Pada awalnya manusia itu diciptakan tanpa adanya rasa malu, oleh 
sebab itulah tidak ada Gen atau DNA rasa malu. Rasa malu ini baru 
timbul setelah Adam & Hawa makan buah yang terlarang, dimana mereka 
ingin menutupi aurat mereka dengan daun. Dari sinilah timbul awalnya 
perkataan "kemaluan" untuk aurat. Aurat wanita dalam bhs Latin = 
Pudendum femininum (kemaluan perempuan). Malu dlm bhs Inggris = 
shame diserap dari kata scama/scamu sedangkan tidak mempunyai rasa 
malu dlm bhs Jerman disebut scham-los atau sudah kehilangan rasa 
malunya. 

Rasa malu itu ini sebenarnya merupakan budaya. Misalnya perempuan di 
Arab mungkin akan merasa malu apabila wajahnya kelihatan oleh sebab 
itulah mereka pakai burka, tetapi kebalikannya di Eropa banyak orang 
berbugil-ria dipantai tanpa adanya rasa malu sedikitpun juga. 

Rasa malu ini sebenarnya merupakan ciptaan dari orang tua maupun 
lingkungan kita. Masih terngiang-ngiang oleh saya perkataan dari Ibu 
atau Ayah saya dimana mereka mengatakan: "Apakah tidak malu tuh, 
kalau kelihatan/ketahuan sama tentangga, teman atau …..

Maka dari itulah rasa malu ini juga sering digunakan sebagai senjata 
entah untuk mendidik ataupun untuk mempermalukan musuh ataupun 
saingannya. Dengan cara menyebarkan gosip di media ataupun 
dilingkungan kampung khusus untuk mempermalukan seseorang. Disamping 
itu rasa malupun bisa digunakan sebagai senjata untuk memaksa 
seseorang melakukan sesuatu umpamanya untuk membayar hutang, rajin 
belajar, kerumah ibadah ataupun bekerja.

Rasa malu seseorang timbul berdasarkan pengalaman, ketika kita 
menjadi buah tertawaan orang, ataupun ketika kita dipermalukan orang 
dihina maupun dicemoh oleh sebab itulah juga timbul pepatah: sehina 
semalu.

Rasa malu dapat membuat orang menjadi depresi, bahkan tidak jarang 
orang bunuh diri, karena rasa malu misalnya di Jepang yang memiliki 
budaya rasa malu yang tinggi. Walapun demikian mereka tidak disebut 
sebagai bangsa pemalu, orang jadi pemalu apabila tidak memiliki Pe-
De (percaya diri sendiri). Rasa malu juga bisa mendorong orang 
melakukan kejahatan. Orang jadi maling, karena merasa malu tidak 
memiliki kendaraan bermotor !

Rasa malu bisa saja timbul tanpa disebabkan oleh kesalahan kita 
sendiri, melainkan karena keadaan yang membuat diri kita jadi malu 
misalnya dilahirkan dikeluarga miskin, tidak memiliki pendidikan 
tinggi, tidak memiliki pekerjaan, tidak memiliki wajah cantik.

Berapa banyak perempuan yang merasa malu, karena masih tetap 
melajang, walaupun usia sudah mencapai diatas 40 tahun. Orang juga 
bisa mempunyai rasa malu, karena akibat dari penyakit misalnya 
bopeng, kanker payudara dsb-nya.

Rasa malu itu adalah ciri khas dari manusia, sebab setiap manusia 
memiliki rasa malu. Hanya para pengidap psikopat dan binatang saja 
yang tidak mempunyai rasa malu. Disamping itu, karena adanya rasa 
malu inilah yang bisa ngerem kita untuk tidak melakukan hal-hal yang 
melanggar etik/hukum, walaupun demikian tidak bisa dipungkiri bahwa 
di Indonesia sekarang ini budaya malu sudah hilang, karena remnya 
sudah blong total !

Kagak percaya lihat saja dilingkungan sekitar anda, dimana tipsani 
(tipu sana sini) maupun pisani (pinjam sana sini) sudah merupakan 
kebiasaan/budaya sehari-hari. Ini tidaklah heran, karena para 
pemimpin negara maupun agama pun sudah banyak yang putus urat 
kemaluannya. Mereka melakukan korupsi, menindas rakyat maupun 
berselingkuh sudah merupakan budaya bangsa maupun ciri khas dari 
para pemimpin kita.

Kalau dahulu kita merasa malu disebut berselingkuh, tetapi sekarang 
merasa bangga apabila memiliki PIL/WIL (Pria atau Wanita idaman 
lainnya). Kalau dahulu kita merasa malu apabila kita ketahuan 
korupsi, tetapi sekarang anda akan dinilai bodoh bin Go-Block 
apabila tidak memanfaatkan kesempatan emas ini. 

Para pejabat tinggi akan merasa bangga apabila kekayaannya 
dipublikasikan, bahwa selama masa jabatannya  yang walaupun belum 
juga mencapai dua tahun, tetapi telah mampu memperlipatkan gandakan 
kekayaannya.

Anda harus merasa malu, apabila tidak bisa liburan keluar negeri, 
atau tidak memiliki tas atau sepatu bermerk atau tidak mampu 
menyekolahkan anak disekolahan bergengsi. Terlebih lagi anda harus 
malu apabila jadi orang kere ataupun tidak punya gawean. Inilah 
norma-norma yang ditanamkan di dalam benak bangsa kita melalui para 
pejabatnya maupun maupun film-film sinetron yang ditayangkan setiap 
hari di TV.  Apakah mungkin bangsa kita ini sudah menjadi bangsa 
yang tidak tahu malu ??? Mohon petromaksnya.

Mang Ucup
Email: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: www.mangucup.net

Kirim email ke