Fraksi PDI Perjuangan DPR RI: Stop Ritual Seremonial Presiden      Tuesday, 03 
July 2007 
  Jakarta, Suluh Perjuangan

Meski telah berkantor selama tiga hari di dekat lokasi bencana lumpur Sidoarjo, 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ternyata belum mampu menyelesaikan masalah 
lumpur  Lapindo. Ratusan korban lumpur Lapindo awal pekan ini (1/7) kembali 
berdatangan di Jakarta untuk memperjuangkan nasib mereka. Kedatangan mereka 
menyusul rombongan terdahulu telah sepekan berada di Jakarta dan melakukan 
demonstrasi ke berbagai instansi, termasuk ke Wisma Bakrie, kantor pusat 
perusahaan pemilik Lapindo.


  Kegagalan penanganan masalah Lapindo ini menimbulkan  kecaman kalangan DPR. 
Bahkan Fraksi PDI Perjuangan di DPR RI meminta agar Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono menyetop segala bentuk kegiatan yang berbau ritual seremonial. "Stop 
ritual seremonial seperti menangis di depan korban lumpur Lapindo beberapa 
waktu lalu," ujar Aria Bima, seorang anggota Fraksi PDI Perjuangan di DPR 

Presiden RI ke-6 itu memang dikenal suka berpindah kantor. Misalnya, dia tujuh 
hari berkantor di Gedung Agung, Jogjakarta, saat terjadi musibah gempa. Saat 
tsunami Aceh, presiden juga memboyong perangkat kerjanya ke Serambi Makkah. 
Kemudian, presiden melakukan hal serupa dalam kasus Lapindo. Selama tiga hari, 
SBY berpindah kantor dari Jakarta ke Sidoarjo.

Aria menilai, wajar presiden ingin tampil populer di depan rakyat. "Tapi, 
populer saja tidak cukup. Yang diperlukan rakyat adalah tindakan konkret yang 
menyelesaikan masalah," tegasnya. Pemerintah, kata Aria Bima, harus mengatasi 
masalah-masalah yang mendasar seperti kelangkaan sembako, lapangan kerja, dan 
pembangunan infrastruktur perekonomian. Tidak malah terjebak pada tindakan lips 
service seperti berkantor di lokasi lumpur Lapindo.

Sebagai presiden, SBY memiliki infrastruktur politik untuk memenuhi harapan 
rakyat tersebut tanpa harus terjebak pada kegiatan penuh seremoni. "Presiden 
cukup berinstruksi," ujar anggota komisi VI tersebut.

Sementara itu anggota Fraksi PDI Perjuangan yang lain, Permadi melihat gaya 
politik presiden tidak akan berubah. Dalam dua tahun ke depan, politik 
pencitraan malah diperkirakan lebih banyak dilakukan presiden. Tapi Permadi 
melihat presiden tidak memperoleh manfaat dari hal itu. "Politik pencitraan itu 
akan berhadapan dengan kehendak rakyat dan alam," ungkap paranormal tersebut. 




       
---------------------------------
Be smarter than spam. See how smart SpamGuard is at giving junk email the boot 
with the All-new Yahoo! Mail  

Kirim email ke