http://www.syirah.com/syirah_ol/online_detail.php?id_kategori_isi=2020
Prof. Dr. Nur Syam: Gerakan Islam Radikal Rugikan
NU-Muhammadiyah 4-7-2007
Oleh : CHOIRUL MAHFUD/SYIRAH
Menguatnya gejala fundamentalisme Islam yang saat ini
menjadi fenomena di seluruh penjuru dunia memang bak
jamur di musim hujan. Di Jawa Timur, fenomena
penyebaran paham radikalisme Islam telah terjadi
melalui beragam cara, salah satu diantaranya
penyusupan melalui organisasi masyarakat (Ormas)
Islam, seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.
Hal ini telah menyita perhatian intelektual Muslim,
pemerhati Islam radikal dan Guru Besar Sosiologi IAIN
Surabaya, Prof. Nur Syam, M.Si.
Pasca Reformasi, fenomena gerakan radikalisme Islam
di Indonesia, khususnya di propinsi Jawa Timur,
berkembang sangat pesat, katanya. Menurutnya hal ini
terindikasi dari muncul dan berkembangnya beragama
organisasi radikal.
Menurut Syam mereka cukup pandai memanfaatkan media
dalam menyebarkan gagasan-gagasannya. Imbasnya gerakan
mereka semakin kuat di masyarakat
Untuk lebih jelasnya berikut ini wawancara khusus
kontributor Syirah Choirul Mahfud di Surabaya dengan
Nur Syam di kantornya, Gedung Rektorat IAIN Sunan
Ampel Surabaya, Selasa, 3 Juli kemarin:
Dalam pengamatan Anda sejauh mana gerakan
fundamentalisme dan radikalisme Islam di Jawa Timur
beberapa tahun belakangan ini?
Pasca Reformasi, fenomena gerakan radikalisme Islam di
Indonesia, khususnya di propinsi Jawa Timur,
berkembang sangat pesat. Hal itu, ditandai dengan
muncul dan berkembangnya beragam organisasi Islam
radikal melalui berbagai cara dan media, baik cetak
maupun elektronik. Media massa telah mereka buat
seperti bulletin dan majalah. Lalu, mereka sebar media
itu ke setiap masjid, terutama tiap hari jumat.
Hampir semua masjid mendapat selebaran dan bulletin
dari kelompok mereka. Akibatnya, pengaruhnya cukup
kuat dan sangat pesat.
Organisasi apa saja yang bisa dikatagorikan sebagai
kelompok gerakan Islam radikal dan fundamental
tersebut?
Organisasi gerakan Islam yang dilabeli Islam radikal
dan fundamental perlu dilihat terlebih dahulu dari dua
sudut pandang. Pertama, adakah pelaku dan subjek
gerakan itu. Kedua, adakah pengaruhnya bagi suatu
masyarakat.
Mengenai pertanyaan pertama, di propinsi Jawa Timur
ternyata ada gerakan seperti itu. Organisasi gerakan
Islam radikal dan fundamental tersebut yang bisa
diidentifikasi di antaranya adalah; Hizbut Tahrir
(HTI), Majelis Mujahidin (MMI), Front Pembela Islam
(FPI) dan lain-lain.
Organisasi Itulah sebagai pelaku. Sementara pengaruh
organisasi tersebut bagi dinamika Islam di Jawa Timur
lumayan kuat dari fase ke fase. Di zaman Orde Baru
memang masih belum tampak jelas karena sistem, tetapi
di akhir era Orde Baru mereka mulai berani menampakkan
diri hingga era reformasi seperti sekarang ini
kelompok itu terus berani menampakkan, melakukan
pengaruh yang kuat dan penyebarannya serta bahkan
ingin menguasai.
Siapa sajakah target dan sasaran gerakan radikalisme
Islam, khususnya di Jawa Timur?
Semua kelompok, terutama masyarakat perkotaan,
pelajar, mahasiswa. Di Surabaya, kelompok Islam
radikal sudah merambah dan menguasai kegiatan
mahasiswa kampus. Mahasiswa-mahasiswa kampus yang
sudah banyak dipengaruhi oleh gerakan ini adalah
kampus ITS (Institut Tehnologi Surabaya), (Fakultas)
Kedokteran Unair (Universitas Airlangga), Unesa
(Universitas Esa Tunggal), Universitas Hang Tuah,
Untag (Universitas Tjuhbelas Agustus) dan lain-lain.
Wujudnya adalah Lembaga Dakwah Kampus (LDK), KAMMI dan
mereka semua memiliki jaringan nasional dan
internasional, terikat maupun tidak.
Tidak hanya itu, belakangan gerakan Islam radikal juga
sudah memengaruhi warga Nahdlatul Ulama (NU) dan
Muhammadiyah, khususnya anak-anak muda NU dan
Muhammadiyah. Banyak aset NU dan Muhammadiyah yang
direbut.
Akhir-akhir ini sudah banyak kasus mengenai hijrahnya
warga NU dan Muhammadiyah mengikuti kelompok gerakan
Islam radikal dan fundamental itu. Memang secara
kultural adalah masih warga NU, tetapi bukan secara
formal dan sudah sebagai anggota dan pengurus kelompok
Islam radikal.
Misal saja, ada kasus bahwa bapaknya alumni Tebuireng,
dan dosen. Tetapi justru anaknya jadi aktivis HTI, dan
yang menjadi imam di rumah adalah anaknya bukan
bapaknya. Menariknya lagi, Anak kiai jadi ketua FPI.
Di salah satu pertemuan PBNU ada yang mengeluhkan
sebagian pengurus mengundurkan diri karena sudah
menjadi anggota dan pengurus organisasi itu.
