"Takut" dan "segan" adalah dua kata yang mempunyai pengertian yang kadangkala 
disalahartikan orang. Dikiranya kedua kata tsb mempunyai pengertian yg sama. 
Tentu saja tidak sama. Contoh kalimat:

"Soeharto adalah orang yang paling ditakuti di masa pemerintahaannya." dengan

"Abudrrachman Wahid alias Gus Dur adalah tokoh yang disegani."

Orang ditakuti dihormati karena orang takut kepadanya. Biasanya karena ketika 
mempunyai kekuasaan ia adalah seorang yg diktatoris dan otoriter. ketika 
kekuasaan sudah tidak ada di tangannya, biasanya orang sudah tidak menaruh 
hormat kepadanya. Bahkan sebaliknya menjadi berani mencerca habis2-an. Orang2 
selama kekuasaannya tukang cari muka, penjilat, dan sejenisnya, pun akan rame2 
meninggalkannya.

Sebaliknya dgn orang yg disegani. Umumnya orang menaruh hormat kepadanya bukan 
karena power, kekuasaan yg ada di tangannya, tetapi karena sifat kepimpinannya 
yg dianggap demokratis dan bajaksana. Sekalipun dia sudah tidak mempunyai 
kekuasaan atau kedudukan apa2 lagi, banyak orang masih menaruh respek 
kepadanya. Begitu juga dgn para pengikutnya akan tetap setia mendampinginya.

Sebagai contoh konkrit, barangkali bisa kita bandingkan sosok Soeharto sebagai 
orang yg paling ditakuti di masa kekuasaannya, tetapi begitu kekuasaan yg 
digenggamnya selama 30 tahun lepas-runtuh. Publiknya rame2 mencercanya secara 
terang2-an. Sesuatu yg jika dilakukan di masa kekuasaannya, bisa membuat banyak 
manusia dipenjara begitu saja, atau tiba2 hilang. Padahal bukan ulah David 
Copperfield. Rasa hormat kepadanya hampir seluruhnya ditanggalkan. Karena 
selama dia berkuasa rasa hormat dan patuh itu hanya bersifat semu. Semata 
karena takut dipenjara, dihukum tanpa proses hukum yg seharusnya, atau tiba2 
menjadi orang hilang, yg ujung2-nya bisa kehilangan nyawa begitu saja.

Berbeda dgn Gus Dur. Walaupun dia mempunyai begitu banyak kekuarangan (fisik) 
dan sering berperilaku kontroversial, publik masih banyak menaruh respek 
kepadanya. Sekalipun dia sudah (lama) tidak menjadi presiden. 

Bahkan di luar negeri pun Gus Dur tetap dihormati.

Terutama ketika dia ke RRT. 

Ternyata Gus Dur sangat tersohor dan dihormati di RRT sekalipun dia sudah bukan 
siapa2 lagi.

Kalau Gus Dur datang ke sana, sekalipun, tentu saja sifatnya pribadi, 
pemerintah RRT ikut sibuk memberi pelayanan. Pelayanan tsb bukan hanya 
dipercayakan kepada Kedubes Indonesia di sana, tetapi pemerintah RRT turut 
langsung menanganinya. Setiap saat pemerintah RRC selalu memantau, apa 
kebutuhan Gus Dur, apa sudah ada yang ngantar, apa pelayanan di hotel sudah 
bagus, apa ada yang kurang, dan sebagainya.

Sebagaimana dituturkan oleh staf Kedubes Indonesia di RRT, Komeng, kepada 
Mahmud MD, anggota DPR dari FKB. Katanya,  " Pemerintah RRC selalu melayani Gus 
Dur secara istimewa karena dia dianggap sebagai pemimpin Indonesia yang tegas 
melindungi warga keturunan China di Indonesia yang dulunya -sejak prahara G 30 
S/PKI tahun 1965- selalu didiskriminasi. 

Pemerintah dan rakyat RRC berterima kasih karena saat menjadi presiden, Gus Dur 
bukan hanya melanjutkan pencairan hubungan diplomatik, tetapi juga merajut 
hubungan ekonomi, perdagangan, kebudayaan, dan sebagainya. Di Indonesia 
sendiri, Gus Dur membuat kebijakan agar tidak ada lagi KTP orang-orang China 
yang diberi tanda khusus "warga keturunan." Gus Dur juga menghapus keharusan 
"tak resmi" bahwa nama China harus diganti dengan nama Indonesia seperti Liem 
harus menjadi Salim, Lie menjadi Ali, Kwan menjadi Ikhwan. 

Bahkan, Gus Dur bukan hanya membolehkan, tapi mendorong warga China merayakan 
Imlek dan membolehkan tari Liang Liong atau Barongsai dipentaskan secara 
terbuka. Pada masa kepresidenan Gus Dur pula, mulai diperintahkan penghapusan 
Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SKBRI) yang harus dimiliki oleh 
warga negara keturunan China sebab mereka lahir, dibesarkan, dan hidup di 
Indonesia yang harus diperlakukan sama. Karena itulah, kalau berkunjung ke RRC, 
Gus Dur selalu diperlakukan sebagai tamu agung. "








Kirim email ke