Pak Moderator kendati cuma sekali-kali turunkan postingan, tetapi baik
pilihannya. Ini analisis yang banyak betulnya. Namun:
*** Ada "daerah pertemuan" antara gerakan radikal agamis dengan para Muslim
moderat, dimana dua kelompok, gurem sangat vokal dan besar namun tenang, itu
bertemu, yaitu misalnya tentang rasa tertindasnya Muslimin seduia oleh AS dan
teror negaranya (state
terrorism). Rupanya di daerah itupun cukup ada wartawan yang "terjebak"
mindset nya
*** Mungkin bisa diusulkan supaya Muslimin moderat memakai
mindset yang tidak agamis dalam melihat segalanya didunia yang riil, yaitu
sospolekbud dll dll dll. Hingga akan terlihat AS itu bukan serakah hanya terus
mau menindas Muslim, tetapi
menindas siapa saja di dunia, termasuk rakyatnya dan juga orang Eropa,
Jepang, Australalia dll yang berani melawan keserakahan ekonomis dan
kekuasaanya. Kalau bisa, mudah-mudahan bisa, lalu semua persepsi harus di
redefinisi, dan akan sangat lebih
cerah membaca keruwetan dunia yang monopolar dibawah komando AS ini. Lalu para
jurnalis investigatif yth yang "terjebak" tadi juga akan bisa mengentaskan
diri dari mindset subyektif yang out of date, disamping mengurangi kegenitan
eksibisionis dan kehausan mencari sensasi, meski memang terus dikejar redaksi
buat mendongkrak tiras.
Don M
radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Para Pembela Teroris
Luthfie Assyaukanie
* peneliti Freedom Institute, Jakarta
Saya bukan sedang berbicara tentang Tim Pembela Muslim (TPM) yang belakangan
sedang populer karena usaha mereka memberikan bantuan hukum kepada para
pelaku teroris, tapi tentang para wartawan, aktvis, dan kaum terpelajar yang
secara gencar dan menjengkelkan membela para teroris. Sebagian mereka
tampaknya tak menyadari apa yang sedang mereka lakukan, sebagian lainnya
hanya demi bergenit-genit saja, dan sebagian lainnya, tampak jelas mendukung
ideologi serupa dengan para teroris hanya saja dengan sedikit kemasan yang
diilmiah-ilmiahkan.
Tentu saja, setiap upaya mempertanyakan prosedur hukum haruslah dihargai dan
dijunjung tinggi. Adalah sebuah truisme belaka bahwa polisi bukanlah sebuah
profesi yang maksum dari kesalahan. Tugas wartawan adalah mempertanyakan
prosedur-prosedur yang dilakukan polisi, termasuk dalam menangani persoalan
terorisme. Saya justru merasa senang bahwa pers kita kini sangat kritis dan
tak takut lagi dalam menyorot kinerja aparat kepolisian.
Namun, sikap kritis tentu ada batasnya. Pencarian kebenaran haruslah
bermuara pada penemuan, bukannya pada pencarian itu sendiri. Premis-premis
dalam logika dibangun untuk mengantarkan kita kepada kesimpulan, bukannya
pada penciptaan satu premis baru yang ad infinitum. Dalam dunia khayal, Anda
mungkin bisa melakukan itu, tapi dalam dunia nyata yang menyangkut nyawa
orang banyak, kecuali jika Anda sakit jiwa atau berhati teroris Anda mau
melakukannya.
Bersikap tegas kepada para teroris memang bukan hal yang mudah, terutama
jika Anda punya kesamaan visi dengan para pelaku teroris itu, misalnya dalam
meyakini adanya teori konspirasi, kebrutalan dan kesewenang-wenangan
Amerika, dan ketertindasan Islam. Hanya jika Anda punya pikiran yang
benar-benar jernih Anda bisa membedakan mana yang benar dan mana yang
keliru.
