Tarian cakalele adalah tarian Perang, 
Tarian Perang untuk Presiden.

coba klik

http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=5852&c_id=21&g_id=25

Salam

  ----- Original Message ----- 
  From: Sunny 
  To: Undisclosed-Recipient:; 
  Sent: Thursday, July 05, 2007 7:24 AM
  Subject: [mediacare] Bila Para Jenderal Bertengkar Soal "Tarian Liar"



  Refleksi: Para jurnalis dan petinggi negara menyatakan tarian Maluku  "tarian 
liar". Apakah pernyataan ini bukan penghinaan terhadap rakyat Maluku dan 
kebudayaan mereka?

  
http://www.antara.co.id/arc/2007/7/3/bila-para-jenderal-bertengkar-soal-tarian-liar/

  03/07/07 19:20

  Bila Para Jenderal Bertengkar Soal "Tarian Liar"

  Oleh Arnaz Ferial Firman

  Jakarta (ANTARA News) - Para pejabat pemerintah baik sipil maupun militer 
agaknya kini mempunyai "hobi baru", yaitu perang mulut secara terbuka di depan 
publik. Padahal, di masa lalu tabiat seperti itu tidak pernah muncul ke 
permukaan.

  Ketika Yusril Ihza Mahendra masih menjadi Menteri Sekretaris Negara 
(Mensesneg), pendiri Partai Bulan Bintang (PBB) itu juga pernah ribut dengan 
Ketua Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK), Taufiquerrahman Ruki. 

  Yusril saat itu mempertanyakan proses pengadaan peralatan sadap yang 
dilakukan KPK. Sementara itu, Ruki mempersalahkan Yusril tentang proses 
pengadaan sidik jari saat menjadi Menteri Hukum dan Perundang-undangan.

  Kini sikap kedua tokoh sipil itu agaknya ditiru oleh pimpinan militer, yakni 
antara Kepala Badan Intelejen Negara(BIN), Syamsir Siregar, dengan Panglima 
Tentara Nasional Indonesia (TNI), Marsekal TNI Djoko Suyanto, mengenai 
munculnya penyusupan oleh simpatisan kelompok separatis Republik Maluku 
Selatan(RMS) di depan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Ambon, pada hari 
Jumat (29/6) bertepatan dengan acara puncak Hari Keluarga Nasional (Harganas).

  Saat itu sekira 20 pemuda Maluku muncul mendadak di depan Yudhoyono untuk 
seolah-olah membawakan tarian cakalele, padahal mereka sambil membawa tombak 
tajam ingin membentangkan spanduk dan bendera RMS. 

  Semula banyak hadirin yang mengira bahwa kehadiran puluhan pemuda saat 
Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu membacakan laporannya itu adalah bagian 
dari acara resmi, apalagi sebelum Ralahalu berpidato sudah ditampilkan sebuah 
tarian adat Maluku.

  Tiba-tiba, panitia Harganas serta petugas keamanan baik dari TNI maupun Polri 
baru sadar bahwa telah terjadi hal yang tidak beres, sehingga beberapa petugas 
polisi Kepolisian Daerah (Polda) Maluku dan panitia segera turun ke Lapangan 
Merdeka untuk mengusir para penyusup tersebut. 

  Akibatnya, sampai sekarang ada sekira 30 pemuda Ambon dan sekitarnya masih 
ditahan Polda Maluku.

  Ketika menyaksikan "tarian liar" tersebut, Menko Polhukam Widodo Adi Sucipto 
langsung berbisik-bisik dengan Presiden Yudhoyono dan kemudian turun dari 
panggung kehormatan.

  Sementara itu, Kepala BIN Syamsir Siregar yang pernah menjadi Kepala Badan 
Intelejen dan Strategis (BAIS) Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (Mabes 
TNI) juga langsung mencari penanggung jawab keamanan pada acara tingkat 
nasional itu, yang juga dihadiri sejumlah duta besar dan diplomat negara-negara 
sahabat.

  "Mana panglima, mana panglima," kata Syamsir Siregar, yang juga pernah 
menjadi Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) II Siliwangi di kawasan Jawa 
Barat dan Banten tersebut.

  Akhirnya, penanganan pemunculan para simpatisan RMS itu ditangani langsung 
Menko Polhukam, Kepala BIN, Pangdam XVI Pattimura, Mayjen TNI Sudarmaidy 
Soebandi, serta Kapolda Maluku, Brigjen Polisi Guntur Gatot Setyawan. 

  Bahkan, Mabes TNI telah mengirim tim ke Ambon untuk menyelidiki mengapa 
sampai bisa terjadi penyusupan pada acara yang langsung dihadiri Kepala Negara 
dan Ibu Ani Yudhoyono.

