Perempuan Jadi-Jadian Menghiasi Televisi
   
  Dandanan menor, gesture ala pansy, wig, dan payudara palsu. Ya, pemandangan 
seperti ini makin sering kita saksikan dari panggung hiburan layar kaca, mulai 
dari acara komedi, variety show, hingga talk show. Extravaganza dari Trans TV 
awalnya kerap mengandalkan Aming untuk memerankan perempuan palsu, sedangkan 
versi untuk ABG-nya memakai Olga, namun perlahan bukan hanya dua orang itu saja 
yang mengemban tugas untuk peran tersebut, pemain lelaki lainnya juga dapat 
jatah. Tora Sudiro hingga Sogi pernah pakai rok dan tak lupa bergincu.
   
  
  
  Tunggu sebentar, janganlah anda terburu-buru membandingkan akting mereka 
dengan Robbin Williams sebagai Mrs. Doubtfire, Dustin Hoffman dalam Tootsie, 
atau waria-waria dalam pementasan ludruk Jawa Timur yang bisa memerankan sosok 
wanita dengan apik. Baik Robbin Williams, Dustin Hoffman, maupun waria dalam 
ludruk sekalipun sangat menghayati sebuah peran. Sedangkan dalam acara-acara 
televisi kita penghayatan semacam itu hampir tidak muncul, karena misinya 
hanyalah menghadirkan kekonyolan untuk memancing tawa pemirsa.
  
  
  
   
  Waria, banci, bencong, atau apapun istilahnya adalah kaum minoritas yang 
tersisihkan dan kerap jadi bahan tertawaan, mereka dinilai “aneh” oleh 
masyarakat. Lalu kenapa tak memakai waria beneran untuk memerankan waria? Toh 
tak perlu lagi membentuk karakter. Waria berperan jadi waria itu namanya bukan 
akting, tapi memang aslinya begitu. Padahal yang dicari oleh sutradara maupun 
produser acara-acara semacam ini sepertinya bukan naturalitas dan penghayatan 
total sebuah peran, melainkan keanehan yang nganeh-nganehi. Seorang Tessy yang 
kerap berperan sebagai perempuan palsu, sangat aneh sekali kala memerankannya, 
waria/perempuan jadi-jadian kok masih suka colek-colek dan meraba perempuan 
asli. Atau Tora Sudiro dan Indra Birowo yang memakai rok lengkap dengan fake 
boobs-nya, tapi ternyata masih berkumis, berjambang, dan berjenggot. Sungguh 
aneh sekali bukan? Namun peran-peran tidak natural seperti itu justru yang 
diharapkan bisa mengundang tawa, dan ternyata resep itu cukup
 manjur.
  
  
  
   
  Kalau benar ada banyak jalan untuk menuju Roma, harusnya ada banyak jalan 
pula untuk memancing tawa pemirsa televisi, tak hanya melalui humor-humor “bad 
taste” seperti tadi. Pintar-pintarlah memilih dan memilah tontonan televisi, 
jangan cuma nonton acara yang asal bisa bikin ngakak.
   
  Oleh Dony Alfan Sutanto (http://putradaerah.blogspot.com/)

       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!

Kirim email ke