“Tidak ada tv, tidak masalah kok. Kalau perlu jual saja tv-nya”.
Satu kutipan menarik dari khotbah shalat Jumat yang saya simak siang tadi.
Pengkhotbah itu sedikit menyinggung tentang tv, dan mengkaitkannya dengan
perilaku malas, malas belajar, pun malas untuk urusan ibadah. Dari kutipan tadi
muncul sebuah pertanyaan, hari gini tanpa tv, sanggupkah kita?
Membeli sebuah tv dan meletakkannya di dalam rumah, sama saja halnya
memindahkan dunia luar ke dalam lingkungan rumah kita, segala hal akan mengalir
dari kotak itu, instantly. Bahkan Garin Nugroho bilang tv itu bagaikan anak
pertama dalam keluarga, serba menjadi pusat perhatian. Tv telah menjadi bagian
dari keluarga.
Saya bukanlah orang yang anti tv, sikap saya terhadap tv masih mendua, kadang
benci dan menghujat, lain hari bisa kembali suka dan mencumbui. Fungsi tv
sendiri bagi saya pribadi adalah media hiburan dan informasi. Dari sisi tv
sebagai media hiburan, saya masih bisa mematikan tv untuk beberapa waktu, dan
mencari bentuk hiburan lain seperti mendengarkan radio dan musik digital, atau
nonton DVD bajakan (masih pakai monitor tv juga sih). Namun, dari sisi penyedia
informasi apalagi dalam bentuk berita, saya belum mampu mematikan tv.
Sebenarnya penyedia informasi bisa saya alihkan ke media lain, seperti koran
dan internet. Sayang, saat ini di rumah hanya berlangganan satu koran yang
penyajian beritanya tidak berbobot, itupun koran sore. Jadi, saya masih
menggantungkan akses informasi dari tv. Internet? Wah, di rumah tak sedia
komputer online, nge-blog saja masih lewat warnet.
Dengan alasan ini dan itu, maka saya juga tak ikut seruan pekan anti tv.
Tidak semua acara tv jelek seperti cirit ayam, masih banyak acara bagus dan
layak tonton. Siaran tv di Indonesia dengan segala centang perenang-nya tetap
setia kita tonton. Baik-buruknya dampak televisi itu tergantung bagaimana kita
menyikapinya, tanpa bermaksud menggurui, tapi begitulah adanya. Kita tak bisa
hanya mengandalkan KPI agar siaran yang masuk ke rumah kita itu sudah
tersaring, kontrol terbaik memang datang dari diri kita sendiri, meskipun
selera masing-masing orang tidak sama. Saat remote controll ada di tangan anda,
maka andalah yang punya kendali. Anjuran pemandu acara atau host untuk tidak
pindah saluran selama iklan, bisa dengan mudah anda abaikan.
Langkah ekstrim dengan tidak menonton tv sama sekali dan bahkan menjual tv
seperti yang dibilang pengkhotbah tadi, bagi yang sudah kecanduan apalagi pada
taraf couch potato sungguh tak mudah melakukannya. Namun kalau anda sedang
butuh uang dan tak ada pinjaman, menggadai atau menjual tv bisa jadi langkah
cepat untuk dapat money in cash, asalkan itu tv anda sendiri, bukan tv milik
tetangga!
PS: Tanggal 23 Juli nanti kabarnya akan ada hari tanpa tv, siapkah anda
menyambutnya? Mungkin nasibnya hanya seperti hari tanpa tembakau, tak banyak
yang tahu dan patuh.
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!