sekedar cross posting:

Posted by: "widya arsa" [EMAIL PROTECTED]   widierna   
     Mon Jul 16, 2007 4:43 am (PST)   Senin, 16 Juli 2007 18:03 WIB

Impian Dokter Erina Pupus di Jurang Fak-Fak

FAK-FAK--MIOL: Hasrat Erina Natania, 29, menjadi dokter spesialis pupus sudah. 
Dokter lulusan Universitas Padjadjaran ini meninggal dunia, ketika ambulans 
yang dikendarainya masuk jurang di Kabupaten Fak-Fak, Irian Jaya Barat, Minggu 
(15/7) lalu.
Erina salah satu dokter yang sedang menjalani program pegawai tidak tetap (PTT) 
di daerah sangat terpencil, selama enam bulan. Dia berangkat dari Bandung, 
April lalu dan selesai bertugas Oktober mendatang, berencana mengambil 
pendidikan spesialis.
"Erina belum bilang akan mengambil spesialis apa. Tapi, dia sudah berencana 
jauh-jauh hari untuk masuk bangku kuliah lagi," tutur Harry Hardianto, kakak 
sulungnya, Senin (16/7).
Kematian Erina menambah panjang daftar dokter PTT yang meninggal dalam tugas. 
Sebelumnya, seorang dokter asal Bandung juga mengalami hal serupa, karena 
terserang malaria di Maluku. Lalu, tiga dokter meninggal dalam kecelakaan lalu 
lintas usai menjalankan tugas di Sumatra Selatan.
Kematian Erina tergolong tragis. Sabtu (14/7), dia membawa seorang pasien asal 
Kokas, yang menderita masalah kelahiran cukup parah, ke Fak-Fak, berjarak 
sekitar 40 Km. Erina menyetir sendiri mobil ambulans milik Puskesmas, ditemani 
seorang mantri dan seorang perawat.
Mereka selamat tiba di Fak-fak. Namun, ketika pulang kembali ke Kokas, ambulans 
masuk jurang sedalam 20 meter, setelah menempuh perjalanan 17 Km dari Fak-fak.
Erina tewas seketika, karena luka parah di bagian kepala, sedangkan mantri dan
perawatnya menderita luka-luka.
"Erina sebenarnya bertugas di Fak-fak. Namun, sejak dua minggu lalu, dia 
bertugas di Kokas menggantikan rekannya, dokter Arief yang cuti dan pulang ke 
Jawa," lanjut Harry.
Erina, anak bungsu dari tiga bersaudara, pasangan Daniel Nazarudin, 60, seorang 
dokter gigi dan Kathy, 64. Erina sempat bekerja selama dua tahun di sebuah 
klinik di Cikawari, Cimahi. Ia lalu memutuskan ikut PTT dipercepat selama enam 
bulan ke daerah sangat terpencil, guna mengejar keinginannya menjalani 
pendidikan dokter spesialis.
"Dia meninggal dalam tugas. Negara akan menanggung pengiriman jenasahnya dari 
Irian ke Bandung, serta memberi penghargaan Piagam Arutala, dan membayar 12 
kali gajinya," papar Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari, ketika mengunjungi 
orang tua korban, Senin.
Siti Fadillah menambahkan, ke depan para dokter PTT perlu mendapat perlindungan 
lebih saat bertugas. Untuk saat ini, kata dia, yang terdekat kami akan usahakan 
mereka mendapat asuransi.
"Tanggung jawab dokter PTT sebenarnya ada di pemerintah daerah," lanjutnya. 
(SG/EM/OL-02) .

------------ --------- --------- --------- -
Sumber: Media Indonesia Online


  ----- Original Message ----- 
  From: Ignatius Sapto Condro 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Cc: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; 
[email protected] 
  Sent: Tuesday, July 17, 2007 3:42 AM
  Subject: [mediacare] nanya berita


  Ada yang tahu cara make search engine detik.com?

  Ada teman gua yang meninggal di Papua. katanya beritanya masuk TV.
  Ada yang nulis humanitarian worker got killed.
  Namanya Erina Nazarudin, lulusan kedokteran UNPAD.

  Oh, ya, dia punya saudara kembar namanya Erika Nazarudin, lulusan Teknik 
Lingkungan ITB.

  con...
   

Kirim email ke