http://www.gatra.com/artikel.php?id=105848


Efek Bola Liar Penari Makar

Penyusupan penari cakalele membawa ekses ke sana kemari. Mulai isu politik 
lokal, sentimen konflik lama, friksi elite keamanan, sampai kecemburuan ekonomi.

Ja'far Umar Thalib yang pernah memimpin Laskar Jihad di Maluku, tidak percaya 
RMS hadir lantaran faktor kemiskinan. "Banyak penduduk Indonesia ini tingkat 
kesejahteraannya sama miskinnya dengan mereka," kata Ja'far. "Bahkan ada yang 
lebih miskin dari mereka, toh tidak memberontak." Ia menunjuk, otak di balik 
penari liar itu ada kepala desa dan guru PNS, yang dinilai cukup mapan. 
"Ideologi mereka sudah mendarah daging sebagai warisan pendahulu mereka yang 
mendapat keistimewaan dari penjajah Belanda," tutur Ja'far. "Menghadapi mereka 
harus tegas."

Pendeta Jacky Manuputty menyangkal pengidentikan RMS dengan orang Kristen. 
"Mayoritas pengikut RMS memang Kristen. Tapi arus utama umat Kristen Maluku 
menolak RMS," kata Jacky, yang akhir Mei lalu menerima Maarif Award karena 
perannya dalam resolusi konflik. Beruntung, provokasi dan peredaran rumor yang 
berpotensi membenturkan dua kelompok agama, Senin lalu, tidak berkembang jauh.

Ironisnya, yang terjadi adalah sikap saling menyalahkan antar-instansi. Jumpa 
pers Kapolri dan Panglima TNI, Sabtu pekan lalu, kompak menuding kelemahan 
intelijen sebagai faktor penyebab.

Staf khusus Badan Intelijen Negara (BIN), Janzi Sofyan, pun menggelar jumpa 
pers. BIN menyatakan sudah menyampaikan hasil penelisikan di lapangan. 
Semestinya TNI-Polri yang menindaklanjuti, karena BIN tidak memiliki kewenangan 
menindak. Panglima TNI, Marsekal Djoko Suyanto, kembali menimpali bahwa TNI 
memang menerima informasi akan adanya demonstrasi, tapi bukan dari RMS.

Kasus cakalele, bagi Yusron Ihza Mahendra, Wakil Ketua Komisi I DPR Bidang 
Pertahanan, tidak hanya memperlihatkan lemahnya pertahanan teritorial. 
"Sekaligus memperlihatkan kepada dunia bahwa kelompok separatis masih ada. 
Mereka berteriak kepada dunia, 'Kami masih ada lho.' Itulah masalahnya," ujar 
Yusron. Masalah RMS bukan terletak pada seberapa kekuatan militernya. "Tapi 
apakah ada negara-negara yang menjadi pendukung gerakan ini karena bisa menjadi 
api dalam sekam," kata Yusron.

Tapi beda lagi sorotan politisi lokal. Anggota DPRD Maluku, Ridwan Marasabessy, 
minta SBY tak perlu kebakaran jenggot dan merasa dipermalukan akibat aksi para 
penari liar itu. "Mereka kan cuma menari dan bawa pedang-pedangan dari kayu. 
Bandingkan dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan OPM (Organisasi Papua Merdeka) 
yang pakai senjata mematikan," kata Ridwan, yang berasal dari Pulau Haruku, 
satu kecamatan dengan para penari itu.

Sementara itu, di kalangan masyarakat, menurut Abidin, ada penolakan 
penyelenggaraan acara Harganas di Ambon. Karena terlalu bermewah-mewah di 
tengah masyarakat Ambon yang masih banyak jadi pengungsi. Sumber Gatra yang 
enggan disebut namanya menyebutkan, kegiatan Harganas ini menghabiskan anggaran 
tidak kurang dari Rp 15 milyar. Dana itu, antara lain, digunakan untuk 
memperbaiki wisma tempat presiden menginap. "Acara itu dinilai tidak memiliki 
dampak langsung bagi masyarakat," tutur Abidin.

Abidin menilai sah-sah saja para politisi mau mengolah berbagai momentum, 
termasuk penyusupan penari cakalele itu, untuk permainan politik. "Asal tidak 
merugikan dan memperalat masyarakat bawah saja," katanya.

Masalahnya, efek politik itu kini telah terjadi. Satu efek yang, kata Jacky, 
mungkin tidak pernah disangka-sangka oleh siapa pun. Bahkan oleh para perancang 
aksi demo yang dikhususkan menyambut kedatangan SBY. "Tarian cakalele itu semua 
tidak mencerminkan agenda arus utama aksi protes atas kedatangan SBY," ujarnya.

Asrori S. Karni, Rach Alida Bahaweres, Deni Muliya Barus, dan Mukhlison S. 
Widodo
[Laporan Utama, Gatra Nomor 34 Beredar Kamis, 5 Juli 2007

<<73.jpg>>

Kirim email ke