Orang Betawi ialah orang lahir di Jakarta!. Mereka itu akan membela tanah kelahirannya dari batin yang mendalam. Nah! Ada baiknya dibuatkan semacam kategori baru: Betawi kelahiran abad ke-21, abad ke 20, dan abad 19. Jadi bukan karena agama yang dianut atau karena dia keturunan Bang Jampang. Bang Jampang zaman itu kontekstual, karena berhadapan dengan penjajah. Bang atau Mpok Betawi abad ini harus ditandai dengan kehebatan menguasai tekno-bisnis, karena itulah tantangannya! Iya kan?
Betawi ini maju pesat karena ibukota RI. Dan, maju bukan karena diusahakan sendiri oleh orang-orang Betawi itu. Kembali ke yang di atas, karena orang-orang tua mereka melahirkan anak-anaknya di Betawi, jadilah anak-anak Betawi. Coba, bisa engga seseorang anak Betawi yang mempunyai orang tua kelahiran Sumenep mengangkat orang-tuanya menjadi anak Betawi? Gila namanya itu: Membantah Tuhan!. Coba yang menjadi ibukota adalah Pulau Biak yang fasilitas kotanya dibangun Amrek tak obahnya sebagai sebuah ibukota negara. Maka orang-orang Betawi yang datang ke Biak akan terlihat orang 'laen' bangat khan? Jadi, janganlah orang Betawi terus menggerutu. Bersyukurlah tanahnya dijadikan ibukota RI. Juga, bukan karena orang-orang Betawi membuatnya begitu, tetapi semua orang dari mana-mana di Nusantara ini setuju bahwa tanah ini layak dijadikan ibukota. Jangan heran bahwa suatu ibukota saja pindah. Atau juga bisa sirna jika RI bubar. Lalu apakah harga tanah di Betawi seperti sekarang jika ibukota pindah? Jadi orang-orang Betawi, (repotnya termasuk anak-anak saya yang kelahiran Jakarta, bawaannya sudah seperti yang saya ributkan ini, ...) jangan menggerutu terussss... hus... hus. Cintailah Betawimu ini. Orang-tuamu yang bukan kelahiran Betawi inipun selalu melihat tanah kelahirannya di Batak sana rrruaar biasa.... lalu bernyanyi Ooo Tano Batak. Gitu lhooo! --- T Chandra <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Dear all, > > Kalau bangsa mau lebih beradab gak usah deh > jauh-jauh liat ke AS, Eropa, Australia segala. Lihat > saja India, jelas orangnya mayoritas Hindu banget, > tapi mereka tuh gak peduli presiden, perdana mentri, > menteri dan segala pejabat apa Hindu, apa Islam, > Kristen, Shik yang penting buat mereka mutu dan > pengalaman track records nya. > > Mr Felix jangan skeptik banget dong, jangan ikutan > nggolput. Biasanya tuh kalau perbaikan ya datang > pelan-pelan, emangnya kita mau revolusi? Kalo emang > senang PKS dan Adang ya coblos aja, ikut proses > demokrasi dong sambil nunggu datengnya satria kayak > Chavez atau Morales, kan? > > Salam, > > Chandra > > MOD: > Apa yang dipaparkan Bung Felix ada benarnya. Diskusi > soal Fauzi Bowo lulusan Kolese Kanisius bermula di > milis PKS. Menurut pandangan mereka, kalau kita > pernah sekolah di institusi non Islam artinya sudah > 'cacat' di mata mereka. > > Dan saya klop dengan pandangan Bung Felix. Kampanye > hitam dari pendukung Adang ini amat tak sesuai > dengan ucapan Adang sendiri yang "seolah-seolah > pluralis". Namun sudah kita duga, Adang termasuk > golongan "saiki kedele, sesuk tempe". > > > felix_milis <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Dear Ferry, > > jelas keliru kalau ada yang melakukan black campaign > seperti itu. Saya > tahu memang beliau lulusan Kanisius, tapi who cares? > > Saya sendiri kenal dengan banyak orang lulusan dari > institusi milik > Kristen, tapi malah justru pemahaman Islamnya lebih > bagus dari lulusan > IAIN. > > Sebenarnya selebaran semacan itu justru seperti > pedang bermata dua. Di > satu sisi, kalau audience-nya memang not very much > educated, mungkin > akan termakan. > > Tapi kalau yang ter-educated, justru malah muak, dan > malah antipati > dengan si penyebar selebaran. > > Anyway, saya tidak lagi mbelain Fauzi Bowo, karena > saya yakin nggak > perlu saya bela, Fauzi Bowo akan sulit dikalahkan. > Dan intuisi saya, > Fauzi Bowo tidak akan bisa membawa Jakarta lebih > maju, kantong APBD > Jakarta bakal banyak tersunat untuk kepentingan > partai pendukungnya, > itu sudah jadi common practice di dunia politik > Indonesia. > > So, jangan banyak berharap lah dari Pilkada kali > ini. > > --- In [email protected], ferry irawan > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > saya meliohat siaran televisi yg menghadirkan > berita adanya black > campaign utk kubu fauzi bowo.. > > disitu di tayangkan selebaran yg menceritakan > bahwa fauzi bowo > senang dgn didikan kristen.. > > disitu dibeberkan Fauzi bowo adalah alumnus dr > koloze kanisius.. > dan ada foto Foke duduk > > bersama dgn prof. magnis suseno.. > > sumber selebaran itu dalam tayangannya bertuliskan > masyarakat > betawi asli.. > > sampai ada alamat websitenya.. ( saya lupa alamat > namanya..) > > > > ada yg bisa menjelaskan..? > > krn hal ini sudah sangat tidak sehat.., mengingat > sudah membawa > sentimen agama di dalamnya.. + nam asuku atau > etnis.. > > memeang betawi bisa menjadi alat sentimen kesukuan > dlam pilkada > ini, namun bukankah devinisi betawi sendiri adalah > orang- orang atau > masyarakat yang tinggal di batavia atau jakarta > sekrang?.. > > hingga mau itu org jawa, sumatera, papua seklipun > jika sudah lahir > dantinggal di jakarta dapat menyebut diri sbg org > betawi...?? > ____________________________________________________________________________________ Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect. Join Yahoo!'s user panel and lay it on us. http://surveylink.yahoo.com/gmrs/yahoo_panel_invite.asp?a=7
