[SELISIK]

Simpatik tapi Tidak Kritis
--------------------------
---Anwar Holid


JALALUDDIN RAKHMAT (Kang Jalal) memberi kata pengantar amat menyengat di buku 
Muhammad: Prophet
For Our Time karya Karen Armstrong (Mizan, 2007), judulnya: ‘Karen Armstrong, 
Simpatik tapi Tidak
Kritis.’ Kata pengantar tersebut merupakan 'hadiah' sangat berarti untuk 
menemani pembaca selama
menikmati buku biografi Nabi Muhammad dari sudut pandang seorang komentator 
agama. Bagi sebagian
Muslim pun, pendapat Kang Jalal tentang sirah nabawiyah itu boleh jadi tetap 
bakal mengguncang,
apalagi bagi Muslim yang kurang terbiasa dengan khazanah non-Sunni. Muhammad: 
Prophet For Our Time
sendiri disiapkan nyaris sempurna, mulai dari penerjemahan dan editing, 
didesain amat cantik,
hingga menambah bobot buku lebih dari sekadar benda cetak atau sumber 
pengetahuan. Karen Armstrong
menulis dengan sangat luwes, lincah, jernih, dan menyajikan wacana seperti bila 
kita meluncur di
permukaan licin, tanpa kesukaran pemahaman sama sekali.

Saya sudah menamatkan beberapa buku Karen Armstrong, membaca-baca berbagai file 
profil dia,
wawancara, artikel mengenai dirinya, pikiran dia dari berbagai sumber, termasuk 
menulis profil dia
di Matabaca, tapi tak terlintas sedikit pun kesimpulan bahwa dia tidak kritis. 
Bahwa Armstrong
simpatik tentu semua pembaca buku-buku dia sepakat. Tapi disebut tidak kritis? 
Baru Kang Jalal
berani berpendapat demikian. Walhasil, kata pengantar dia sangat berguna 
mengimbangii isi buku.
Sebuah kata pengantar yang sangat tajam dan menunjukkan betapa keyakinan (iman) 
lain dengan
penelusuran sejarah atau interpretasi terhadap teks dan riset dari berbagai 
sumber rujukan. Berkat
pengabdian Armstrong dalam membangun jembatan memajukan pemahaman antaragama 
pada 1998 Islamic
Center California Selatan menganugerahi dia penghargaan. Pada 1999 dia menerima 
anugerah dari
Muslim Public Affairs Council Media. 

Bagaimana Karen Armstrong jadi tidak kritis di mata Kang Jalal? 

Salah satu yang paling mencolok, Armstrong ternyata lolos memperhatikan dan tak 
merujuk sejumlah
biografi Nabi Muhammad karya penulis Muslim terkemuka, misalnya Sejarah Hidup 
Muhammad (Muhammad
Husain Haekal). Padahal buku Haekal tersebut sangat bermanfaat dalam 
menjelaskan soal kisah
gharaniq (ayat-ayat setan). Kelemahan Armstrong itu terutama disebabkan karena 
dia mengutip buku
'tarikh dalam terjemahan Inggris. Itu pun terbatas pada sumber Ahli Sunnah, 
yang diterimanya tanpa
kritik.' Kang Jalal mengambil satu kisah peristiwa vital yang dia jadikan bukti 
bahwa Armstrong
tidak kritis, yaitu ketika Muhammad menerima wahyu pertama, dan setelah itu 
beliau menggigil
ketakutan, disertai kecemasan, kebingungan, dan kesedihan. Begitu pulang beliau 
berkata kepada
Khadijah, "Selimuti aku! Selimuti aku!" sampai hilang rasa takut itu. 

