Untuk bapak Yap Hong Gie, Saya akui analisa anda mengenai tembakan Richocet TNI AL di Pasuruan cukup meyakinkan tapi keberanian anda untuk memutarbalikkan fakta juga cukup mencengangkan. Nama kepala desa Alastlogo bukan Imam Supnadi yang benar adalah Imam Sugnadi (salah satu bukti ketidakakuratan analisis asal-asalan anda karena tidak berdasarkan fakta tapi gosip dan fitnah) Dari mana anda tahu bahwa kepala desa yang menerbitkan surat girik...kepala desa tidak punya kewenangan untuk menerbitkan GIRIK yang punya kewenangan adalah dinas Pajak kabupaten Pasuruan. Yang perlu saya tegaskan disini lagi upaya hukum yang diambil warga Alastlogo adalah karena masih mempercayai hukum dan karena mereka merasa ada di pihak yang benar namun seperti yang kita tahu posisi petani dan masyarakat kecil di mata hukum adalah marginal(karena lagi-lagi mereka dikalahkan).
TNI AL sebagai institusi negara juga tidak berhak memiliki tanah maka pernyataan anda bahwa tanah di sana adalah tanah TNIAL adalah salah besar, tanah tersebut adalah tanah negara yang penguasaan dan pengelolaannya seharusnya juga digunakan negara untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat. Ketika di tahun 60-an masyarakat Alas tlogo dan 11 desa lainnnya " menyerahkan" tanah tersebut karena TNI AL berdalih tanah tersebut akan digunakan sebagai pemukiman AL sebagai lapangan terbang apa lacur yang terjadi adalah tanah tersebut disewakan TNI AL kepada Kebon Grati Agung dan PT Rajawali demi apa apakah demi kepentingan pertahanan negara bukan tapi demi kepentingan bisnis mereka. Proses "jual beli" yang terjadi juga tanpa bukti-bukti yang sahih, tidak ada proses peralihan hak yang jelas kalau memang ada proses jual beli sekarang sama-sama kita tantang TNI AL untuk menyerahkan bukti jual beli yang sah terhadap seluruh lahan seluas 3000-an Ha yang mereka dan anda klaim sebagai milik mereka. Tentang adanya organisasi petani yang mengirimkan sembako untuk acara 40 harian penduduk desa AlasTlogo anda menuliskan SEPAM sekali lagi anda salah karena yang benar adalah SETAM (Serikat Tani Merdeka) yang menyatakan turut berduka dan bersolidaritas terhadap teman-teman sesama Petani di Alas tlogo bukan memprovokasi penduduk untuk "menjarah lahan TNI AL" Proses reklaiming dan pengambilalihan lahan yang anda maknai sebagai "penjarahan" adalah karena rakyat LAPAR.....tidak ada yang bisa mereka andalkan selain kemampuan mereka sebagai petani dan salah satu alat produksi terpenting petani adalah TANAH.... Perlu anda ketahui jumlah penduduk miskin di Indonesia sebagian besarnya adalah petani. Dimana hasil Sensus Pertanian 2003 mencatat, jumlah petani gurem---rumah tangga pertanian yang menguasai tanah kurang dari 0,5 hektare-- di Indonesia mencapai 13,7 juta rumah tangga petani. Sejak 1993 jumlah petani gurem meningkat rata-rata 2,4 persen per tahun.Sensus itu juga menyimpulkan, selama sepuluh tahun terakhir kehidupan petani semakin memburuk karena semakin sempitnya tanah yang dimiliki petani. Menteri pertanian kita menyatakan "Tidak mungkin petani sejahtera tanpa kepemilikan tanah yang memadai, " katanya. Konflik agraria yang semakin meningkat jika tidak disikapi serius penyelesaiannya oleh pemerintah niscaya akan menimbulkan eskalasi konflik yang semakin membesar, begitu pula keberpihakan negara kepada pemodal yang dibackup oleh aparat militer jika terus dipertahankan akan terus menimbulkan korban di masa yang akan datang yang tentu saja Pak YAP sekali banyak rakyat yang akan meregang nyawa di ujung senjata militer yang seharusnya melindungi mereka??? Apakah ini yang anda inginkan terjadi di masa yang akan datang? salam, Dwi Ayu On 7/10/07, Yap Hong Gie <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
