Jadi siapa lagi yang mau membela atau menggugat penangkapannya ?? barangkali
perlu kita waspadai siapa2 mereka itu.

Wassalam.


On 7/12/07, RM Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  Abu Du(r)jana
Oleh M. Guntur Romli
03/04/2007

Abu Dujana adalah nama samaran. Nama aslinya Ainul Bahri. Ia
dibesarkan di Cianjur, Jawa Barat. Ainul Bahri terpengaruh ideologi
negara Islam versi Darul Islam (DI) dari guru ngajinya yang juga
tokoh DI, Dadang Hafidz. Pada tahun 80-an, seperti halnya tokoh-tokoh
teroris Indonesia dan dunia, Ainul Bahri berangkat ke Afghanistan
untuk berjihad melawan Uni Soviet. Di sana, ia memilih nama baru: Abu
Dujana.
Dalam dua pekan ini kita disuguhi rangkaian berita utama: polisi
sedang memburu kawanan teroris pimpinan Abu Dujana. Abu satu ini,
bukan seperti Abu Nawas yang pandai mengocok perut melalui humor.
Sebaliknya, Abu ini mahir mencolok takut melalui teror. Ia selicin
belut, selincah bajing, dan selicik kancil. Dalam operasi penangkapan
di Jogja, ia lolos. Polisi hanya mampu mencokok beberapa anak
buahnya. Hingga kini ihwal Abu Dujana masih raib.

Tak banyak orang mengenal nama ini. Konon dia adalah pengganti Dr.
Azahari setelah terbunuh, dan mitra-setia Noordin M Top, buruan
teroris nomor wahid. Ia adalah tokoh kunci kelompok Jamaah Islamiyah
(JI) saat ini. Abu Dujana juga disinyalir berandil besar dalam
peledakan bom di Indonesia, khususnya di Poso.

Abu Dujana adalah nama samaran. Nama aslinya Ainul Bahri. Ia
dibesarkan di Cianjur, Jawa Barat. Ainul Bahri terpengaruh ideologi
negara Islam versi Darul Islam (DI) dari guru ngajinya yang juga
tokoh DI, Dadang Hafidz. Pada tahun 80-an, seperti halnya tokoh-tokoh
teroris Indonesia dan dunia, Ainul Bahri berangkat ke Afghanistan
untuk berjihad melawan Uni Soviet.

Di sana, ia memilih nama baru: Abu Dujana. Bersama teman-temannya
dari seluruh pelosok dunia, ideologinya yang berbasis kekerasan
diperkokoh dan dididik secara militer oleh kelompok Mujahidin,
tentara Pakistan, dan dinas rahasia Amerika.

Ketika nama Abu Dujana disebut-sebut polisi dan media massa, saya
teringat seorang wira dalam Perang Uhud di zaman Nabi dulu. Abu
Dujana adalah nama panggilan Sammak bin Kharsyah. Ia terkenal karena
keberanian dan keganasannya membantai musuh. Ia bergelar "Si Pita
Merah-Maut", karena dalam setiap peperangan selalu mengenakan seutas
pita merah yang dililitkan di kepala. Bila pita itu sudah diikat, ia
bagai malaikat maut yang menerobos barisan musuh, dan siap mencabut
nyawa.

Alkisah, sebelum dimulai perang Uhud, Nabi mengangkat pedangnya
tinggi-tinggi lalu berseru, "Siapa yang sanggup membawa pedang ini?"
Banyak yang berebut maju seperti Ali bin Abi Thalib, Umar bin
Khattab, dan lain-lain. Membawa pedang Rasulullah merupakan
keistimewaan. Namun Nabi malah memberinya kepada Sammak alias Abu
Dujana. Sejak peristiwa Perang Uhud itu, nama Abu Dujana tersiar
masyhur.

Rupanya Si Ainul Bahri kagum pada kisah kepahlawanan Abu Dujana,
sehingga mengambil namanya sebagai gelar dan samaran. Kebiasaan ini—
menggunakan doktrin, dan nama tokoh perang Islam zaman Nabi—lazim
dilakukan kelompok teroris dan beberapa aktivis Islam. Selepas
melakukan sumpah setia pada amir dan jamaah—yang disebut bay'at—
mereka seperti memasuki dunia baru, melepaskan masa lalunya dengan
memilih nama anyar.

Nama yang kurang Islami diubah, misalnya dari "Gatot" jadi "al-
Khaththath", atau menyematkan nama anaknya dengan menambahkan
kata "Abu" artinya "bapak".

Si Udin yang punya putri bernama Hindun akan disebut Abu Hindun. Saat
Si Udin dipanggil Abu Hindun, tidak terasa lagi Sundanya, ia bagai
orang Arab, bahkan merasa seperti sahabat Nabi. Tak sampai di situ,
ada kebiasaan baru yang diamalkan: memelihara janggut walau beberapa
helai, memakai sorban dan gamis di atas mata kaki. Bila belum beranak-
pinak, mereka bisa memilih nama dari pahlawan perang Islam yang
diidolakan, seperti Abu Dujana.

Namun ada hal yang dilupakan Ainul Bahri dari peristiwa Perang Uhud.
Meski Abu Dujana bertempur dengan penuh keberanian, kaum muslim tetap
menderita kekalahan, setelah di awal-awal berhasil mendesak mundur
lawan mereka. Kekalahan itu akibat kesalahan strategi. Satu regu
pemanah yang bertugas melindungi pasukan Islam di punggung gunung
Uhud meninggalkan posisinya karena tergiur harta rampasan perang.
Celah itu dimanfaatkan lawan untuk menyerang balik dari belakang.

Saya yakin, soal strategi ini yang mungkin dialpakan Abu Dujana
bersama jamaahnya. Masalahnya bukan hanya soal keberanian, ataupun
ideologi yang diklaim paling benar. Tidakkah mereka melihat, dengan
strategi teror, kekacauan, dan peledakan di mana-mana, mereka telah
membuka celah, sehingga "lawan" balik menyerang?

Dahulu sosok Sammak adalah Abu Dujana yang hadir dalam perang melawan
kelaliman. Kini Ainul Bahri malah menghadirkan kezaliman: durjana dan
angkara murka. Dia bukan Abu Nawas, bukan Abu Dujana, tapi Abu
Durjana. []



Kirim email ke