Yth Bapak Merza Gamal,
 
 Saya mencoba memandang iklan yang Bapak bicarakan dari sisi kehidupan sosial 
masyarakat Indonesia sekarang ini. Tak perlu ragu untuk mengakui, kehidupan 
masyarakat kita saat ini, termasuk kaum mudanya, sudah memasuki pagar kehidupan 
bebas. Maka ketika iklan kondom mencoba membatasi penyakit yang bisa ditularkan 
melalui kegiatan seks bebas, kenapa kemudian kita malah menudingnya sebagai hal 
yang jelek?
 
 Mari mencoba sedikit bersikap bijaksana dan memandang sesuatu dari perspektif 
yang berbeda. Selama ini kita telah mencoba menggunakan tameng agama untuk 
membatasi pergaulan anak-anak kita. Saya yakin sampai detik ini, agama adalah 
landasan yang paling kuat dalam kehidupan seorang manusia- agama apapun itu. 
Namun tolong, jangan menutup mata dengan apa yang telah terjadi di dunia nyata. 
Tak banyak orang-orang yang memiliki kadar keimanan setebal yang dimiliki oleh 
Bapak. Maka bagi mereka, kondom merupakan solusi terbaik untuk mencegah 
kehamilan dan penularan penyakit seks.
 
 Jangan salah, saya termasuk pendukung Pak Merza dalam hal melakukan seks 
setelah menikah, karena nilai ibadah yang terkandung di dalamnya. Namun ketika 
saya temukan iklan yang bapak bicarakan di televisi, saya malah berujung pada 
rasa syukur. Bahwasanya saat ini sudah ada orang yang tidak lagi merasa munafik 
untuk memberikan petunjuk bagaimana cara hidup sehat melalui iklan ini. 
Bagaimanapun, iklan ini tentu tidak asal buat tanpa pemikiran panjang para 
kreatornya. Iklan ini justru berasal dari bagaimana masyarakat kita menjanai 
kehidupannya saat ini.
    Di Amerika Serikat, pensosialan penggunaan kondom justru telah dilakukan 
sejak bangku SMA melalui berbagai penyuluhan. Saya tidak berusaha menyamakan 
kehidupan kita dengan mereka yang ada di AS sana. Tapi paling tidak, sejak SMA 
mereka telah diberikan pembelajaran tentang seks, sehingga tak lagi buta dan 
tak tahu-menahu soal yang satu itu. Seks bukanlah hal yang tabu lagi u/ 
dibicarakan, malah harus dibicarakan secara benar, melalui orang dan media yang 
tepat. Sehingga anak-anak kita tahu apa yang harus dilakukan, dan mana yang 
harusnya dihindari.
    Mari menyadari kalau kita tak lagi hidup di zaman pra modern yang tidak 
memiliki akses komunikasi. Saya rasa, iklan-iklan yang ada bukanlah sebagai 
alat untuk mensosialkan kehidupan bebas. Sekali lagi, iklan itu ada JUSTRU 
karena gaya hidup masyarakat kita yang sudah seperti itu. Yang salah memang, 
terkadang iklan-iklan tersebut ditayangkan bukan pada jam 22.00 ke atas. Saya 
rasa pihak televisi harus lebih awas terhadap pengaturan jadwalnya. Mari tidak 
lagi memandang naif suatu persoalan, dan tidak lagi melihat suatu kasus dari 
satu sisi saja.
  
  Salam,
     
Metha W
   
   
  
 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke