============================================
Posting jurnal Juli 11 2007 di :
http://dbaonk.multiply.com/journal/item/91
============================================

Selepas Jum'at saya dihampiri seorang teman lama. Tujuannya
bertandang, yang pertama silaturahim dan yang kedua, mau pinjem duit.
Tidak banyak, cuma 150 ribu.

Maksud hati mau bertanya "Buat apa?", tapi kok rasanya nggak etis.
Mau bantu ya bantu ajalah, gak usah banyak tanya, apalagi jadi
nyinyir pengen tahu urusan orang.

Tapi berhubung pos keuangan pas-pas-an, mau nggak mau ya mesti
ditanya juga. Jadi saya rubah pertanyaannya dengan agak diplomatis,
"Penting banget jang?" (Namanya bukan ujang, cuma saya biasa
memanggil teman yang bercakap berbahasa sunda dengan sebutan ini)

Jawabannya nggak kalah diplomatis, "Kalau penting itu sih, relatif.."

Entah karena saya suka gaya jawaban diplomatisnya, atau saya lagi
ketempelan malaikat baik hati. Saya coba urek-urek duit yang nyelip
di sana-sini disekitar rumah. Hingga akhirnya, terkumpul jugalah
puluhan ribu plus receh-receh yang jumlahnya menggenapi nilai yang
diinginkan teman saya tersebut.

Mungkin karena tergerak hatinya karena melihat kesungguhan saya nyari
duit di dalem rumah, teman saya lalu secara kurang senonoh meminta
saya untuk mengantarkan ke sebuah tempat. *Udah minjem duit minta
anterin lagi. Huh...* Oke deh, ta' anterin juga akhirnya.

Maka meluncurlah dua orang manusia ganteng ke sebuah mall di ujung
kota Bogor.

***

Dalam perjalan teman saya tidak banyak bicara. Sekilas dia hanya
bercerita kalau tiga bulan ini dia terpaksa keluar dari rumah
kontrakannya, dan pindah ke Pondok Mertua Indah.

Agak ironis mendengarnya, karena setahu saya bertahun-tahun sebelum
menikah teman saya justru sudah mandiri di rumah petak yang dikontrak
bulanan. Lha kok setelah enam bulan kawin, malah beralih rupa jadi
"numpang" lagi. Denger punya denger celotehnya, rupanya itu
disebabkan pekerjaannya sekarang di bengkel bubut mengalami
kemunduran karena ia ditempatkan di bengkel cabang yang baru dibuka
bossnya. Tempat baru berarti pelanggan baru. Dan karena lokasi kurang
strategis, pelanggan baru itu tidak muncul sebanyak yang diharapkan.

Pekerjaannya sebagai tukang bubut memang mengandalkan banyaknya
order. Upah harian (dikasihnya sih mingguan) biasanya hanya dalam
ukuran standar dan sekadar cukup untuk ongkos-ongkos saja. Lokasi
kerja baru dan penurunan pendapatan ini yang menyebabkan akhirnya
sang teman harus mundur teratur dari rumah kontrakan yang lama.
Kebetulan pula Pondok Mertua Indah-nya cukup dekat dengan lokasi
baru. Jadi timbang-timbang ekonomisnya akhirnya mengatakan daripada
cari kontrakan baru, mending ngungsi sajalah ke rumah mertua.

***

Ceritanya berhenti hanya sampai di situ, karena kami sudah sampai di
Mall yang dituju. Bermenit-menit kemudian, uang pek-go tadi sudah
beralih rupa menjadi sebuah hair dryer. Saya sempat lirik mereknya
bukan yang murahan punya dan harganya (kalo ga salah) mencapai
seratus tujuh puluh ribu sekian sekian. Berarti masih nombok..
hehehe..

Ajaib juga, rumah tangga lagi krodit kok malah beli hair dryer.
Buat apa sih?

Pertanyaan iseng gini tentu saja mengusik juga di benak saya. Tapi
namanya hair dryer itu identik dengan keperluan wanita, saya memilih
tidak banyak bertanya.

