Kolom IBRAHIM ISA
Minggu,  01 Juli 2007
-----------------------------

TIONGKOK Yang  KUKENAL  <5>
<< 10 Tahun  Pulihnya HONGKONG  Ke TIONGKOK>>

Kemarin,  30 Juni 2007,  pas sepuluh tahun yang lalu terjadi suatu
peristiwa yang unik dan historis. Di Hongkong peristiwa ini
diperingati secara besar-besaran. Sepuluh tahun sejak Hongkong kembali
ke pangkuan ibu pertiwi Tiongkok. Presiden RRT Hu Chingtao sendiri
berkunjung ke Hongkong untuk ambil bagian dalam kegiatan peringatan
tsb. Memperingati 10 tahun Hongkong kembali ke pangkuan tanah air
Tiongkok, bebas dari kolonialisme Inggris. 

Memang ada alasan kuat, bukan saja  untuk memperingati, tetapi juga,
----   merayakannya. Karena selama 10 tahun belakangan ini,
pertumbuhan ekonomi Hongkong berkembang terus dan sistim politik
Hongkong tidak mengalami  'kemunduran' seperti diramalkan sementara
fihak.. 

Tidak sedikit ramalan-ramalan negatif dari jurusan Barat, terutama
dari fihak Inggris dan juga kalangan-kalangan di Hongkong dan di Asia.
 Pandangan dan  s ikap anti-Tiongkok mereka-mereka itu sudah begitu
mendarah daging,  sampai memprediksi bahwa dengan kembalinya Hongkong
ke Tiongkok, akan terjadi perubahan besar bagi status dan  peri
kehidupan rakyat Hongkong. Kembalinya Hongkong ke Tiongkok, kata
mereka,  akan merupakan kemunduran bagi rakyat Hongkong, baik di
bidang politik maupun ekonomi. Diramalkan  oleh 'ill-wishers' tsb, 
bahwa  di bidang ekonomi banyak modal  di Hongkong akan lari pindah ke
Taiwan atau Singapore. Dengan nada menakut-nakuti diramalkan pula
bahwa sistim pemerintahan komunis yang 'otoriter'  di  Tiongkok
daratan akan ditransfer ke Hongkong.  Bahwa Hongkong  dan rakyatnya
akan mengalami kemunduran dalam masalah demokrasi dan HAM ,  . . ...
dsb   dsb,  .  .  .  bla, bla, bla. 

Tetapi semua ramalan negatif itu samasekali tidak terjadi. Hongkong
tetap stabil dan  ekonominya berkembang. Modal dari luar  banyak yang
masuk Di fihak lain Hongkong sendiri memperbesar penanaman modalnya di
Tiongkok daratan dan ditempat-tempat lain, halmana menunjukkan adanya
saling percaya. Teristimewa saling percaya antara dua sistim, sisitim
sosialis di daratan dan sistim kapitalis di Hongkong.

Bahwa ramalan Barat itu ternyata meleset, hal itu diakui sendiri oleh
mantan PM Thatcher dari UK, yang diwawancarai oleh BBC berkenaan
dengan ulangthun ke-10 Hongkong kembali ke RRT.

*    *    *

Aku anggap kasus kembalinya Hongkong ke RRT, memang  unik dan
historis, karena cara yang ditempuh untuk solusi masalah Hongkong,
adalah unik. Dipandang dari jurusan Tiongkok, memanifestasikan 
kebijakan dan kercerdikan pemimpin-pemimpin Tiongkok. Kreatif dan
rasional. Daud Jusuf, mantan menteri Pendidikan dan Kebudayaan rezim
Orba, yang  bu k a n    pencinta Tiongkok,  baru-baru ini dalam sebuah
artikelnya di  'Suara Pembaruan Daily', 29 Juni 2007, menulis a.l. sbb:

'Segala sesuatu yang berkaitan dengan China memang pantas dikagumi.
Sampai Rasulullah Muhammad SAW mengingatkan umatnya, dalam menuntut
ilmu kalau perlu pergi ke China'.
 
Menarik untuk mencatat bahwa Daud Jusuf (yang menurut berita sedang
menyusun buku sejarah) masih menggunakan penyebutan 'China' (seperti
orang Inggris) ,  dan bukan  menggunakan kata 'Tiongkok'. Meskipun
sejak Presiden Megawati sudah ada kesefahaman antara pemerintah RI dan
RRT, untuk  selanjutnya menggunakan kata 'Tiongkok' untuk nama negeri
dan bangsa, dan 'Tionghoa', untuk penyebutan bahasa dan bangsa. 