Perang terhadap terorisme memang bukanlah sesuatu yang mudah sekarang ini,
karena yang kita hadapi bukan hanya para pelaku teroris, tapi juga para
simpatisannya yang jumlahnya berkali lipat. Aparat polisi bisa menangkap
pelaku teror tapi tentu saja harus menahan diri dan kejengkelan dari para
pembela teroris yang muncul dalam beragam ekspresi.
Polisi misalnya harus menahan diri dan kejengkelannya terhadap Abu Bakar
Baasyir, yang terang-terangan membela para teroris dengan menyebut mereka
sebagai "counter-teroris, " maksdunya adalah bahwa mereka melakukan teror
demi mencegah teror yang lebih besar. Yang dia maksud dengan "teror yang
lebih besar" adalah teror yang dilakukan Amerika Serikat.
Para polisi juga harus menahan diri sambil mengurut dada terhadap para
wartawan yang menyebut dirinya "jurnalis investigatif" yang menuhankan dan
menyembah data. Tentu saja, sebutan "jurnalis investigatif" ini dimaksudkan
untuk memanipulasi kesimpulan-kesimpul an yang sudah dibuat polisi. Tak perlu
dikatakan bahwa ada banyak wartawan yang jujur dan berpikiran jernih, walau
ada sebagian kecil dari mereka yang sayangnya bekerja di bawah standar
kualitas.
Sebagian retorika para pendukung teroris itu memang memikat, karena dia
menyentuh sisi-sisi emosional terdalam kaum Muslim. Siapa yang tak tertawan
dengan retorika bahwa Amerika adalah teroris besar karena kelakuannya di
Timur Tengah dan dunia Islam lainnya? Dengan terus mempersalahkan Amerika,
para pembela teroris itu merasa absah mendukung teror dan kekerasan, meski
korban dan kerugian terbesar dirasakan oleh bangsa sendiri.
Tak ada orang yang menyangkal bahwa faktor Amerika memainkan peran yang
sangat besar bagi sulitnya menumpas gerakan terorisme yang melanda dunia
Islam. Kebrutalan dan kesewenang-wenangan Amerika juga sangat menyulitkan
kaum moderat Muslim dan siapa saja yang ingin berjuang menumpas terorisme.
Banyak orang menahan diri untuk mengecam teroris karena mereka takut
dibilang "antek Amerika" atau "antek zionis."
Sementara itu, para "penulis investigatif" yang umumnya duduk manis di ruang
ber-AC ikut-ikutan membela para teroris yang umumnya hidup sulit dan
kepanasan di luar sana. Saya tidak terlalu yakin bahwa mereka mengenal pasti
dengan obyek yang sedang ditulisnya. Kesan saya, mereka sepertinya sedang
meng-entertain ego dan libido intelektual saja, jika bukan benar-benar ada
habitus teror dalam dirinya.
Perang terhadap teror memang bukanlah tugas polisi semata. Ia merupakan
tugas kita semua, baik masyarakat agama, hukum, pers, akademis, maupun
lainnya. Yang diperlukan adalah kejernihan berpikir, keseriusan, dan rasa
tanggungjawab yang besar terhadap persoalan. Tugas polisi adalah menangkap
pelaku teror, sementara tugas kita adalah menyadarkan betapa terorisme dan
kekerasan atas nama agama dengan dalih apapun merupakan tindakan yang tidak
bisa dibenarkan.
Tanpa perlu dikatakan, the benefit of doubt harus terus dipakai, tujuannya
adalah mencari kebenaran sepanjang ia sesuai dengan aturan-aturan hukum
formal, bukan sepanjang khayalan-khayalan liar yang tak bertanggung jawab.
Pers menjadi ujung tombak bagi kebebasan, karena dari sanalah kebenaran
disiarkan. Tapi pers bisa menjadi sembilu yang mematikan jika para
pengelolanya tak mengerti potret besar dari persoalan yang berlaku.
Luthfi Assyaukanie. Peneliti Freedom Institute, Jakarta.
Koran Tempo - Jum'at, 06 Juli 2007
---------------------------------
Boardwalk for $500? In 2007? Ha!
Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.
---------------------------------
Don't get soaked. Take a quick peak at the forecast
with theYahoo! Search weather shortcut.