Cara apa saja yang ditempuh kelompok Islam radikal, di
Jawa Timur khususnya, dalam memengaruhi dan
mengembangkan konsep dan gerakan ideologi mereka ke
dalam Ormas Islam?
Kelompok ini sungguh luar biasa dan memiliki daya
penarik kuat. Tetapi bisa dipahami sesungguhnya mereka
menggunakan sistem yang saya sebut sebagai gerakan
taqiyah, yaitu dengan cara memasuki dan membaur
dalam sebuah kelompok. Setelah cara itu berhasil, lalu
kemudian ketika mereka sudah memiliki taring, lantas
dia menampakkan diri. Misalnya Di beberapa daerah, ada
banyak pengurus NU yang sesungguhnya anggota kelompok
gerakan radikal Islam itu.
Cara kedua yang ditempuh kelompok ini adalah
menggunakan metode sel (sel system). Metode ini telah
berhasil mereka jalankan dan sangat ampuh. Karena,
mereka mendidik satu atau dua orang. Lalu, kemudian
hasil didikan itu disuruh mengembangkan dan
memengaruhi orang lain dan begitu seterusnya.
Apakah gerakan Islam radikal itu membahayakan dan bisa
menjadi ancaman disintegrasi bangsa dan persatuan umat
Islam di Indonesia?
Kalau targetnya itu adalah khilafah maka hal itu
sangat membahayakan bagi NKRI. Apalagi ketika konsep
ini diberlakukan dan dijalankan di negeri ini. Sebab,
hal itu akan melahirkan ruang-ruang yang berbeda
secara konstitusional. Saya ingin menyitir pada
pertemuan guru besar se-Indonesia adalah perlunya
menegakkan dan menjaga kesatuan atau integrasi bangsa
berdasar pancasila dan UUD 1945.
Adakah tindakan persekusi atau kekerasan yang
dilakukan kelompok ini secara bebas?
Saya rasa mereka belum berani melakukan hal-hal yang
mengarah pada kekerasan, khususnya di daerah Jawa
Timur. Sebab, kelompok mereka masih kecil, makanya
cara yang mereka pakai dengan metode yang saya sebut
sebagai teknik taqiyah. Seperti misalnya dengan
menjadi jamaah masjid, lalu aktif jamaah dan kegiatan
masjid lalu dipilih menjadi takmir. Setelah itu
kemudia, merebut masjid dan memengaruhi umat.
Khalid Abou elFadl, pemikir dari Mesir, dalam The
Great Theft mengatakan bahwa berkembang biaknya
gerakan radikalisme Islam ditengarai oleh diamnya
kelompok Islam moderat. Pertanyaanya, apakah fenomena
kuatnya pengaruh Islam radikal di Jawa Timur sama
seperti tesis Fadl tersebut?
Saya setuju dengan pernyataan itu, cuma dalam konteks
Jawa Timur, tampaknya masyarakat belum banyak yang
menyadari dan mengetahui rivalnya itu sebagai ancaman
dan musuh. Sebab manakala umat Islam tidak memiliki
musuh yang jelas secara langsung maupun tidak membuat
kita tidak kritis, responsif dan tidak bisa bergerak
apa-apa. Tetapi situasi akan berbeda ketika sudah
jelas posisi kita manakala terkepung musuh maka
gerakan perlawanan akan terjadi.
Lantas, bagaimana upaya ormas (NU dan Muhammadiyah
misalnya) dalam menyikapi masalah tersebut?
Karena pengaruhnya di hampir semua kawasan dan pelosok
Jawa Timur khususnya, maka Pak Ali Maschan Moesa
sebagai ketua PWNU Jatim menggunakan langkah untuk
membentengi pengaruh gerakan Islam radikal di sembilan
titik di daerah Jawa Timur. Tapi maaf saya tidak tahu
persis di mana saja daerah itu. Hal ini wajar,
mengingat masjid dan mushala telah banyak diambil alih
oleh kelompok ini.
Menurut saya pribadi, dalam konteks ini maka perlu
ditempuh jalan alternatif yang dipelopori oleh
anak-anan Muda NU dan Muhammadiyah. Bagaimana caranya
anak-anak muda NU dan Muhammadiyah perlu menjalin
kerjasama untuk menyelamatkan Islam multikultural yang
rahmatan lil alamin. Hal ini penting, karena kita saat
ini menghadapi suatu kenyatan menghadapi rival yang
sangat jelas. Kesadaran bersama ini penting.
Praktisnya, melalui pelatihan dan penguatan pentingnya
menyadari dan melaksanakan nilai-nilai pendidikan
multikultural. Dalam konteks ini, perbedaan NU dan
Muhammadiyah perlu diarahkan pada titik nol dan secara
bersama-sama menghadapi rival bersama tersebut. Tentu
saja, anak-anak Muda NU dan Muhammadiyah tersebut
tidak perlu memakai cara-cara kekerasan tetapi gerakan
penyadaran dan pencerahan. Mungkin dengan melakukan
aksi bersama dan berkarya.
Terakhir, bagaimana menurut Anda masa depan gerakan
radikalisme Islam di Indonesia, khususnya di Jawa
Timur?
Menurut hemat saya, masa depan gerakan Islam radikal
di Jawa Timur bisa semakin kuat dan sebaliknya bisa
semakin melemah. Kondisi itu sangat ditentukan dan
bergantung pada kita semua umat Islam di Indonesia,
utamanya warga muslim di Jawa Timur. Apakah kita
membiarkan atau mencegahnya. Pencegahan tanpa
kekerasan melalui berbagai bentuk penyadaran adalah
jalan terbaik. []
____________________________________________________________________________________
Building a website is a piece of cake. Yahoo! Small Business gives you all the
tools to get online.
http://smallbusiness.yahoo.com/webhosting