Mbak Fau, Jawabannya belum dikirim ke milis nih.. Baru nyampe yang ke japri tuh.. Atau mungkin Pak Ikhsan Modjo bisa ikutan komentar juga.. apalagi sudah ada tulisannya di Kompas tuh.. :-)
Wassalam, Irwan.K On 7/11/07, IrwanK <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Maafkan daku, kalau misalnya ada pengertian yang jaka sembung dengan yang dipake BPS.. :-p Namanya juga orang awam yang masih belajar.. :-) Berikut ini daftar pertanyaan & komentar saya (atas pendapat Mbak Fau khususnya).. - Dasar penentuan sampel survey itu apa ya? Yang namanya angka konsumsi, saya kira gak ada bedanya antara pekerja formal/informal.. Itu kan cuma soal sumber saja.. Object yang disurveynya sama saja toh? Atau beda? Apakah sampel yang diambil 'elastis' seperti yang Mbak Fau bilang, misalnya? - Benarkah datanya (hanya) berdasarkan BLT 2006? Apakah tidak ada 'orang miskin' baru? Sehingga angka 2006 dijadikan patokan? - Kenaikan patokan kemiskinan lebih memungkinkan tingkat kemiskinan naik/turun? Lebih besar yang mana - kemungkinan naik atau turunnya? Bukan sekedar mungkin/ gak mungkin, yang bisa 0 dan 1 - true or false.. tapi range probability-nya.. lebih besar yang mana? Quote: ".. Sekarang kalau misal inflasi mar 06-07 < inflasi mar 05-06, dan pengeluaran kita kontrol dg meng-adjustnya thd inflated poverty line (dari 152 rb ke 166 rb atau naik 9.67%). .." - Bisa tolong dijelaskan soal 'adjust' di atas, maksudnya apa ya, Mbak Fau? - Kenaikan BBM terakhir kalo gak salah akhir 2005-an.. Bukan ini poinnya Mbak.. Tapi, di Indonesia kan prestasi pemerintah (siapapun) setiap naikin harga BBM, 'berhasil menaikkan' harga barang" lain.. Itu poinnya.. termasuk kenaikan" harga barang menjelang/ selama hari raya.. yang umumnya menjadi kenaikan permanen.. Plus modus kelangkaan barang, sebagai 'penekan'/justifikasi kenaikan harga selanjutnya.. - Tapi dari pengalaman (maklum bukan peneliti/akademisi), kenaikan harga barang" jauh lebih besar dari tingkat inflasi (resmi) pengumuman pemerintah.. Ini faktanya, bukan sekedar feeling doank.. emangnya dik doank... :-) Sekali lagi, maaf kalau saya banyak tanya en komentar ya, Mbak.. Barangkali akan lebih baik kalau para pakar/bukar berkenan tidak bosan menjelaskan.. khususnya pada saya yang awam tapi banyak nanya ini.. Hehehe.. CMIIW.. Wassalam, Irwan.K On 7/11/07, fau swasono < [EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kita batasi dalam definisinya BPS ya.. bukan definisi yang beda, supaya > ngga jaka sembung. > > On 7/11/07, IrwanK < [EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > Kenapa begitu? Ambil contoh, kenaikan gaji tahunan/massal di suatu > > perusahaan > > 5% sementara inflasi 10% (padahal kenaikan harga di pasar/warung jauh > > di atas > > angka inflasi tsb).. Artinya apa? IMHO, daya beli publik merosot.. Itu > > bagi mereka yang > > masih bisa bekerja/mendapat penghasilan bulanan rutin.. > > > > Anggaplah target survey BPS adalah para 'pekerja informal'.. Tetap > > saja mereka bisa > > dianggap sama dengan pekerja formal, karena yang disurvey angka > > pendapatan & > > konsumsinya toh? Hanya beda sumbernya saja.. Yang satu formal, lainnya > > informail.. :-) > > > Jelas beda. Argumen anda pake argumen orang kantoran, sedangkan 85% yang > disurvey bukan orang gajian. Kalau pekerja formal merasa kenaikan gajinya > tidak cukup mengejar inflasi, ya tidak banyak hubungannya dg sampel BPS, > kebanyakan bukan mereka yang ditanya kok. Lagipula bukan pendapatan yang > dicatat, tapi pengeluaran. > > Saudara saya ada yang punya warung. Pendapatannya setahun terakhir > meningkat, bukan karena dia jadi kaya, tetapi karena inflasi (harga2 > jualannya naik). Pengeluarannya pun meningkat, bukan karena dia meningkatkan > konsumsinya tetapi lagi2 karena inflasi. > > Jadi selama sampel tsb masih elastis mengikuti inflasi dan melampaui > pengeluaran 166 ribu/kapita/bln itu ya mereka diatas poverty line. > Itulah mengapa saya bilang, untuk micro-policy angka ini masih jauh dari > sufficient. Necessary but not sufficient. Perlu menengok definisi, metode > dan sampel sebelum menggunakannya lebih jauh. > > Nah, kalau tahun lalu saja dengan daya beli yang belum merosot ada x jt > > orang miskin, > > apa benar, saat ini x jt justru berkurang? Bukankah dengan naiknya > > angka patokan/ > > definisi kemiskinan, akan memicu meningkatnya jumlah (x jt)? Karena > > orang" yang tadinya > > masuk dalam level di atasnya bisa saja terbawa/merosot ke jenjang > > miskin. > > Belum lagi kalau kita bicara soal daya beli yang menurun.. > > > Setahu saya yang dijadikan sampel itu RT berdasarkan data BLT 2006. Jadi > kalau ada pengurangan kemiskinan, maka itu ditarik dari sampel ini. > (maksudnya ditarik ke populasi). > > Misalkan pada periode maret 2005- maret 2006 ada x jt orang miskin. > Ceteris paribus (inflasi tetap, pengeluaran tetap) maka jumlah orang miskin > pada periode mar 2006- mar 2007 akan tetap x jt. Bener ga? > > Sekarang kalau misal inflasi mar 06-07 < inflasi mar 05-06, dan > pengeluaran kita kontrol dg meng-adjustnya thd inflated poverty line (dari > 152 rb ke 166 rb atau naik 9.67%). > > Logikanya, ada kemungkinan x turun kan? > > Sekedar contoh, dari hasil bincang" kecil dengan beberapa orang di > > kampungnya > > istri saya, uang 10 ribu rupiah sebelum harga BBM naik, masih bisa > > untuk membeli > > beras, sedikit lauk & minyak tanah.. namun setelah harga BBM naik, > > uang segitu > > hanya cukup untuk membeli sedikit beras & minyak tanah.. untuk lauknya > > sudah defisit.. > > > BBM naik terakhir thn berapa? Susenas ini membandingkan periode maret > 2006 ke maret 2007. > Justru dampak BBM jadi lebih kecil dibandingkan dg periode maret 2005 ke > maret 2006. > > Faktanya, kenaikan harga barang seperti menjadi ritual tahunan atau > > bahkan dadakan.. > > indikasinya adalah kelangkaan komoditas di pasaran.. Lah, berapa > > banyak orang" yang > > terkena dampak kenaikan harga tersebut? Sedikit? Atau malah berkurang > > (baca: orang > > miskin berkurang).. Ini memang contoh kecil/ sangat sederhana.. sangat > > jauh dari metode > > lembaga survey legal.. :D > > > Kalau soal naik harga (inflasi), dari saya masih kecil juga tiap tahun > harga selalu naik :) > > wassalam, > > fau >