  "Kami mengakui memang telah terjadi kelalaian," kata Panglima TNI, Djoko 
Suyanto, dalam jumpa pers di Jakarta pada 30 Juni 2007, setelah membahas 
masalah itu dengan Kapolri, Jenderal Polisi Sutanto.

  "Kejadian ini sangat mempermalukan beliau (Presiden)," kata Djoko. Ia 
berjanji akan mengambil tindakan tegas terhadap anak buahnya yang bertanggung 
jawab mengamankan kunjungan kerja dua hari Kepala Negara. 

  Ia menegaskan bahwa akan ada pemberian sanksi mulai dari bentuk teguran 
hingga mutasi atau memindahkan jabatan orang-orang yang dianggap bersalah itu.

  Sementara itu, Presiden sendiri setelah menyaksikan adegan aneh itu langsung 
mengatakan kepada ribuan penonton di Ambon, "Saya minta dilakukan investigasi". 
Yudhoyono yang juga pernah menjadi Menko Polkam mengatakan, para penari liar 
itu harus mendapat hukuman mulai dari sanksi moral dan sosial hingga tindakan 
hukum.

  Sementara itu, pada hari Minggu (1/7) di Jakarta, seorang staf khusus Kepala 
BIN mendadak mengadakan jumpa pers tentang masalah "tarian liar" tersebut.

  "Jangan intelejen dan BIN yang dipersalahkan," kata Staf Khusus Kepala BIN, 
Janzi Sofyan, dalam jumpa pers yang merupakan kegiatan pertemuan tak lazim yang 
dilakukan oleh sebuah lembaga intelejen di Tanah Air, bahkan juga di 
negara-negara lain.

  Janzi mengatakan, petugas BIN di lapangan telah menemukan indikasi bahwa akan 
terjadi kegiatan liar yang dilakukan oleh para simpatisan RMS, dan temuan itu 
sudah disampaikan kepada para penanggung jawab keamanan mulai dari Kodam 
Pattimura, Polda Maluku hingga anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).

  Setelah mengetahui adanya komentar dari pembantu Syamsir Siregar itu, maka 
pada hari yang sama, Panglima TNI Djoko Suyanto langsung mengeluarkan reaksinya.

  "Dari pada kita saling menyalahkan, maka lebih baik kita bersatu dan 
memfokuskan diri pada aksi separatis RMS," kata mantan Kepala Staf TNI Angkatan 
Udara (Kasau) tersebut. 

  Djoko juga mengemukakan, "Kalau kita saling menyalahkan, maka kita akan 
hancur sendiri".

  "Perang mulut" di antara kedua pejabat instansi strategis itu merupakan hal 
yang menarik karena merupakan hal yang sangat tidak lazim di antara para 
pejabat militer dan purnawirawan yang masih sama-sama mengabdi dalam 
instansinya masing-masing.

  Keterangan Janzi Sofyan itu agaknya membuka rahasia bahwa BAIS yang Lembaga 
Pemerintah Non-Departemen (LPND) itu memiliki kantor perwakilan di ibu kota 
Provinsi Maluku tersebut.

  Sekalipun tidak menyebut-nyebut nama, akhirnya banyak orang, terutama yang 
berada di Maluku tahu bahwa di sana ada yang namanya, "Kepala Kantor Pusat BIN 
Wilayah Ambon". 

  Bagi simpatisan RMS, pasti tidak akan sulit untuk mencari kantor atau petugas 
BIN yang ditempatkan di Ambon tersebut.

  Pengungkapan rahasia ini kembali mengingatkan orang terhadap istilah "Intel 
Melayu", yaitu kalangan intel yang seharusnya menyembunyikan identitas atau 
jati dirinya malahan justru memamerkan atau menonjol-nonjolkan jabatannya atau 
posisinya atau senjatanya kepada orang yang seharusnya tidak perlu tahu jati 
dirinya.

  Ketika beberapa bulan lalu mengomentari keributan antara Yusril dengan Ruki, 
Presiden Yudhoyono sambil bergurau mengatakan kepada pers di kantornya bahwa 
persoalan itu telah diselesaikan secara "adat".

  Kini agaknya tidak ada salahnya atau patut dimaklumi jika Yudhoyono yang juga 
purnawirawan TNI menegur atau bahkan memarahi baik Djoko Suyanto maupun Syamsir 
Siregar, agar tidak "mengumbar pendapat berseteru" lagi di depan publik secara 
langsung maupun tidak langsung. (*)


   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.476 / Virus Database: 269.10.0/886 - Release Date: 04/07/2007 
13:40

Kirim email ke