Sedikit catatan lagi tentang Daud Jusuf yang konservatif ini: Tahun
1978  menjelang sidang MPR, ketika rezim Orba  masih jaya-jayanya, 
Menteri  P&K Daud Jusuf didemo oleh ratusan mahasiswa-mahasiswa UI,
boneka yang menggambarkan Daud Jusuf dibakar oleh mahasiswa-mahasiswa
yang demo itu. Pasalnya ialah, Daud Jusuf adalah menteri P&K  Orba, 
yang melaksanakan serentetan dekrit yang terkenal anti-demokratis. 
Diberlakukan atas nama  'Normalisasi Kehidupan Kampus'  (NKK). Namanya
sih 'menormalkan kehidupan kampus', tapi intinya adalah untuk
membungkam dan mengekang kegiatan  mahasiswa Indonesia agar manut saja
pada penguasa. Suatu cara  fasis untuk memaksa mahasiswa berfikir
menurut kehendak penguasa.  Suatu usaha pembodohan masyarakat atas
nama 'masa mengambang'  yang tipikal memanifestasikan watak otoriter
rezim Orba sejak berdirinya. 

*   *   *
 
Dikatakan unik, karena saat itu Tiongkok memanfaatkan kesempatan baik
untuk mengintroduksikan serta  memperluas pelaksanaan suatu sistim
kenegaraan yang baru samasekali baru dalam sejarah kenegaraan modern.
Yaitu dilaksanakannya oleh Tiongkok secara formal dan resmi sistim 
'SATU NEGERI DUA SISTIM'.


*   *   *


Dikatakan  unik dan historis! Bukan saja bagi Republik Rakyat
Tiongkok,  Hongkong dan bagi Inggris,  negara imperialis-kolonialis
terbesar abad ke 20, ---  Tetapi juga unik dan historis bagi seluruh
dunia. Dikatakan unik, karena  'kembalinya'  Hongkong ke pangkuan
ibunda tanah air Tiongkok, terjadi dalam syarat-sayrat sejarah yang
unik Bayangkan suatu kekuasaan kolonial yang arogan seperti Inggris,
yang 150  tahun menguasai Hongkong, dengan damai dan aman meninggalkan
koloninya. Tentu hal itu terjadi dengan  'hati yang berat'  bagi
Inggris, terutama bagi gubernur Hongkong  Sir Chris Patten,  dan
keluarganya. Lebih berat lagi bagi Margaret Thatcher, mantan Perdana
Menteri Ingris dari Partai Tory (Konservatif).

Dalam proses perundingan RRT --  Uinted Kingdom (UK)  yang berlangsung
cukup lama, pernah, menurut 'off the record information'  yang
kebetulan kedengaran di telingaku,  PM Deng Xiaobing  menyampaikan
kepada PM Thatcher,  bahwa,  ' kalau mau, tidaklah sulit bagi Tiongkok
untuk memperoleh kembali Hongkong. 'Kami  buka saja perbatasan RRT -
koloni Hongkong. Dalam sehari saja,  jutaan orang Tiongkok (daratan) 
akan membanjiri Hongkong, dan Hongkong  pasti tunduk'. Sesungguhnya
'senjata' yang lebih ampuh yang ada pada RRT  (bukan kekuatan
militernya, tetapi) adalah ketergantungan Hongkong pada Tiongkok
(daratan) terutama dalam hal air, khususnya air minum. Setiap hari,
sejak Tiongkok Baru berdiri,  kapal-kapal  Inggris/Hongkong ketika
itu, berlayar masuk ke Sungai Mutiara (Guangzhou) untuk menyedot air
(tawar) sungai untuk dibawa ke Hongkong. Hongkong akan lumpuh dan 
'kehausan', tak berdaya apa-apa terhadap RRT bila supply air itu
'ditutup' oleh RRT. 

*   *   *

Mungkin pembaca ada interes untuk membaca apa yang kutulis mengenai
kembalinya Hongkong ke Republik Rakyat Tiongkok sepuluh tahun yang
lalu (1997).  Ketika  itu sedang berlangsung  pengembalian  Hongkong
ke RRT.  Tulisan tsb  yang kubuat sepuluh tahun yang lalu (semula
untuk catatan sendiri)  baru pertama kali  ini  disiarkan, sbb:

SAAT BERAKIRNYA HUMILIASI NASIONAL TIONGKOK.
-----   INGGRIS TETAP TIDAK RELA ----
30 Juni 1997

HONGKONG   -  1

'Malam redup dan hujan turun dengan derasnya. Sama redupnya wajah
pangeran Charles, yang khusus datang mewakili Ratu Elisabeth pada
upacara penyerahan kembali Hongkong kepada RRT. Idem-dito wajah air
muka Chris Pattern, gubernur Inggris untuk Hongkong, -- yang sebentar
lagi akan  menjadi mantan. Begitu juga tamu-tamu orang Inggris,
termasuk mantan PM Thatcher dan sementara orang Hongkong. Begitulah
suasana perpisahan Inggris dengan Hongkong. Lebih dari 150 tahun
Hongkong berada di bawah kekuasaan kolonialisme Inggris. Sesuatu yang
terpaksa diterima oleh bangsa Tionghoa. Suatu humiliasi nasional.

