http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=36839
TKI pun Rawan Perkosaan
(25 Jun 2007, 537 x , Komentar)
AKSI kekerasan dan pelecehan seksual tidak hanya rawan dialami para Tenaga
Kerja Wanita (TKW) di Arab Saudi. Tenaga kerja pria pun tidak luput dari
penderitaan seperti itu.Laporan Hanura dari Madinah
SAAT menunggu waktu salat Isya di Masjid Nabawi, Sabtu 23 Juni, saya dihampiri
dua orang pemuda. Dari wajahnya, saya menebak bahwa mereka adalah warga
Indonesia. Keduanya lantas menyalami saya sambil memperkenalkan diri.
"Assalamu alaikum, saya Amrullah," kata salah seorang dari dua pria itu. "Kalau
saya, bernama Iwan," ujar pria yang satu lagi. Sayang, kami tidak sempat
mengetahui daerah asal mereka di Indonesia. Meski begitu, obrolan dengan kedua
pemuda itu berlangsung akrab.
Keduanya mengaku sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang berangkat melalui
salah satu biro jasa TKI di Jakarta. Selama setahun berada di Arab Saudi,
mereka mengaku lebih banyak menderita. Mereka kerap dipukuli oleh majikan tanpa
alasan yang jelas.
Dia ingat suatu kali sempat ditampar oleh majikannya. Amrullah hanya bisa
pasrah tanpa bisa memberi perlawanan. Perlakuan lain yang dia terima adalah
pada tiga bulan pertama ia bekerja. Saat itu, Amrullah mengaku tidak diberi
makan. Dia juga dibiarkan tidur di lantai tanpa kasur.
Mereka juga tidak pernah keluar rumah pada malam hari sendirian. Jika itu
dilakukan, maka risikonya berat. Dia bisa diculik dan "diperkosa" atau bahkan
dibunuh. Di Arab Saudi, kasus kekerasan seksual tidak hanya bisa menimpa
wanita. Laki-laki pun kerap menjadi korban. "Aneh, tetapi inilah kenyatannya,"
tuturnya.
Iwan yang sudah setahun di Arab Saudi mengaku berangkat dengan uang pinjaman
Rp20 juta. Sedangkan Amrullah harus meminjam Rp15 juta. Hingga setahun mereka
bekerja, mereka belum pernah mengirim uang ke kampung untuk bayar utang.
Jangankan untuk dikirim ke kampung, untuk menutupi kebutuhan di Arab Saudi saja
tidak cukup.
"Cukuplah kami yang merasakan penderitaan ini. Kami hanya bisa berpesan, jangan
biarkan keluarga atau saudara Anda bekerja di Arab Saudi. Bekerja di sini lebih
banyak penderitaannya dibanding bahagianya. Kalau bisa pengiriman TKI ke sini
dihentikan saja," katanya mengingatkan.
* Ziarah ke Masjid Quba
Hari Sabtu, rombongan jamaah umrah Konsorsium Lailaha Illallah mengisi waktu
dengan berziarah ke beberapa tempat bersejarah di Madinah. Tempat-tempat itu
antara lain Masjid Quba, Qiblatain, Jabal Uhud, dan kebun kurma.
Masjid Quba terletak lima km arah barat daya Madinah. Inilah masjid yang
pertama kali dibangun Nabi Muhammad SAW saat hijrah ke Madinah. Kami berangkat
dengan menumpang empat bus dan didampingi pembimbing, masing-masing HM Natsir,
KH Abdul Hamid Jamaluddin, Muslimin, dan Nuhadi Mahmud.
Di Jabal Uhud, rombongan sempat berdoa untuk para syuhada Perang Uhud. Doa yang
berlangsung khusyuk ini dipimpin HM Natsir. Seluruh anggota rombongan sangat
terkesan dengan tempat-tempat bersejarah itu. "Kami merasa puas atas pelayanan
ini," kata Makmur, seorang jamaah asal Toddopuli, Makassar.
Kemarin, jamaah Konsorsium Lailaha Illallah diberi kesempatan untuk
beristirahat. Tidak ada jadwal ziarah dari penyelenggara. Hal ini disengaja
untuk menyiapkan fisik jamaah untuk berangkat ke Makkah hari ini. Kami menuju
Makkah pukul 14.00 siang waktu setempat. (*)
Komentar pembaca