Simaklah sejarah, dan disana kita temukan "resep" Presiden Soekarno:
samenboendeling van alle revoloetionaire krachten!
Kesatuan semua kekuatan revolusioner, artinya berorganisasi, sekaligus
mengadakan aksi massa terus menerus, dan kesatuan massa ini dibenturkan kepada
penjajah, yang dari luar maupun dalam negeri. Ini terus aktual.
Rakyat kecil sendiri harus bangkit, memakai saluran yang ada dan yang akan
dibentuk,
merintih dan menangis tidak ada guna. Rakyat sudah sangat miskin, dalam
perjuangannya rakyat kecil akan kehilangan hanya kemiskinannya itu.
RPr
kabarindonesia <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kepada siapa rakyat kecil sekarang ini bisa mengeluh, walaupun
mereka ngomong sampai berbuih sekalipun jangan harap ada yang mau
mendengarkan suara mereka. Suara mereka terlalu kecil dan tidak
berarti sehingga tidak akan pernah bisa mendapatkan perhatian.
Sarana mereka satu-satunya ialah demo di depan kantor permerintah
dengan risiko digebukin oleh aparat.
Mas media baru tertarik untuk memberitakannya, apabila pada saat
demo tersebut, terjadi huru-hara. Sudah bertahun-tahun lamanya kita
mencanangkan Indonesia sebagai negara reformasi, tetapi
kenyataannya budaya yang berlaku tetap saja budaya "Sungkem dan
Bungkem" seperti ketika jaman VOC.
Memang harus diakui bahwa di Indonesia sekarang ini sudah banyak
sekali media, mulai dari media cetak sampai dengan media elektronik,
Radio, TV maupun koran online, tetapi jawablah dengan jujur, apakah
tulisan wong kecil disana bisa dijadikan berita?
Kalau bisa ditayangkan sebagai surat atau komentar pembaca saja
sudah bagus. Masalahnya berita yang ditayangkan di media utama
(mainstream) hanya ditulis oleh para wartawan profesional atau para
tokoh politik. Disamping itu di media utama: Redaksi dan para
Editornya yang mendikte dan menentukan berita apa saja yang
sebaiknya diketahui atau tidak diketahui oleh publik.
Berita disana ditentukan oleh sang pemilik modal, politik, bisnis
bahkan terkadang oleh agama. Di sana tidak ada tempat bagi orang
biasa ataupun wong kecil.
Di koran mainstream manapun juga redaksi dan editor yang menentukan
berita apa saja yang harus dimuat. Pemilihan berita pada umumnya
bukan mencerminkan kepentingan publik, melainkan kepentingan bisnis,
politik maupun pemodal, disamping itu juga karena adanya
keterbatasan space.
Jurnalisme manstream (jurnalisme resmi) di mana-mana telah
kehilangan landasan filosofis sehingga dengan mudah mereka
mendiktekan apa saja yang sebaiknya diketahui atau tidak diketahui
oleh publik. Yang dicorongkan disana bukannya suara atau inspirasi
rakyat murni melainkan suara redaksi dan sang pemilik modal.
Hal-hal inilah yang mendorong lahirnya media www.kabarindonesia.com
sebagai media akar rumput, media alternatif atau yang lebih dikenal
sebagai "Citizen Jurnalisme.
Media yang bisa menjadi corong suara orang biasa atau suaranya wong
kecil. Semua berita yang ditayangkan berasal dari publik dan dibaca
oleh publik. Jadi pembacalah yang akan memilih dan menentukan berita
pilihannya bukan redaksi
Di koran online www.kabarindonesia.com setiap warga bisa menjadi
reporter dan penulis oleh sebab itulah reporter dari koran
underground ini lebih dikenal dengan sebutan "Citizen Reporter" -
pewarta warga. Mereka adalah orang biasa, mulai dari ibu rumah
tangga, mahasiswa, buruh kecil sampai dengan dosen bisa jadi citizen
reporter.
Citizen jurnalism bisa disebut juga sebagai junarlisme advokasi,
karena disini setiap penulis dapat memberitakan perjuangan mereka.
Misalnya memberitakan tentang pencemaran lingkungan, mulai dari
pembakaran hutan sampai dengan semburan lumpur panas. Dalam citizen
jurnalism siapa pun dapat membuat, menyebarkan, bahkan menjadi
narasumber sekaligus mengonsumsi berita dalam format tulisan maupun
foto.
Berita sekecil apapun juga bisa menjadi berita besar, penulis
sekecil apapun juga bisa menjadi penulis besar.
Dukunglah perjuangan kami dengan meng-klik <Daftar Jadi Penulis> di
www.kabarindonesia.com
Email: [EMAIL PROTECTED]
Big News Today..!!! Let's see here:
www.kabarindonesia.com