Berdiri di atas panggung yang istimewa dibangun untuk upacara, para
hadirin menyaksikan barisan demi barisan musik, pasukan  demi pasukan
kehormatan yang berpakaian seragam aneka warna   masing-masing khas
menurut identitasnya. Tak ketinggalan pasukan kehormatan 'Scot' yang
mengenakan rok. Juga tampak pasukan Gurkha, yang kita orang Indonesia
juga pernah mengenalnya ketika Inggris atan nama Sekutu mendaratkan
pasukannya di Jakarta dan Surabaya. Barisan musik tentara Inggris di
Hongkong menggemakan melodi-melodi merdu dan melankolik, kadang-kadang
riang. Tetapi itu semua tidak meghilangkan suasana sedih dan tertekan
di fihak Inggris. Ini adalah saat-saat berakhirnya imperium Inggris di
Asia dan di wilayah Tiongkok. Sengaja atau tidak sudah agak lama orang
melupakan bahwa Hongkong dan kemudian Kowloon, dikenal sebagai "The
New Territories' telah menjadi jajahan Inggris.

Dalam pidatonya, pangeran Charles dan  Chris Patten menyanjung
setinggi langit peranan positif Inggris yang, kata mereka, telah
menjadikan Hongkong salah satu pusat perdagangan dan finans terpenting
di Asia dan dunia, kaya dan modern. Kestabilan Hongkong juga adalah
berkat adminsitrasi Inggris, begitu mereka sesumbar. Belakangan telah
dimulai pula proses pendemokrasian Hongkong, kata Patten. Ini tidak
boleh berhenti, kata mereka.  'Kami akan tetap mengikuti perkembangan
di Hongkong dan selanjutnya, janji Charles dan Patten setengah
mengancam Tiongkok. Aku tidak bisa menemukan kata-kata lain untuk
melukiskan sikap kedua pembesar-pembesar Inggris itu.  Selain arogan
dan munafik. Itulah mereka. Kalau mau ditambah lagi: Sungguh tidak
tahu diri. Apalagi sikap mantan PM Inggris Margareth Thacher. Ketika
diwawancarai oleh wartawan CNN,  Bernard Shaw, tanpa mengedipkan mata
Thatcher kalem saja mengatakan bahwa Hongkong,  'diperoleh'  Inggris
dari Tiongkok untuk digunakan sebagai pangkalan dagang dengan Tiongkok
dan negeri-negeri Asia lainnya. Karena Hongkong menjadi sempit, kata
Thatcher, maka  'dapat tambahan wilayah' dari Tiongkok. Mereka,
Tiongkok, telah menyerahkannya. Rupanya karena tidak tahan lagi
mendengar bualan Thatcher, maka Bernard Shaw  dari CNN nyeletuk:
Bukankah kalian memperolehnya lewat beberapa kali perAh, yes".

*    *    *

Begitu redup dan sedihnya di kalangan orang-orang Inggris,  begitu
riang dan gembiranya orang-orang Tiongkok. Di ibukota Tiongkok,
Beijing, di lapangan Tien An Men, dalam suasana pesta telah berkumpul
ribuan  para undangan untuk menyambut kembalinya Hongkong ke pangkuan
tanah air mereka. Untuk menyambut hari bersejarah itu sudah beberapa
waktu di lapangan Tien An Men didirikan jam raksasa yang menghitung 
waktu sampai ke angka nol, saat berkahirnya status koloni dari
Hongkong. Ratusan barisan tari dan nyanyi membuat suasana tambah
semarak. Tepat pada saat bendera Inggris diturunkan di Hongkong dan
bendera Republik Rakyat Tiongkok dikibarkan ddengan megahnya, ratuas
mercon dan kembang api berdentum dan membelah angkasa. Mengubah
suasana menjadi pesta kegirangan, pesta kebahagiaan, pesta kebanggaan.
Suatu pesta menyambut berahirnya masa humiliasi nasional. 

Justru semangat, emoni dan perasaan dari rakyat Tiongkok dan semua
yang cinta kemerdekaan, yang tidak dimengerti oleh pejabat-pejabat
kolonial itu. 

