Masa ke Masa Riwayat singkat RMS Bali Post Sabtu Pon, 30 Juni 2007 RMS dari Masa ke Masa 27 Desember 1949: Belanda mengakui kedaulatan Indonesia, waktu itu Republik Indonesia Serikat (RIS). Kemudian, RIS membentuk Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). Tetapi, tentara KNIL asal Ambon tidak bersedia bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia sebagai pasukan inti APRIS. 25 April 1950: Republik Maluku Selatan (RMS) diproklamasikan orang-orang bekas prajurit KNIL dan pro-Belanda (di antaranya Chr. Soumokil, Ir. J.A. Manusama dan J.H. Manuhutu), dengan presiden Dr. Chr. R. S. Soumokil. RMS bertujuan menjadi negara sendiri lepas dari Negara Indonesia Timur. 13 Juli 1950: Konferensi Maluku di Semarang, dan para politikus asal Ambon minta pengiriman misi perdamaian ke Ambon, tetapi gagal. Akhirnya pemerintah pusat memutuskan untuk menumpas RMS. 14 Juli 1950: Pasukan ekspedisi APRIS/TNI mulai menumpas pos-pos penting RMS. Sementara RMS yang memusatkan kekuatannya di Pulau Seram dan Ambon. 18 November 1950: Kota Ambon dikuasai APRIS. Soumokil menyelamatkan diri. Sisa-sisa RMS melarikan diri ke hutan dan untuk beberapa tahun lamanya melakukan kegiatan perlawanan. 18 Desember 1950: Pulau Seram dikuasai APRIS. Februari 1951: Kabinet Belanda di Den Haag memutuskan, mengangkut sisa para serdadu Ambon di Jawa, untuk didemobilisasi di Belanda. Belanda berjanji, suatu hari mereka bisa mudik ke ''Ambon yang bebas''. 21 Maret 1951: Rombongan pertama bekas prajurit Belanda asal Maluku (KNIL), bersama keluarga mereka, tiba di Rotterdam, Belanda menggunakan kapal laut. Kemudian, disusul sekitar 12 ribu dengan angkutan 14 kapal. Mereka menetap dan beranak pinak, jumlah orang Maluku itu kini (2003) sekitar 45.000 jiwa. 1953: Manusama kabur dari New Guinea atau Irian Barat ke Belanda. Tahun '50-an Suara di dalam masyarakat Maluku menyimpang dari masalah hak-hak militer KNIL ke realisasi dari idealisme politik RMS. 2 Desember 1963: Soumokil tertangkap. 1964: Soumokil diadili dan dijatuhi hukuman mati oleh Mahmilub. 12 April 1966: Presiden RMS Soumokil yang sejak 1963 dipenjara oleh pemerintah Indonesia dieksekusi. 1970-an: Masyarakat Maluku di Belanda merasa tidak adil dan dikibuli Belanda. Mereka meluapkan emosi, melakukan serangkaian aksi kekerasan sepanjang 1970-an. Akhirnya menelurkan persetujuan antara Belanda dan Indonesia mengenai pemulangan orang Maluku Belanda ke Indonesia secara sukarela. 1978: Parlemen Belanda menutup kasus RMS, tidak mengadakan kontak resmi di antara dua pemerintahan. 1986: Penjelasan bersama dari pemerintah Belanda dan Badan Persatuan. Perjanjian mengenai jaminan hidup untuk ''generasi pertama'', pengaturan fasilitas perumahan dan peluang kerja bagi mereka (orang Maluku). 1992: Maluku Selatan menjadi anggota UNPO (Unrepresented Nations and Peoples Organisation), organisasi bangsa- bangsa dan rakyat yang tidak cukup terwakili di forum internasional, seperti PBB. 1993: Manusama menyerahkan kepemimpinan RMS kepada dokter yang telah pensiun F. Tutuhantunewa. 1996: Manusama meninggal. 25 April 2001: Pimpinan Eksekutif Forum Kedaulatan Maluku (FKM), Dr. Alex Manuputty, memelopori pengibaran bendera RMS pada peringatan ulang tahun proklamasi RMS, 25 April 2001, di kediamannya, kawasan Kudamati, Ambon. 12 Februari 2002: Umat Islam dan Kristen di Maluku, yang terlibat konflik Maluku (sejak 19 Januari 1999), menandatangani perjanjian Malino. Salah satu kesepakatan menolak segala bentuk gerakan separatis, termasuk RMS. 25 April 2002: Pada peringatan proklamasi RMS ke- 51, diadakan pengibaran bendera RMS di Maluku. Akibatnya, sedikitnya 23 pengikut dan pendukung FKM ditangkap aparat keamanan. Di Den Haag, RMS memperingati hari proklamasinya di gedung olah raga Uichof dengan dihadiri sekitar 1.000-2.000 orang Maluku. 22 Oktober 2002: Majelis hakim PN Ambon memvonis 2- 5 tahun penjara potong tahanan terhadap 15 tersangka pendukung FKM yang mengibarkan bendera RMS, 25 April 2002. 17 Maret 2003: Pimpinan Eksekutif dan Pimpinan Yudikatif FKM Dr. Alexander Hendriks Manuputty dan Waleruny Semuel alias Semmy ditangkap untuk kedua kalinya oleh Polda Maluku. 25 April 2003: Sekitar 60 orang ditahan aparat keamanan di Ambon, berkaitan dengan peringatan hari ulang tahun RMS. Lantaran didapati menjahit atau mengibarkan bendera RMS yang diberi nama "Benang Raja". Dari 139 pengikut RMS yang ditangkap itu, 129 di antaranya dijadikan tersangka. 25 April 2004: Ratusan pendukung RMS memancangkan bendera RMS di Kudamati. Kemudian, beberapa aktivisnya diarak polisi ke Markas Polda. Lalu terjadi konflik dengan kelompok Negara Kesatuan Republik Indonesia. 4 Mei 2004: Dua pentolan gerakan sparatis RMS, Yacobus dan Matius, diringkus aparat dari Polda Jawa Timur di Bandara Juanda, Surabaya. 6 Mei 2004: 11 tersangka FKM/RMS digiring ke Mabes Polri, di antaranya Sekjen FKM/RMS Moses Tuanakota, istri Alex Manuputi (Nyonya Olli Manuputi) dan putri Alex (Kristina Manuputi).
