Henk Ngantung, Gubernur DKI yang "Terlupakan"
  http://www.kompas.com/kompas-cetak/0606/09/metro/2713506.htm
  Iwan Santosa 
   
  Bulan Juni selalu dikaitkan dengan ulang tahun Jakarta. Di luar segala 
persiapan merayakan HUT ke-479 Jakarta, ada baiknya kita menengok nasib 
keluarga salah satu mantan Gubernur DKI Jakarta. 
  Dialah Henk Ngantung yang memimpin Ibu Kota tahun 1964-1965 yang hingga akhir 
hayatnya tinggal di rumah kecil di gang sempit Cawang, Jakarta Timur. 
  Henk Ngantung tidak sekadar tinggal dalam kemiskinan hingga harus menjual 
rumah di pusat kota untuk pindah ke perkampungan. Derita Henk Ngantung terus 
menerpa karena nyaris buta oleh serangan penyakit mata dan dicap sebagai 
pengikut Partai Komunis Indonesia tanpa pernah disidang, dipenjara, apalagi 
diadili hingga akhir hayatnya bulan Desember 1991. 
  Padahal, ratusan lukisan dan sketsa Henk Ngantung memenuhi Istana Merdeka dan 
juga menjadi koleksi pribadi sejumlah pencinta seni. Karya dan gagasan kreatif 
Ngantung dapat dijumpai hingga hari ini. 
  Namun, nama besar seniman sekaligus birokrat itu tenggelam seiring 
stigmatisasi politik Orde Baru yang menjerumuskan orang-orang dekat Soekarno. 
Nyonya Evie Ngantung (63), istri Henk, masih ingat betapa karier suaminya 
mendadak berakhir akibat peristiwa G30S. 
  "Pagi-pagi di depan rumah kami di Tanah Abang II banyak RPKAD sedang 
mengepung tangsi Tjakrabirawa. Kami tidak tahu apa yang terjadi. Kehidupan kami 
selanjutnya menjadi susah hingga harus jual rumah," kata Ny Evie. 
  Meski demikian, Henk tidak patah semangat. Dia tetap menjadi seniman dan 
terus melukis. 
  Kehidupan keluarga Henk yang dikaruniai empat anak, Maya, Yeniatie, Kamang, 
dan Karno, tergantung dari lukisan yang laku dijual. Pensiun sebagai Gubernur 
DKI baru diterima tahun 1972 dengan jumlah Rp 850.000. 
  Ketua Asosiasi Pencinta Seni Rupa Indonesia Haw Ming mengatakan, Henk 
Ngantung tidak pernah menyerah. "Hanya orang tertentu yang berani membeli 
lukisan Henk di masa Orde Baru. Dia adalah pelukis yang sangat khas. Selalu 
membuat sketsa sebelum melukis. (Sesuatu) yang jarang dilakukan pelukis zaman 
sekarang," kata Haw Ming. 
  Kesetiaan Henk melukis terus berlanjut meski dia digerogoti penyakit jantung 
dan clocoma yang membuat mata kanan buta dan mata kiri hanya berfungsi 30 
persen. Pada akhir 1980-an, dia melukis dengan wajah nyaris melekat di kanvas 
dan harus dibantu kaca pembesar. 
  Sebulan sebelum wafat, saat ia dalam keadaan sakit-sakitan, pengusaha Ciputra 
memberanikan diri mensponsori pameran pertama dan terakhir Henk. 
  "Lukisan Ibu dan Anak karya terakhir Henk. Dia melukis dengan darah, 
keringat, dan air mata karena nyaris buta sehingga wajahnya nyaris menempel di 
kanvas saat bekerja. Dia gusar karena keadaan fisiknya," kenang Evie dengan 
mata berkaca-kaca. 
  Henk dan Bundaran HI 
  Dewasa ini, generasi muda tidak mengenal siapa Henk Ngantung. 
  Padahal, jika kita melintas di pusat "demonstrasi" di Jakarta, Bundaran Hotel 
Indonesia (HI), di sana terpancang Tugu Selamat Datang karya Henk Ngantung. 
Tugu yang menampilkan Sepasang pria dan wanita melambaikan tangan menyambut 
orang datang ke Jakarta adalah salah satu hasil guratan sketsa Henk yang 
ditinggalkan bagi kita. 
  Henk Ngantung adalah Gubernur yang serba bisa: pelukis, mengatur taman kota, 
sahabat Presiden Soekarno, hingga akhirnya memimpin DKI Jakarta. Berbeda dengan 
para Gubernur DKI di masa Orde Baru yang serba berkecukupan dan mewah, Henk 
Ngantung dan keluarga adalah sebuah ironi sejarah. Selamat Ulang Tahun 
Jakarta....

       
---------------------------------
Need a vacation? Get great deals to amazing places on Yahoo! Travel. 

Kirim email ke