Polisi memakai argumen FPI,  berarti polisi tidak akan mau  melakukan tugas 
menghalang penganggu seminar, karena FPI adalah perpanjangan tangan polisi?

  ----- Original Message ----- 
  From: poetry timoer 
  To: [email protected] 
  Sent: Monday, July 09, 2007 5:11 AM
  Subject: Re: [mediacare] nota protes UGM


  wong kampus kog wedi (takut) karo FPI....UGM ngisin-isini
  memalukan.......

  timoer

  leo leono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

    http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=5898&c_id=4&g_id=5



    Kamis, Jul 05, 2007 16:41
    Pernyataan Protes: 
    Nota Protes pada Pejabat UGM
    - Arie Sujito, 5 Juli 2007

         
    Kepada Yth.
    Bpk. Rektor Universitas Gadjah Mada
    di tempat

    Pada hari ini, kamis 5 Juli 2007, di fakultas Filsafat UGM diselenggarakan 
diskusi kerjasama pusat studi pancasila (PSP) UGM, IRE Yogyakarta dan LMND, 
bertema: "Makna kebangsaan dan Klas-klas Sosial di Indonesia" dengan pembicara 
: Max Lane (Sydney Univ), Arie Sujito (UGM) dan Agus Wahyudi (UGM). Ternyata, 
belum mulai diskusi, sudah mendapatkan tekanan dari pihak kepolisian untuk 
dihentikan (tidak dilanjutkan) acara tersebut dengan alasan, kata polisi, 
dikhawatirkan FPI akan datang untuk menyerang.

    Pihak Dekan Fakultas Filsafat menyampaikan pesan kepada panitia agar 
kegiatan diskusi segera dihentikan, (katanya ditekan dari pihak universitas). 
Tetapi, panitia (dalam hal ini Agus wahyudi) bersepakat untuk selanjutkan acara 
ini, karena ini diskusi akademik di kampus, sehingga intervensi jelas tidak 
diperbolehkan. Akhirnya diskusi tetap dilanjutkan, meskipun masih dalam tekanan 
pihak polisi. Saya heran, mengapa pihak Universitas dan Fakultas tidak 
meyakinkan soal otonomi akademik, agar melarang intervensi semacam ini. Toh, 
sampai siang juga tidak ada FPI. Kalaulah ada pihak luar manapun, semestinya 
Universitas dan Fakultas memiliki otoritas untuk melindungi kegiatan diskusi di 
kampus. Juga kepolisian, semestinya mencegah hal ini (jika memang ada ancaman), 
bukan dengan menghentikannya secara sepihak.

    Melalui surat ini, saya menyampaikan nota protes, karena intervensi semacam 
ini menjadi preseden buruk bagi kebebasan kampus untuk melakukan aktivitas 
diskusi, seminar atau kegiatan sejenis dalam koridor akademik dan dilindungi 
UU, juga sistem kita yang semestinya mempertimbangkan demokrasi. Saya kecewa 
atas perlakuan ini, dan sekaligus prihatin. Fakta ini menunjukkan pada kita 
bahwa, insan akademik kampus UGM tidak nyaman lagi membuat kegiatan di kampus, 
persis jaman orde baru dimana kegiatan kampus selalu diintervensi dan direpresi 
oleh kekuasaan secara berlebihan dan sepihak. Padahal, sekarang ini era 
reformasi, yang semestinya ada aturan main yang jelas, dimana politik 
pelarangan kegiatan akademik, dan sosial, tidak relevan lagi.

    Kepada pihak Rektorat, Prof. Sudjarwadi, Ph.D, hal ini perlu menjadi 
perhatian serius, juga pihak Dekanan Filsafat, Dr. Abbas, agar menjadikan ini 
pelajaran berharga, untuk bersegera menghentikan praktek-praktek penindasan 
yang mengebiri kebebasan akademik oleh intervensi pihak luar. Semoga kasus ini 
tidak terulang kembali, dan menjadi bahan pembelajaran berharga dikemudian 
hari. 


    Arie Sujito
    Fisipol UGM


    Salam Pergerakan, 






------------------------------------------------------------------------------
  Get the Yahoo! toolbar and be alerted to new email wherever you're surfing.  


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.476 / Virus Database: 269.10.2/890 - Release Date: 7/7/2007 3:26 
PM

Kirim email ke