Setahu saya, wanita di keluarganya ya cuma istrinya saja. Teman saya
dua saudaranya lelaki semua, istrinya juga hanya punya satu saudara
dan lelaki pula. Ayah-ibunya teman saya sudah tidak ada di dunia, dan
mertuanya pun sudah tinggal mertua lelaki.

Jadi saya memilih diam tak bertanya karena saya tidak begitu suka
umbaran cerita soal daleman rumah tangga. Kalau dia mau cerita, tentu
akan diceritakan juga. Kalau tidak diceritakan, berarti ya memang
rahasia perusahaan.

Dan rupanya hari itu hari keberuntungan saya *halah* karena ternyata
dia memang mau cerita. Maka dalam perjalanan pulang tak dapat ditolak
meluncurlah sepotong-sepotong kisah yang bersinggungan dengan hair
dryer yang baru dibeli tadi.

***

Pendek cerita, berhubung sekarang ia numpang di rumah mertua, teman
saya kesulitan untuk mendapat "jatah" dari istrinya.
Haa... ngomongin ranjang orang lain, males-dot-com-deh judulnya.

Tapi ternyata ceritanya punya sisi yang menarik. Sisi potret
kehidupan masyarakat kecil, tapi juga sisi yang saya anggap luar
biasa.

Istri teman saya bekerja menjadi buruh perusahaan tekstil. Berhubung
tempat kerjanya menurutnya lumayan jauh (kalau saya bilang sih, bukan
"lumayan jauh" tapi jauh banget) ia sehari-hari harus berangkat pagi-
pagi buta dari rumahnya. Dan sang istri rupanya sejak menikah
menetapkan diri untuk menggunakan jilbab, sehingga berjilbab-ria-lah
ia setiap hari saat pergi-pulang dan saat di tempat kerjanya.

Jilbab ini rupanya menjadi salah satu faktor mengapa istrinya enggan
memberikan "jatah" biologis untuk teman saya.

"Masalahnya, bini gue kalo rambutnya basah bisa pusing seharian di
pabrik. Kasihan kalau gara-gara keramas dia malah gak bisa kerja."
Begitu penjelasan singkat yang didapat reporter karbitan anda ini.

Mudah ditebak, pusingnya itu lantaran rambut basah sang istri harus
dikekep sama jilbab seharian. Entahlah, saya belum pernah coba apakah
kalau rambut panjang basah ditutup seharian akan menimbulkan akibat
pusing kepala. Tapi karena ceritanya begitu, tanpa perlu dicoba
pastilah demikian adanya. Paling tidak untuk istri teman saya ini.

Eng... kalau masalah basahnya, pasti paham dong...
Kalau udah "begituan" kan kudu keramas.

*interupsi : samhaow, mandi besar tidak identik dg keramas. yg saya
tahu ritualnya cukup dengan mengguyur air sekujur tubuh dan tentu
saja dengan niat. tapi memang faham untuk mengasosiasikan bersuci
mandi besar dengan keramas masih menjadi faham umum di masyarakat.*

Eit, terus kenapa keramasnya mesti pagi-pagi? Apa "begituan"-nya
begitu hot sampai semaleman suntuk?
Hush... kok malah mikir yang enggak-enggak. Kita ikuti sajalah
penuturan nara sumber kita ini.

"Lu pan tau, gue sekarang numpang mitoha..., " ujar teman saya
menjawab pertanyaan yang terbersit di hati anda tadi. (Lho.. kok
anda?)
"Bini gue nggak begitu sreg kalau ketangkep basah lagi basah-basahan
mandi di tengah malam. Malu katanya. Lagian dia demen tahajud. Sering
gue gak tega minta begituan karena tau doi mesti bersih-bersih di
malem hari supaya bisa tetap shalat malam."

Lantas?

"Ya, jadi mau ga mau gue punya jadwal ranjang kudu digeser pagi-pagi
buta abis nyubuh.. Lagian kalo abis subuh kan enak. Sholat kagak
keganggu, terus abis "olahraga" bisa langsung mandi dan berangkat
gawe.
Cuma ya itu tadi, kalo keramas pagi-pagi, bini gue dengan rambutnya
yang tebel itu gak kering-kering. Dianginin pake kipas angin malah
jadi masuk angin. Repot deh... Satu-satunya jalan ya mesti punya hair
dryer."

