http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=5904&c_id=21&g_id=285


Jumat, Jul 06, 2007 09:59
Bisakah Partai Lokal Jadi Solusi?
- berpolitik.com

(berpolitik.com): Insiden di Maluku dan Papua sepekan terakhir ini,
membangkitkan kembali wacana parpol lokal. Persoalannya, masih terdapat
keraguan mengenai manfaat parpol lokal. Selain dikhawatirkan bakal
menyuburkan separatisme, parpol lokal yang hanya meniru perilaku parpol
nasional diyakini hanya menambah masalah saja.

MESKI pemberitaannya sudah surut, tak sepatutnya insiden pengibaran bendera
Benang Raja di Maluku dan Bintang Kejora di Papua dianggap selesai. Pesan
yang dimaksudkan sudah sampai: keinginan untuk memisahkan diri dari
Indonesia masih bersemayan di sebagian penduduk yang tinggal di sana.

Menariknya, ada dua hal yang sama-sama diungkit sebagai landasan untuk
berpisah dari Indonesia: ketidaksamaan ras dan yang lebih penting lagi, soal
sejarah. pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Perpera)tahun 1963 silam .
Sekadar mengingatkan, gerakan ingin memerdekakan diri sebenarnya juga pernah
meletup di Riau.

Sebagian kalangan beranggapan, cara-cara represif di masa lalu-lah yang
menjadi pupuk bagi berkecambahnya perasaan ingin melepaskan diri dari
Indonesia. Kekerasan fisik, eksploitasi sumber daya alam dan ketiadaan
saluran partisipasi politik mengakibatkan pilihan merdeka kerap digaungkan.
Padahal, yang dimaksud merdeka sebenarnya tak selalu berarti lepas dari
bingkai NKRI. Menurut Almarhum Munir, pengertian merdeka di Aceh, umpamanya,
sebenarnya sekadar diartikan sebagai hengkannya tentara dari kampung!

Arie Sudjito,Pengamat politik dari UGM, menegaskan akar separatisme biasanya
bersumber dari pemerintahan yang sentralisme. Tak hanya soal kebijakan
ekonomi dan keputusan politik, tetapi juga menyangkut pengidentifikasian
diri.

Jadi, otonomi daerah saja tak cukup. Warga di berbagai daerah perlu
diberikan ruang untuk mengekspesikan identitas dan juga aspirasi politiknya.
Dus, usulan partai lokal menjadi relevan. Masalahnya, ada kekhawatiran
partai lokal bakal mendorong tumbuh suburnya separatisme.

Pandangan ini, misalnya, pernah dikumandangkan Dr I Ketut Putera
Erawan,pengamat perpolitikan dari UGM. Menurut dia, dengan membuka peluang
membentuk partai lokal, perjuangan yang tadinya bersifat informal di luar
negara menjadi formal. "Parpol lokal itu tahapan untuk merebut kursi politik
lokal dan jika berkuasa, akan mulai mempertanyakan pola hubungan dengan
pusat," ujarnya.

Tapi hal ini disanggah sejumlah pengamat politik lainnya. J Kristiadi,
peneliti dari CSIS, pernah menyatakan, alasan partai lokal sebagai sumber
separatisme sebagai sesuatu yang mengada-ada.Separatisme tumbuh karena
karena ketidakadilan, kesewenangwenangan, tersumbatnya aspirasi di suatu
wilayah, dan segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan lainnya. Sebaliknya,
kata Kristiadi, kehadiran partai politik lokal justru dapat dijadikan
kanalisasi dan instrumen bagi masyarakat di daerah untuk menyalurkan
aspirasi mereka. Pasalnya, partai politik berskala nasional tidak mungkin
dapat menampung dan mengagregasi kepentingan rakyat di daerah yang
sedemikian beragam.

Argumentasi senada juga dikemukakan oleh Maswardi Rauf, akademisi dari Fisip
UI. Partai lokal dalam pandangannya akan lebih mampu memberikan perhatian
kepada kepentingan daerah atau kepentingan kelompok tertentu di daerah.
Meski begitu, ia meyakini, partai lokal tak akan mempertentangkan
kepentingan nasional dengan kepentingan daerah. Soalnya, jika itu yang
dilakukan, partai lokal itu bakal gagal mendapat dukungan masyarakat.

Hadar Gumay dari Cetro berpendapat peluang dibentuknya partai politik lokal
harus dibuka lebar di seluruh Indonesia.Adanya partai lokal, kata pengamat
perpemiluan ini, akan membantu desentralisasi dan menggairahkan politik
lokal."Jika ada partai lokal, maka mereka bisa membuat tren kebutuhan
nasional," ujar Hadar

Jika menengok ke belakang, Indonesia sebenarnya sudah berpengalaman dengan
kehadiran partai lokal. Ini terjadi dalam pemilu demokratis pertama yang
pernah berlangsung di tanah air. Ketika itu sejumlah partai lokal tercatat
sebagai kontestan pemilu 1955. Di antaranya: Partai Rakyat Desa (PRD),
Partai Rakyat Indonesia Merdeka (PRIM), Gerakan Pilihan Sunda, Partai Tani
Indonesia (PTI), dan Gerakan Banteng (di Jawa Barat), Gerinda (di
Yogyakarta), Partai Persatuan Daya (di Kalimantan Barat),Persatuan Indonesia
Raya NTB (di NTB), AKUI (di Jatim).

Partai-partai lokal tak menjadi jawara di daerah masing-masingnya. Di Jawa
Timur, AKUI hanya menempati urutan ke-19. Di Jawa Tengah, Gerinda berada di
urutan ke-18. Di Jawa Barat,Gerakan Banteng di urutan ke-20, PRD ke-21, dan
PTI ke-23.Di Kalimantan Barat, Partai Persatuan Daya berada di urutan ke-10.
Di NTB PIR NTB malah tidak ada dalam daftar. Menurut Feith, hanya Persatuan
Daya yang berhasil mendapat kursi di Konstituante, tetapi tidak di DPR.

Meski begitu, tak dipungkiri, kehadiran partai politik lokal juga bisa
menimbulkan ekses lain. Menurut Wawan Ichwanuddin dari Pusat Kajian Politik
Fisip UI beberapa waktu lalu, parpol lokal akan beragam jenisnya dari mulai
yang moderat hingga yang ekstrim. Karena itu, tak tertutup kemungkinan
justru terjadi konflik di antara partai lokal sendiri.

Pada titik ini, peringatan yang disampaikan Arie Sudjito menjadi penting.
Menurut Sekjen Pergerakan Indonesia ini, parpol lokal tidak akan menjadi
kanal aspirasi daerah jika tingkah lakunya hanya menduplikasi partai-partai
politik nasional yang ada saat ini. Yang ia maksud, kebiasaan oligarki
kepemimpinan di segelintir elit, memajukan aspirasi kelompoknya sendiri
ketimbang aspirasi konstituen serta fd sogokan politik dalam berbagai
bentuk.

"Parpol lokal baru menjadi kanal aspirasi jika mampu mendekatkan jarak
pengambilan keputusan antara warga dengan pemerintah yang berkuasa,"ujarnya
kepada berpolitik.com ketika dihubungi melalui telepon, Kamis malam (5/7).

Kirim email ke