*   *   *

HONGKONG - 2 -
Sudah lama aku mengikuti perkembangan Tiongkok dengan penuh perhatian.
Aku harus terus terang mengatakan bahwa aku tidak mengadakan studi
khusus mengenai Tiongkok. Terlalu berat. Seorang temanku, T.M.
Siregar, bekas pegawai tinggi Kementerian Koperasinya Menteri Tobing,
zaman pemerintahan Presiden Sukarno, beberapa tahun yang lalu telah
menulis tentang perkembangan ekonomi Tiongkok. Siregar adalah ketua
Stichting Aziƫ Studies, Onderzoek en Informatie, suatu lembaga yang
aku ikut mendirikannya. Sementara teman lainnya berkesan bahwa tulisan
Siregar itu lebih memberikan pandangan fihak Beijing daripada suatu
studi yang independen. Siregar menguraikan tentang  'socialist market
economy' yang sedang dipraktekkan di Tiongkok dewasa ini. Sementara
komentar lainnya, dari partai-partai yang menganggap dirinya paling
Marxis, mencap Tiongkok telah merestorasi kapitalisme. Tiongkok sudah
bukan lagi negeri sosialis dan partai Komunis Tiongkok telah menjadi
partai burjuasi. Diktatur proletar sudah menjelma menuadi diktatur
burjuasi. Demikian  partai-partai Marxis tsb.

*    *    *

Dengan kembalinya Hongkong kepada Tiongkok, menjadi ramai diskusi
dalam media cetak dan elektronik tentang konsep 'satu negeri dua
sistim'. Konsep ini diajukan oleh Deng Xiaobing dalam perundingan
dengan Thatcher pada tahun 1984. Ketika itu Deng tanpa tedeng
aling-aling menegaskan bahwa jika Inggris tidak mengembalikan Hongkong
pada tahun 1997 (sesuai perse tujuan antara Tiongkok dengan Inggris
hampir seratus tahun yang lalu) maka RRT akan membebaskannya.
Pandangan Deng mengenai konsep  'satu negeri dua sistim' bertolak dari
asumsi bahwa Tiongkok adalah negeri Sosialis. Konsep ini juga
diadjukan sebagai jalan keluar dari konfllik antara RRT dengan Inggris
mengenai Hongkong. Konsep ini telah menenteramkan sebagian besar
rakyat Hongkong dan para investor serta pengusaha dalam dan luar
Hongkong. Ia merupakan contoh dan perspektif penyelesaian masalah
Tiongkok-Taiwan. Kini Hongkong sudah menjadi bagian dari wilayah
Tiongkok, konsep 'satu negeri dua sistim' sudah menjadi realita.

Dalam protokol pengembalian Hongkong oleh Inggris kepada Tiongkok,
ditetepkan bahwa selama limapuluh tahun yang akan datang Hongkong
mempertahankan sistim ekonominya yang kapitalis dan status dan
keadaannya seperti sekarang ini di dalam dan di luarnegeri. Apakah
konsep 'satu negeri dua sistim' bisa berjalan?  Sebenarnya dalam
pratek konsep ini sudah berjalan cukup lama. Hal itu bisa dilihat dari
reformasi yang dilaksanakan Tiongok sejak akhir tahun tujuhpuluhan di
bidang pengurusan ekonomi. Di Tiongkok sosialis telah dipraktekkan
unsur-unsur ekonomi kapitalis, baik di bidang pertanian, industri
maupun perdangangan, khususnya yang menyangkut manajmen. Mereka
katakan ini adalah pentrapan dari prinsip memperhatikan peranan
(positif) dari pasar. Bukan saja di dalam ekonomi Tiongkok yang
sosialis ditrapakn unsur-unsur dan beleid dari kapitalisme, tetapi
juga (pada permulaan tahun delapanpuluh) diciptakan zone-zone ekonomi
khusus yang bebas ( 'special free economis zones') di Shenzhen yang
berbatasan dengan Hongkong dan Zhuhai yang dekat dengan Macao yang
masih koloni Portugis. Kemudian sementara wilayah lainnya, yaitu
Fujian/Xiamen dan Pulah Hainan. Ketika itu ada yang nyeletuk dari
fihak Barat: Apakah nantinya akan terjadi 'Tiongkokisasi dari Hongkong
dan Macao', atau sebaliknya, yaitu, 'Hongkongisasi dari Tiongkok' . 

Ternyata  di Tiongkok juga  ada yang berfikir seperti itu. 
<Bersambung>

*    *    *








Kirim email ke