Yahh mas, apa pun bisa terjadi di republik mimpi ini. Boro boro pembunuh ala teroris, yang menebas kepala pelajar putri di Poso mungkin bisa bebas, lha wong koruptor besar saja ya bebas jalan jalan kok? Coba di Tiongkok, koruptor sudah mati lima kali, teroris digilas pakai tank, barangkali.
Kasihan deh polisi, udah gaji kecil bekerja keras, berhasil menangkap terroris kelas kakap, malah diejek.. Baiknya kita balik, Densus 88 masuk penjara, semua teroris kita bebasin, angkat jadi pahlawan, berikan Bintang Mahaputra...horeee Please dechh ahhh Salam danardono --- In [email protected], "Paulus Tanuri" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Ya kalau memang begitu, berterimakasihlah kepada semua media di Indonesia > yang terus mengangkat masalah prosedur penangkapan abu dujana itu. > Media-media itu pula yang telah membangun opini publik bahwa abu dujana > adalah korban pelanggaran HAM polisi. Sehingga dia bisa berjalan bebas, > tanpa ada penyidikan lebih lanjut apakah dia memang bersalah atas bom-bom > yang meledak di tanah air Indonesia atau tidak. > > Sekali lagi salut buat media.. > Kerja kalian memang bagus sekali. > > Regards, > Paulus T. > > On 7/6/07, Jussy Puturuhu <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Semoga begitu skenarionya, hanya saja saya melihatnya sulit jika memang > > abu dujana benar2 anggota dari kelompok ini (bukan rekayasa polisi) > > mengingat para pelaku ini adalah termasuk orang2 yg setia dalam kelompoknya. > > Contoh imam samudra, amrozi, dll. > > >
