Terorisme atau Kontraterorisme?
Oleh Novriantoni
02/07/2007

Karena itu, jika opini Baasyir selalu kita perhitungkan, upaya 
pemberantasan terorisme mungkin saja akan terhambat. Dan, bukan 
mustahil aksi-aksi terorisme berikutnya akan kembali meledak karena 
terus mendapat pembenaran, baik secara teologis-ideologis maupun 
taktis-strategis. Pelaku terornya memang sedikit orang, tapi sugesti 
dan dukungan banyak orang yang sealur pikiran telah membesarkan hati 
dan kekuatan mereka.
Upaya Tim Pembela Muslim (TPM) untuk mempraperadilkan kasus 
penembakan Abu Dujana yang berlangsung di depan mata anaknya 
merupakan langkah hukum yang patut dihargai. Sangat boleh jadi, 
satuan Datasemen Khusus 88 Anti-Teror telah bertindak kurang 
proporsional. Mungkin juga mereka sedikit gagah-gagahan karena sedang 
menangkap sosok yang dianggap sangat berbahaya. Kita belum tahu apa 
yang sungguh terjadi. Kejelasan kasus ini masih perlu penyelidikan 
lebih mendalam.

Namun pernyataan Abu Bakar Baasyir bahwa apa yang dilakukan Abu 
Dujana cs bukan aksi terorisme melainkan kontraterorisme sangat perlu 
dikritisi. Apalagi dalam konferensi pers di gedung Dewan Dakwah 
Islamiyah Indonesia (DDII), Selasa (26/7) lalu, Baasyir juga menuntut 
dibubarkannya Densus 88 yang selama ini bertugas menangkap para 
tersangka terorisme. 

Pernyataan itu memang retorika yang tipikal dari orang-orang yang 
mengingkari fakta terorisme di Indonesia. Kita tidak tahu, dengan 
bukti macam apa mereka akan berhenti mengelabui opini publik. Kita 
pun hanya mampu meraba-raba ikatan batin antara Baasyir dengan para 
pelaku teror itu. Yang kita tahu pasti, aksi-aksi terorisme telah 
memakan banyak korban. Dan, sudah tiba saatnya untuk berseru lantang: 
cukup! 

Karena itu, jika opini Baasyir selalu kita perhitungkan, upaya 
pemberantasan terorisme mungkin saja akan terhambat. Dan, bukan 
mustahil aksi-aksi terorisme berikutnya akan kembali meledak karena 
terus mendapat pembenaran, baik secara teologis-ideologis maupun 
taktis-strategis. Pelaku terornya memang sedikit orang, tapi sugesti 
dan dukungan banyak orang yang sealur pikiran telah membesarkan hati 
dan kekuatan mereka.

Sejauh ini, ungkapan pembenaran itulah yang selalu muncul dari 
pernyataan-pernyataan Baasyir. Selain pembenaran teologis-ideologis, 
para pelaku teror itu juga terbantu oleh pembenaran taktis-strategis. 
Oleh sementara orang, tindakan mereka dinilai sebagai aksi heroik 
demi membalas teror yang lebih besar, baik yang dilakukan Amerika di 
Irak maupun Afganistan sana. Bagi mereka, aksi mereka tidak lebih 
brutal dari apa yang dilakukan musuh jauh mereka: mesin-mesin perang 
George W Bush. 

Karena musuh besar tak dapat mereka rengkuh, maka tak mengapa 
bertindak sekenanya terhadap musuh yang mudah dijangkau. Dengan alur 
pikir seperti ini, para pembenar ideologi terorisme telah ikut andil 
dalam memberi sugesti dan memalingkan isu dari persoalan sebenarnya. 
Pelaku teror dalam negeri tidak dipandang sebagai teroris, melainkan 
kontraterorisme. Jatuhnya korban-korban tak bersalah pun tak membuat 
mereka jatuh iba. Dengan entengnya, mereka dianggap berada di tempat 
yang salah. 

Padahal, tanpa kritik Baasyir pun, rezim Bush yang dianggap sebagai 
the real terrorist, telah banyak menuai kritik dari publik dalam 
negerinya. Sosok yang mungkin dibenci Baasyir, Geoge Soros, dalam 
buku Zaman Kenisbian: Konsekuensi Perang Terhadap Teror, termasuk 
orang paling keras menentang pendekatan Bush dalam perang melawan 
terorisme. Soros menggelontorkan uang jutaan dolar untuk menghambat 
terpilihnya kembali Bush meski ia gagal. Baginya, Amerika di bawah 
rezim Bush bak raksasa mabuk yang memberangus musuhnya secara 
serampangan. 

Karena itu, pembedaan teroris-kontrateroris Baasyir tidak menggenapi 
apa-apa. Wujudnya teroris yang lebih besar tidak harus membuat 
absahnya teroris yang lebih kecil untuk bertindak semau-maunya. 
Itulah alur logika yang benar meski mungkin tak disepakati Baasyir. 
Sebab, logika Baasyir tampak berjalan ke arah sebaliknya: karena ada 
teroris yang lebih besar, maka teroris kecil-kecilan absah belaka 
adanya. Jika demikian logika Baasyir, itu tentu sudah berbeda dengan 
logika kebanyakan orang sehat Indonesia lainnya.

Implikasinya, pekerjaan rumah kita untuk memberantas terorisme 
menjadi ganda. Tidak hanya memerangi terorisme, kita juga diharuskan 
menyingkap alur pikir orang-orang yang selalu siap sedia melakukan 
pembenaran terhadap tindak teror itu sendiri. Tugas pertama sejauh 
ini sudah dilakoni dengan baik oleh kepolisian, sementara tugas kedua 
sepenuhnya berada di pundak siapa saja yang cinta iklim kedamaian, 
baik bagi Indonesia maupun dunia. 




Kirim email ke