# Kepala Desa (Kades) Alas Tlogo, Imam Supnadi, adalah oknum yang menerbitkan Surat Girik untuk warga penduduk, dengan mengutip bayaran, untuk mengongkosi istri pertama dan keduanya. # Kalau ternyata Imam Supnadi tidak berhasil mengambil alih tanah TNI-AL, maka dia akan berhadapan dengan warga Alastlogo yang selama ini diiming- iming dan dijadikan sapi perahan. # Dengan munculnya berbagai lembaga dan aksi gerakan "Petani", seperti a.l . Serikat Petani Merdeka (SEPAM), khususnya Divisi Advokasi SEPAM, nampak sekali adanya gerakan terorganisir secara sistimatis untuk menjalankan program "landreform" lahan tanah TNI. # Pertanyaannya, setelah mensengketakan dan berhasil menjarah lahan TNI, giliran lahan tanah siapa menjadi target berikutnya? http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?id=137461 Selasa, 10 Juli 2007 Sabtu, 07 Juli 2007 17:07 WIB NUSANTARA ยป Jawa Timur 40 Hari Insiden Alas Tlogo, Warga Khataman Al Quran PASURUAN--MIOL: Memperingati 40 hari korban tewas insiden penembakan warga Desa Alas Tlogo, Lekok, Pasuruan, Jawa Timur melakukan khataman Al Quran sepanjang hari di makam korban, Sabtu. Di tempat yang sama, malam harinya kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan tahlil bersama. Di sekitar makam korban insiden peembakan kini terpasang spanduk baru yang bertuliskan "Warga Alas Tlogo Tetap Menolak Relokasi. Apapun Alasannya dan Dalihnya. Segera Kembalikan Tanah Milik Rakyat Sesuai Bukti-bukti yang Ada". Kepala Desa Alas Tlogo Imam Supnadi yang memimpin kegiatan tersebut menegaskan, warganya berpendirian tetap menolak relokasi seperti yang ditawarkan TNI AL. Sebaliknya, warga menuntut TNI AL mengembalikan tanah rakyat yang selama ini dikuasainya. Imam Supnadi menjelaskan, tuntutan tersebut telah sesuai dengan bukti-bukti kepemilikan tanah yang dimiliki warganya selama ini. Saat bersamaan peringatan 40 hari korban insiden Alas Tlogo, para petani dari Yogyakarta dan Jawa Tengah yang tergabung dalam Serikat Petani Merdeka (SEPAM) juga datang memberikan bantuan berupa hasil-hasil pertanian separti jagung, kelapa, beras, pisang, kambing, serta buku sekolah. Hirzudin dari Divisi Advokasi SEPAM Yogyakarta dan Jawa Tengah mengungkapkan, bantuan materi yang diberikan para petani dari Jawa Tengah dan Yogyakarta diakuinya tidak seberapa nilai. "Bantuan tersebut sebagai bentuk solidaritas sesama petani yang senasib dan seperjuangan," ucapnya. Ia mengungkapkan, aksi solidaritas dilakukan, karena antara petani di Jawa Tengah dan Yogyakarta mempunyai kesamaan nasib dengan para petani di Desa Alas Tlogo. Para petani di Jawa Tengah khususnya di Cilacap, juga mempunyai kasus sengketa tanah denagan TNI AD. Aktivitas solidaritas dilakukan juga untuk memberikan pembelajaran kepada masyarakat tentang kasus-kasus sengketa tanah antara petani dan institusi TNI yang tidak kunjung selesai. "Kegiatan dilakukan mengambil momentum peringatan 40 hari korban insiden Alas Tlogo ini, diharapkan kasus tanah tesebut tidak kemudian berhenti dan dilupakan begitu saja, tapi harus dapat diselesaikan secara tuntas," paparnya. (Ant/OL-03)
