Wah...udah dapat pengalaman lagi tuh Mas Dawud. Gimana..Paspornya sudah di pakai belum...he..he...jangan lupa oleh-olehnya ya...(canda aja). Mas...Dawud kalau bicara reformasi...wah ,saya pribadi baru bilang perubahannya 10 % - 20 % ( dalam taraf ...baru bebas bicara dan mendirikan partai). Kalau mau mengharap perubahan sistem atau birokrasi....mimpi kali ye... (KECUALI kita semua elemen maysrakat s/d semua lembaga dan pejabatnya mau BERKOMITMEN merubah MENTAL....).
Balik bicara soal pengurusan surat, dokument atau administrasi lainnya yang berhubungan dengan lembaga atau dinas instansi serta birokrasi....Kalau kita mau "bersedia SEDIKIT SUSAH, mau NGOTOT, dan "berkorban" WAKTU ...Sangat bagus lagi bila kita di back up data dan fakta (link, refrensi, serta mitra) ...para Oknum aparat / petugas ....nakal tersebut PASTI malu tuh. Harusnya.... Mas Dawud ...cari dulu refrensi serta informasi...siapa kepala Imigrasi atau petugas Imigrasi atau setidaknya tanya-tanya dulu ke teman-teman yang sudah pernah ngurus Paspor. Nah...minta klarifikasi soal pengurusan Paspor ( apalagi untuk Dinas.../ keperluan pekerjaan ?PERS) biasanya mereka mau bantu tuh. Salam untuk semua teman-teman di Prosalina, dari teman-teman di Jakarta (Jaringan Delta, Female, Prambors). Salam, TERUS SEMANGAT Tomi Pahlevi Masima Radionet [EMAIL PROTECTED] Mobile : +628129531303 ----- Original Message ---- From: dawud gresika <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Monday, July 23, 2007 8:32:02 PM Subject: [mediacare] Diping-pong mengurus paspor Berikut pengalaman saya saat mengurus paspor di kantor imigrasi. Awalnya saya mencoba mengurus lewat jalur resmi. Tapi kemudian saya diping-pong dan diputer-puter ke beberapa bagian. Akhirnya, salah seorang calo bertanya dan menawariku. Saya pun sepakat dengan harga yang dia tawarkan asalkan sehari jadi. Sekitar 15 menit kemudian, saya sudah dipanggil ke bagian administrasi. Diteruskan ke loket pembayaran, sidik jari dan sampai difoto. Kemuddian saya diwawancarai. Wah baru kali ini wartawan diwawancarai. Karena waktu itu di paspor saya kasih keterangan wartawan, akhirnya petugas yang mewawancarai saya bertanya tempat kerja saya. Kebetulan saya menyebut radio Prosalina, akhirnya dia bilang kenapa harus lewat calo? Kalau diurus sendiri bisa lebih cepat, apalagi wartawan. Dia juga menyebutkan biaya yang diperlukan membuat paspor hanya separuh biaya yang saya keluarkan untuk calo. Tapi, dia mengatakan nasi sudah menjadi bubur. Dalam waktu satu setengah jam paspor saya sudah jadi. Hebat kan para calo? Lain halnya ketika saya mengurus SIM C karena masa berlakunya habis. Salah satu teman wartawan membantu mengurus. Dia juga nyambi menjadi calo SIM dan STNK. Satu kali ngurus SIM atau STNK, dia cuma ngambil untung Rp20rb-Rp25ribu. Sehingga banyak yang order ke dia. SIM yang dia urus dalam waktu satu jam bisa jadi. Jika wartawan yang mengurus SIM, maka yang diberlakukan oleh polisi adalah biaya resmi dan prosesnya cepat. Tapi jika masyarakat yang mengurus, biayanya dua kali lipat.Biaya resminya sekitar 100 ribu, jika masyarakat umum bisa mencapai 200ribu -250 ribu. Rinciannya, 20 ribu untuk polda, 20 ribu lagi untuk kapolres, 20 ribu untuk kasatlantas, 20 ribu lagi untuk bagian SIM dan 20 ribu lagi untuk lain-lain. Tanpa tes langsung lulus dan dapat SIM. Tapi kalau ada warga yang minta tes dan membayar sesuai tarif, dijamin tidak akan lulus meski sudah ujian sampai 5 kali. Kecuali pejabat dan keluarganya yang 'pura-pura' mengurus SIM secara resmi. Reformasi di masyarakat sudah berlangsung sejak 98 lalu. Tapi aparat penegak hukum khususnya Polisi tidak pernah berbenah kecuali memisahkan diri dari ABRI/TNI. M. Dawud News Manager Prosalina Radio jl. Karimata 98 Jember telp. 0331-330715, faks. 0331-334391 Jawa Timur 68121 http//www.prosalina radio.com ____________________________________________________________________________________ Get the Yahoo! toolbar and be alerted to new email wherever you're surfing. http://new.toolbar.yahoo.com/toolbar/features/mail/index.php