Tulis Kang Jalal: Tidak pernah wahyu datang dengan cara yang 'mengerikan' 
seperti ketika ia datang
kepadaa Nabi Saw. Bukankah beliau adalah kekasih Rabbul `Alamin, yang tanpa 
Dia, seluruh alam
semesta tidak akan diciptakan. Atas dasar apa Jibril menakut-nakuti Nabi dan 
menyakitinya? Kisah
itu menunjukkan bahwa peristiwa menerima wahyu yang seharusnya mencerahkan, 
malah menggelisahkan.
Kisah itu bertentangan dengan gambaran Al-Quran Surah Al-An`am ayat 125: Barang 
siapa yang Allah
kehendaki untuk memberikan petunjuk kepadanya, niscaya Dia melapangkan dadanya 
untuk menerima
Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah 
menjadikan dadanya
sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah 
menimpakan siksa kepada
orang-orang yang tidak beriman. (H. 28 - 30). Karena itu, tegas Kang Jalal, 
riwayat turunnya wahyu
seperti itu harus kita tolak karena bertentangan dengan Al-Quran.

SAYA terperangah dengan argumen Kang Jalal. Betapa berbeda cara dia membaca, 
menilai, dan
menyimpulkan suatu informasi sangat lain dibandingkan pendapat umum selama ini. 
Dia memadukan
pengetahuan itu dengan keyakinan kuat, memanfaatkan khazanah yang luas lagi 
dalam, dan siap sedia
andai keteguhan itu diguncang. Saya lemas, ternyata selama ini pun tidak 
kritis. Kenapa tidak
kritis? Karena menerima keterangan begitu saja. Maka wajar bila sudah baca 
beberapa buku Karen
Armstrong, tak pernah terbetik pendapat lain terhadap dia, yaitu mengamini 
bahwa dia seorang
komentator agama yang simpatik. Saya gagal menemukan atau meraba betapa ada 
yang salah dalam
keterangan maupun keyakinan selama ini, mirip keyakinan mayoritas orang tak 
kritis lain. Sikap tak
kritis ketika membaca amat riskan mengeraskan pendapat salah yang dianggap 
sebagai kebenaran umum.
Sesuai kapasitas sebagai cendekiawan, Kang Jalal mengajak pembaca agar lain 
kali lebih kritis saat
membaca, sebab dengan itu kita bisa jelas-jelas membedakan mana pendusta, kaum 
munafik, penipu,
suka riya, mau untung sendiri, dengan orang beriman. Kita mudah menemukan 
Muslim yang memegang
teguh kisah tentang proses penerimaan wahyu pertama itu begitu saja, menganggap 
itu sebagai
kebenaran, dan sulit sekali menghapusnya, 

Pembaca, penulis, sarjana, memang bagus bila bekerja keras melakukan riset dari 
berbagai rujukan;
tapi bila tidak kritis, dia bakal salah menyisipkan detil itu ke dalam 
rangkaian tulisan yang
sedang dikerjakan, lebih parah lagi, bisa ikut berkubang dalam kesalahan, 
melestarikan kebodohan,
dan malah menyebarkannya pada publik. Wah, mengerikan jadinya![]

Note: Esai ini dipublikasikan di harian Republika, rubrik Selisik, Minggu, 15 
Juli 2007.

Kolom ini menyebut sebuah buku yaitu 'Muhammad: Prophet For Our Time' karya 
Karen Armstrong
(Mizan, 2007), terjemahan Yuliani Liputo, editan Ahmad Baiquni.


KONTAK: Jalan Kapten Abdul Hamid, Panorama II No. 26 B, Bandung 40141, Telp. 
(022) 2037348 – SMS:
08156140621


Menulis adalah sejenis doa yang terus membantuku mencapai dan menaklukkan hidup 
tanpa merasa ditaklukkan olehnya.
---© Kate M. Brausen
Esai, fiksi, resensi, dan lebih banyak hal ada di 
http://halamanganjil.blogspot.com 

/*/

Anwar Holid, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung. Penyunting di sebuah 
penerbit.

Kontak: Jalan Kapten Abdul Hamid, Panorama II No. 26 B Bandung 40141 | Tel.: 
(022) 2037348 | SMS: 08156140621 | E-mail: [EMAIL PROTECTED]


       
____________________________________________________________________________________
Yahoo! oneSearch: Finally, mobile search 
that gives answers, not web links. 
http://mobile.yahoo.com/mobileweb/onesearch?refer=1ONXIC

Kirim email ke