Haa...
Jadi begitu toh ceritanya.

Ajaib? Nggak lah..
Biasa aja. Potret kehidupan masyarakat kecil banget kan?

Cuma satu nilai yang saya tangkep dan saya anggap sebagai hal luar
binasa, menimbulkan kekaguman saya pada rekan saya si tukang bubut
ini.

Ibadah (Shalat), kerja, dan beradegan ranjang (bersama suami/istri),
adalah tiga hal berbeda. Namun pada hakikatnya ketiga hal berbeda itu
bisa diletakkan dalam satu konteks yang sama, yakni ibadah.

Shalat ntu jelas ibadah. Tapi Gawe juga ibadah kan, dan begitupula
memenuhi kebutuhan nafkah bathin suami/istri melalui adegan ranjang
antara mereka berdua adalah juga ibadah.

Sungguh luar biasa kalau dalam diri seorang tukang bubut dan istrinya
yang buruh pabrik, masih meletakkan ketiga hal tersebut sebagai
ibadah, dalam konteks yang seibadah-ibadahnya.

Sungguh, dalam kehidupan kita sehari-hari pasti seringkali menemui
benturan ketiga hal seperti itu. Meski mungkin dalam jenis perkara
yang berbeda, atau mungkin pula memang dalam perkara yang sama.
Antara ibadah (shalat atau puasa atau yang lainnya), dengan nyari
duit, atau dengan hal esek-esek, seringkali sulit diselaraskan.

Atau mungkin sebenarnya mudah diselaraskan, tapi kita nggak mau
terlalu repot-repot untuk menyelaraskan.
Umumnya akan lebih gampang memilih mengutamakan salah satu
diantaranya, atau paling banyak dua diantara tiga.

Ini yang membuat saya kagum luar binasa pada sosok tukang bubut ga
makan sekolah ini.
Alih-alih memaksa istrinya untuk berhubungan di malam hari, atau
memaksa istrinya memenuhi hasratnya di pagi hari, teman saya dengan
rela mencari sebuah solusi alternasib yang bisa menengahi ketiga
perkara shalat, gawe dan ranjang tadi.

Dan sungguh sangat ajaib ketika solusinya mampir liwat sebuah benda
sederhana bernama hair dryer.
Dan sungguh beruntung ketika sesuatu di atas sana bukan hanya
menjadikan saya saksi dan penerima pelajaran untuk peristiwa
bersejarah ini, namun juga berbaik hati menjadikan saya perpanjangan
tangan untuk terciptanya harmonisasi ibadah dalam keluarga sederhana
seorang sahabat.

Pikir punya pikir, terbersit harapan indah dibenak saya,
Mudah-mudahan saya dan anda ketemu juga dengan "hair dryer" kita
masing-masing.


Sentaby,
DBaonk ® 2007


PS :

Mungkin perlu saya tambahkan sedikit pesan sponsor.
Saya kira pesan moral dari cerita ini sebetulnya sangat sederhana.

Apapun kepercayaan kita, entah itu sama dengan sahabat saya yang
menjadi tokoh dalam kisah ini, atau mungkin berbeda,
Entah pula apakah kita menganggap kepercayaan itu benar, atau bodoh,
atau apalah...
Bahkan entah pula apakah kita menilai solusi alternatif yang
dilakukan sahabat saya itu benar atau salah (sangat mungkin anda
pembaca mempunyai solusi lebih jitu dan efektif),

Namun, pesannya yang saya harap dapat ditangkap adalah :
sikap positif seorang tukang bubut untuk terus mencari solusi terbaik
dalam memperjuangkan harmonisasi dari sekian banyak benturan-benturan
masalah kehidupan, merupakan sikap yang rasanya perlu menjadi contoh.

Sekali lagi... apapun keyakinan dan pemikiran anda.
Semoga anda pembaca bisa menangkapnya.

Kirim email ke