rta (ANTARA News) - Setelah terjadi polemik berkepanjangan, akhirnya Pemerintah Kabupaten Kutai Barat memutuskan untuk nekad tetap mengirim 20 penari terbaiknya melakukan pementasan di Yerusalem, Israel, guna mempromosikan potensi pariwisata yang belum terjamah di pedalaman provinsi Kalimantan Timur itu.
Ketika berbincang-bincang dengan Yohanes, salah seorang anggota kontingen di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Senin dinihari, diketahui bahwa pemberangkatan delegasi kesenian tersebut semata-mata untuk kepentingan promosi kebudayaan suku terasing di Kalimantan yang belakangan ini mulai diminati oleh turis mancanegara. Muhibah yang direncanakan selama sepekan itu tidak banyak didampingi ofisial seperti lazimnya kontingen kesenian asal Indonesia ke luar negeri. Selain keterbatasan biaya, juga menyangkut perizinan dari negara tujuan. Para penari yang umumnya adalah berasal dari suku Dayak hampir sebagian besar tidak pernah keluar kampung asalnya, apalagi bepergian jauh mengunjungi kota-kota yang berada di luar negeri. "Kami sudah optimal melakukan persiapan itu," tutur Yohanes, ketika kepadanya ditanyakan tentang upaya untuk mengantisipasi perubahan prilaku para penari yang secara psikologis akan merasa asing berada di sebuah komunitas yang berbeda bahasa dan kebudayaan. Kabupaten Kutai Barat yang tadinya sebelum pemekaran masih bergabung dengan Kabupaten Kutai Kertanegara memiliki bentuk kesenian yang masih asli dan belum terjamah oleh perubahan kebudayaan asing. (*)
